Sahabat
Kristus, saya pernah baca pada satu tulisan: “ada satu unsur dalam diri manusia
yang selalu bekerja tanpa henti, memberikan instruksi tentang bagaimana manusia
harus berbicara dan bersikap. Ia menjadi pusat kendali dari semua tindakan
manusia. Biasanya manusia menjadi patuh akan instruksi itu. Unsur itu adalah
hati.
Kalau
hati senang maka manusia pasti tertawa, kalau hati sedih manusia menangis,
kalau hati dikecewakan maka dia marah. Hati tidak dapat berbohong tapi ia akan
memerintah mulut untuk berbohong; hati tidak bisa membunuh tapi akan menyuruh
tangan untuk membunuh; hati tidak bisa menendang tapi akan menyuruh kaki untuk
menendang.
Hati seperti
perangkat lunak dalam computer otak manusia yang dapat memprogramkan manusia
berbuat seturut kehendaknya. Berikut ini beberapa ayat Alkitab berbicara
tentang hati manusia: “Seperti air mencerminkan wajah, demikian kehidupan
mencerminkan hati” (Amsal 27:19); “Orang baik akan mengeluarkan barang yang
baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan
barang yang jahat dari perbendaharaan hatinya yang baik” (Lukas 6:45); “Jagalah
hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal
4:23).
Ayat-ayat
ini menunjukan bahwa begitu berkuasanya hati sehingga Pengamsal mengingatkan
manusia untuk menjaga hatinya tetap bersih. Hati seperti sumber mata air, jika
sumbernya kotor maka kotorlah airnya, jika sumbernya bersih maka bersihlah
airnya.
Sahabat
Kristus, teks bacaan Alkitab yang kita renungkan berbunyi demikian:
“Tinggi
hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan” (Amsal
18:12 (TB 1 dan TB 2). Sedangkan Bahasa Indonesia masa kini berbunyi “Orang
yang angkuh akan jatuh, orang yang rendah hati akan dihormati.” Bagian firman
TUHAN ini mengingatkan kita bahwa sikap hati sangat penting dalam hidup
manusia. Dari sudut pandang psikologi, tinggi hati/sombong/angkuh dan
kerendahan hati adalah dua sikap hati yang saling berlawanan namun penting dalam
perkembangan pribadi dan relasi sosial. Kesobongan/angkuh/congkak/tinggi hati adalah suatu persaan bangga atas
pencapaian dan kulitas diri yang dianggap baik.
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, kata ‘sombong’ berarti menghargai diri secara
berlebihan. Arti kata ini terkadang dibenarkan sebagai suatu kebutuhan diri,
sebab orang menganggap, “kalau bukan kita, siapa yang akan menghargai kita?”
Dalam
batas yang sehat …. kesombongan (menghargai diri sendiri) dapat memotivasi seseorang
untuk mencapai tujuan dan meningkatkan rasa percaya diri. Namun ketika kesombongan menjadi
berlebihan maka bisa berubah menjadi arogansi atau narsis, yang menghambat
pertumbuhan pribadi dan menimbulkan
konflik dalam relasi sosial.
Amsal
13:10 mengatakan “keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran.” Ayat ini ada
benarnya, sebab tinggi hati membuat seseorang sulit untuk mengalah. Mengapa, karena
mengalah selalu diidentikkan dengan kalah.
Selanjutnya
kesombongan dapat menjadikan manusia merasa superior (paling berkuasa), tidak
mau mendengar nasihat (karena selalu merasa benar ), menolak arahan/teguran
(apalagi yang bicara seorang yang tidak diangapnya baik karena status
sosial/jabatan/pendidikan, tidak se-frekwensi ), merasa diri paling benar/paling tahu, tidak
menghargai (memandang orang lain seperti anak kecil/anak kemarin yang tidak tahu
apa-apa), tidak peduli (mau susah mau senang dia berespon biasa saja ), dan suka
merendahkan orang lain (sapa dia?). Bahkan kadang kesombongan/tinggi hati
membuat manusia menduakan TUHAN atau mengabaikan TUHAN. Kita di ingatkan dengan
kisah kapal Titanic dan kisah sebelum kebakaran di New York.
Alkitab
bersaksi bahwa kesombongan adalah kekejian bagi TUHAN. Amsal 16:5 berkata: “Setiap
orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput
dari hukuman.” Bahkan dalam Amsal 6 : 16 dikatakan bahwa ada tujuh perkara
yang dibenci TUHAN dan tak dapat dibiarkannya. Dari tujuh perkara
ini itu, perkara pertama yang di sebutkan adalah ‘mata sombong.’ apalagi
kata-kata dan sikap/tindakan sombong, hal itu tidak akan luput dari
hukuman.
