Menurut
Eka Damaputera kalau kita mau menghayati masa Adven yang sebenarnya ikutilah
resep Agustinus, seorang bapa gereja. Agustinus mengatakan bahwa menantikan
kedatangan Tuhan, kita seolah-olah seperti seorang yang sementara tenggelam
dalam air. Ia meronta-ronta, tangannya menggapai-gapai, kita berusaha
mengangkat kepala dari dalam air. Untuk apa? Untuk mencari udara! Untuk bisa
bernafas. Sebab orang itu tahu bahwa salah satu cara untuk bertahan hidup harus
memperoleh udara. Oleh karena itu, menanti kedatangan Tuhan seperti orang
tenggelam dan berusaha mencari udara untuk mempertahankan hidup.
Orang
Israel mengalami situasi politik sangat gawat, tentara raja Sanherib dan Asyur
mengepung Yerusalem. Panglimanya menyerukan kepada Raja Hizkia agar menyerah
saja (bdk. Yesaya 36 ; 2 Raja-raja 18:13-37). Sia-sia melawan dan melakukan
berbagai kebijakan politik untuk menghindar dari kondisi yang demikian. Apalagi
mencari perlindungan kepada kerajaan lain. Namun untuk menjaga keamanan, lobi-lobi
politik dilakukan oleh Hizkia. Ia mau menjadi hamba kepada Raja Azyur dengan
memikul beban apa pun yang ditimpakan kepadanya. Hizkia memberikan kepada Asyur
tiga ratus talenta perak dan tiga ratus talenta emas. Semua diambil dari rumah
Tuhan dan perbendaharaan Istana.
Kemudian
dalam negeri sendiri situasi sosial, politik, dan agama mengalami ketidakstabilan. Terjadi ketidakadilan sosial, penindasan
orang miskin dan korupsi. Para nabi yang memberikan nubuat
kepada orang-orang yang belum tahu kebenaran dengan bayaran, atau bahkan
menyesuaikan isi pesan kenabiannya sesuai dengan suasana atau kondisi dari
orang-orang tersebut.
Nabi
Mikha, sezaman dengan Nabi Yesaya, abad ke 8 SM. Melihat kondisi yang demikian, ia merasa
kasihan pada penderitaan
orang-orang miskin. Mikha mengutuk pemimpin dan para bangsawan yang
melakukan tindakan dan praktik-praktik yang tidak pantas terhadap rakyat biasa.
Melihat
kehancuran dan krisis yang dialami, pengharapan mesianis sangat aktual dan
penting bagi Yehuda dan sering dipertanyakan maknanya. Nabi Mikha menjawab
pertanyaan tersebut. Jawabannya terlihat pada ayat 1-4
Akan
muncul seorang raja baru yang akan memerintah Israel (ay. 1), dan ia akan lahir
di suatu kota yang hampir tak layak diperhitungkan di tengah-tengah kota-kota
Yehuda. Kota kelahiran sang raja di Bethlehem. Kedatangan sang mesias berbeda
dengan harapan orang Israel pada umumnya. Menariknya kehadiran mesias dari
sebuah kota kecil yakni Benyamin (Benyamin di sini identitasnya dengan Efrata)
adalah hal baru, di mana menggeser kedudukan Yerusalem sebagai tempat asal
kedatangan mesias. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ini bukan dari
keturunan-keturunan utama Daud, tetapi dari kaum Efrata yang tidak berarti.
Namun sesuai dengan tradisi lama, maka disebut dari keturunan Daud. Daud
merupakan lambang kebesaran dan kejayaan Israel. Mesias dalam Kitab Mikha ini
sama dengan Imanuel dalam Kitab Yesaya karena Mikha hadir sezaman dengan Yesaya.
Mikha melihat pada kekuasaan yang sang mesias tidak terbatas pada Israel tetapi
sampai kepada seluruh dunia.
Diungkapkan
tentang waktu permulaan dari raja yang baru, yaitu sejak purbakala, yang
berarti nenek moyang dari mesias ini sudah ada sejak kekekalan, masa lampau
sudah ada. Penafsiran nubuatan ini seyogiyanya dimulai dari ungkapan “Ia
membiarkan mereka“ (ay. 2). Penafsirannya dapat dibandingkan dengan Mikha 4, di
mana Tuhan menyerahkan umat-Nya ke tangan musuh-musuh-Nya. Yerusalem menjadi
reruntuhan, raja dengan semua penasihatnya menghilang, rakyat dipaksa untuk
digiring ke Babel, Putri Sion disergap kesakitan seperti perempuan yang
melahirkan (Mi. 4:9-10, 14).
Namun
krisis yang mengerikan ini akan berakhir, bila perempuan yang akan melahirkan
telah bersalin, dan saudaranya telah kembali kepada Israel, artinya telah
pulang dari pembuangan (ay. 3). Berkaitan dengan penyelamatan Sion tersebut,
maka kerajaan yang berpusat di kota itu pun akan dipulihkan kembali. Rajanya
akan dibangkitkan oleh Tuhan sendiri yang tidak lain adalah dari Bethlehem,
tempat asal Daud. Permulaan raja yang dibangkitkan Tuhan tersebut sudah ada
jauh di masa lampau atau sejak purbakala.
