KUPANG, https://sinodegmitkolportase.or.id, – Era administrasi gereja yang terfragmentasi dan risiko kehilangan arsip fisik di lingkup Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) kini mulai ditinggalkan. Melalui peluncuran aplikasi Synesis.id, Majelis Sinode GMIT mengambil langkah besar dalam mengintegrasikan seluruh tata kelola pelayanan ke dalam satu ekosistem digital.
Langkah ini diambil menyusul adanya fakta ketertinggalan gereja dalam mengadopsi teknologi digital. Franky Baiyang Weni, narasumber dalam pelatihan yang digelar di Aula Kantor Sinode GMIT, Senin (11/5), membedah tantangan tersebut secara mendalam.
“Faktanya data gereja masih tersebar di banyak tempat dan belum terintegrasi. Administrasi yang belum terpusat dan pelaporan manual yang memakan waktu sering kali menghambat pengambilan keputusan strategis,” ungkap Franky. Menurutnya, kesenjangan ini tidak hanya menurunkan kualitas layanan jemaat tetapi juga mengancam ketahanan operasional gereja di masa depan.
Menjawab tantangan tersebut, aplikasi Synesis hadir sebagai platform digital resmi untuk manajemen program pelayanan tahunan dan anggaran pendapatan belanja secara real-time. Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Zimrat M.S. Karmany, menegaskan bahwa aplikasi ini menjadi alat bantu vital dalam pengisian format evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product).
"Jika sebelumnya sistem kerja kita masih manual, kini aplikasi ini mengintegrasikan seluruh proses mulai dari perencanaan hingga monitoring dan evaluasi secara transparan dan akuntabel," jelas Pdt. Zimrat.
Kolaborasi Strategis dengan Acode Team Dalam mewujudkan visi "Gereja Digital" ini, Majelis Sinode GMIT berkolaborasi dengan Acode Team, pengembang teknologi yang telah mengantongi sertifikasi internasional dari Cisco dan Google. Selain Synesis.id, Acode Team juga dikenal melalui pengembangan aplikasi Ekklesia, sebuah sistem informasi manajemen gereja yang mengedepankan keamanan data dan kemudahan akses.
Pelatihan yang diikuti oleh Majelis Sinode Harian, Badan Pembantu Pelayanan (BPP), dan Unit Pembantu Pelayanan (UPP) ini memfokuskan pada penginputan data program dan anggaran agar pelayanan menjadi lebih terukur berbasis data.
Penerapan teknologi ini bukan tanpa filosofi. Sebagaimana motto yang diusung Acode Team, kehadiran sistem digital ini dipercaya tidak akan menggeser esensi spiritualitas gereja. "Teknologi bukan menggantikan pelayanan, tetapi membantu pelayanan menjadi lebih tertata, cepat, dan berdampak," pungkas pernyataan resmi tim pengembang.
Melalui Synesis.id, GMIT kini memiliki fondasi kuat untuk menghadirkan pelayanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan jemaat di era Society 5.0
Pelatihan yang diikuti oleh Majelis Sinode Harian, Badan Pembantu Pelayanan (BPP), dan Unit Pembantu Pelayanan (UPP) ini memfokuskan pada penginputan data program dan anggaran agar pelayanan menjadi lebih terukur berbasis data.
Penerapan teknologi ini bukan tanpa filosofi. Sebagaimana motto yang diusung Acode Team, kehadiran sistem digital ini dipercaya tidak akan menggeser esensi spiritualitas gereja. "Teknologi bukan menggantikan pelayanan, tetapi membantu pelayanan menjadi lebih tertata, cepat, dan berdampak," pungkas pernyataan resmi tim pengembang.
Melalui Synesis.id, GMIT kini memiliki fondasi kuat untuk menghadirkan pelayanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan jemaat di era Society 5.0