Ketika
Firaun merasa tinggi hati karena dapat mengalahkan Israrel; TUHAN menghukumnya
di tengah laut Teberau. Ketika Daud dengan sombongnya menggunakan kuasa untuk
membunuh Uria, TUHAN menghukumnya dengan kematian anak Batsyeba. Ketika Goliat
dengan sombongnya menghina Allah Israel, TUHAN mempermalukannya hanya dengan
satu umban di tangan Daud. Ketika Uzia merasa berhasil dalam banyak hal, ia
jadi sombong dan TUHAN menghacurkannya, dan masih banyak contoh lain.
Dalam
pengajaran-Nya, Tuhan Yesus memperingatkan para pengikut-Nya: “setiap orang
yang meninggikan diri/sombong akan direndahkan” (Matius 23:12; Lukas 14:11).
Sedangkan
Kerendahan hati menurut psikologi, adalah kemampuan untuk mengenali batasan dan kekurangan
diri sendiri. Ini bukan berarti merendahkan diri sendiri, tetapi lebih kepada
keterbukaan untuk belajar dan menerima koreksi, menghargai orang lain, peka
terhadap perasaan dan perspektif orang lain, mengakui kelebihan orang lain, sehingga
memungkinkan seseorang untuk lebih mudah bekerja sama dengan orang lain dan
menciptakan hubungan yang lebih harmonis,
Orang
rendah hati akan selalu mengakui peran TUHAN dalam hidupnya. Ia tidak busung
dada dan berkata “Ko beta na, mau sapa lai,” atau dalam Bahsaa Rote “ te
se de, te au de.“
Bacaan
tadi berkata “……… kerendahan hati mendahului kehormatan.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia
masa kini menggunakan kalimat “….. orang yang rendah hati akan dihormati”
Penulis
Kitab Amsal mencertiakan pengalaman imannya. Dalam relasi bersama dengan orang
lain, ia menemukan bahwa orang yang rendah hati akan mendapatkan kehormatan.
Alkitab memberi
kita banyak kesaksian:
Bil 12 :
3 : “Musa lebih dari semua orang yang hidup karena sikap rendah hatinya”
I Sam.
22 : 28 “Orang yang rendah hati akan diselamatkan TUHAN”
Ams 3 :
34 “Orang rendah hati diberkati”
Ams 11 :
2 “Orang rendah hati itu bijaksana”
Ams 28 :
12 : “Rendah hati dihormati”
Yak 4 :
6 “Tuhan mengasihi orang yang rendah hati dan menentang orang-orang sombong”
Gal 5 :
23 “Orang yang rendah hati sanggup menguasai diri”
KISah 2
: 46 “Kerendahan hati membuat manusia
dapat hidup bersama dengan semua orang” (Jemaat mula-mula).
Mzm.
25:9 “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia
mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.”
Kerendahan
hati berhubungan dengan berkat. Ada berkat yang akan didapatkan oleh orang-orang
yang rendah hati. Akan tetapi sikap rendah hati dari orang yang diberkati harus
diletakan dalam relasi dengan TUHAN. Kita tidak hanya diberkati tapi juga
memberkati. Mari kita belajar untuk menjadi orang yang rendah hati dan bukan
lagi orang yang sombong….. sebab kesombongan bukanlah kehendak TUHAN, dan akan
mendatangkan kehancuran.
Sahabat
Kristus.
Hospitality
is Priority
adalah semboyan pelayanan kita di ‘Rumah Bersama’ Kantor Sinode GMIT, kiranya
tidak hanya menjadi tulisan yang dibaca oleh orang lain, tapi tidak dapat
dirasakan dan nikmati oleh mereka yang kita layani; Ketika pelayanan kita tanpa
sapaan yang lembut dan ramah, tanpa senyum yang tulus; ketika dalam pelayanan
kita akan menjadi sombong dan berkata ini karena beta, untung ko beta;
Saya berkata
begini karena biasanya, orang yang kita sapa wajahnya masam tanpa ekspresi maka
sering orang itu di cap ‘manusia sombong’. Karena itu mari menjadikan hospitality
is priority supaya di rasakkan dan dialami oleh setiap orang datang
mengunjungi ‘rumah bersama’ dengan berbagai keperluan mereka.
Ingatlah
bahwa “orang yang rendah hati akan tinggikan TUHAN, dan ketika TUHAN meningginggikan
seseorang, tidak ada siapa pun dan apapun yang dapat merendahkannya. Amin