Pemikiran
Nabi Mikha tentang mesias terkandung ide bahwa raja yang akan datang tersebut
sudah ada sejak sebelum dunia dijadikan (kekekalan masa lampau), dan hal ini
adalah menunjuk pada eksistensi mesias itu sendiri adalah Allah. Selain ia
sebagai penguasa, Mikha mengungkapkan bahwa ia juga sebagai gembala bagi
Israel. Mesias ini seorang keturunan Daud, yang memiliki kekuasaan yang tidak
terbatas, dengan suasana damai sejahtera.
Ayat
5-8, tentang pemulihan Israel. Walaupun mesias berasal dari daerah yang tidak
dipandang namun kehadirannya akan menggembalakan Israel. Musuh-musuh besar
seperti Asyur akan ditaklukkan (ay. 5-6). Maka pada waktu itu, sisa Israel
dipembungan akan seperti embun yang membawa kesegaran, kesejukan, dan tidak
lagi mengharapkan kepada kekuatan manusia. Israel akan menjadi sebuah kekuatan
baru dari segi politik dan keamanan (ay. 7-8).
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Pertama,
di minggu Adven ketiga ini, firman Tuhan
mengingatkan kita bahwa dalam persoalan kehidupan yang kita alami ada
pengharapan. Tuhan akan hadir memulihkan kehidupan ini. Ia sudah ada dan akan
datang. Ia ada bersama kita dalam segala pergumulan kita. Mungkin kita lelah
dengan beban pergumulan hidup yang tak kunjung berakhir dan hampir putus asa,
atau kita telah putus asa, sehingga pengharapan kepada Tuhan telah sirna. Di
minggu-minggu Adven ini, kita diingatkan bahwa kita seperti orang pelari
maraton, belum sampai finis. Walaupun kita
merasa sudah tidak kuat lagi untuk terus berlari. Ingin berhenti di tengah
jalan. Terlalu lemah. Terlalu capek. Kita merasa terlalu kecil memikul beban
kehidupan yang terlalu besar dan terlalu berat. Terkadang kita berteriak
seperti Pemazmur, “Berapa lama lagi, ya Tuhan, berapa lama lagi?” (Maz. 13).
Namun ingat, jangan putus asa. Jika kita putus asa, bangkitlah! hidup kita.
Adven Ia sudah ada dan akan segera datang untuk memulihkan hidup kita dan
menjadikan kita sebagai pemenang. Terus berharap kepada-Nya di minggu-minggu
Adven ini.
Kedua,
kita diingatkan oleh firman Tuhan di minggu Adven ketiga, bahwa Tuhan datang
mengangkat memulihkan dan mengangkat yang lemah, yang tak terpandang oleh dunia
ini, tidak dilirik oleh dunia, yang dipinggirkan, tidak ada tempat dalam gereja.
Ia datang untuk meninggikan mereka yang lemah dan memuliakan mereka
bersama-sama dengan Dia. Dia datang bukan di Yerusalem menemui para pemuka
agama, berjubah dan penghafal ayat suci, namun di Bethlehem sehingga
orang-orang kecil seperti para gembala, Anda dan saya bisa berjumpa langsung
dengan-Nya.
Bethlehem
dan sebuah kandang domba tempat yang tidak diharapkan dan dibayangkan oleh para
pemuka agama. Namun peristiwa itu telah terjadi dua ribu tahun yang silam.
Namun kini Ia akan datang kembali, sebagai Raja kita. Bagi orang-orang kecil,
orang-orang lemah, mari kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya.
Mari kita memuliakan Raja kita yang memulihkan Anda dan saya. Jangan merasa
minder atau kecil dengan mereka yang kaya, sebab Dia datang untuk kita. Dia
menjadi gembala bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Ketiga,
di minggu Adven ketiga ini, kita diingatkan agar jangan mengandalkan kekuatan
manusia. Jangan mengandalkan jagoan politikmu yang telah terpilih jadi kepala
daerah. Dalam situasi krisis yang dialami oleh orang Israel Nabi Mikha mengingatkan
Hizkia agar tidak berharap kepada raja di sekitarnya, apalagi Mesir dan Asyur kerajaan
yang besar dengan pasukan yang kuat, tetapi berharap kepada Tuhan. Manusia itu
terbatas menolong kita, namun Tuhan tidak terbatas.
Si
jagoanmu banyak janji sebelum ia terpilih, namun setelah terpilih belum tentu
dia mengingatmu. Namun Tuhan yang sudah ada dan akan datang kembali, Dia
berjanji untuk datang kembali menolong kita karena dia mengingat kita. Anda dan
saya adalah anak-anak-Nya. Kita adalah umat kepunyaan-Nya. Mari kita mengandalkan
Tuhan.
Keempat, di minggu Adven ketiga ini, kita menanti Tuhan yang tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia adalah Tuhan pemegang roda waktu, kuasa-Nya tidak bisa dibatasi. Dia sudah ada sebelum dunia dijadikan. Kekuasaan-Nya tak terbatas. Mari kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya. Bagaimana perasaan kita menyambut kedatangan-Nya? Bagaimana persiapan kita? Amin.