KUPANG, https://www.sinodegmitkolportase.or.id, – Badan Pembantu Pelayanan Sinode Berbadan Hukum Negara (BP2S-BHN) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) kini bertransformasi menjadi pilar vital dalam penggerak kemandirian umat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tidak sekadar menjalankan pelayanan karitatif, jaringan lembaga di bawah naungan GMIT ini telah membuktikan peran strategisnya dalam bidang kesehatan, hukum, ekonomi, hingga pelestarian budaya.

Hal tersebut mengemuka dalam laporan pelayanan tahun 2025 yang disampaikan pada Persidangan Majelis Sinode GMIT, Selasa (10/2/2026). Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, menegaskan bahwa integrasi program yang terukur telah membawa gereja hadir langsung di tengah pergumulan nyata warga.

“Secara keseluruhan, sistem BP2S-BHN ini telah menjadi 'mesin' yang memastikan pelayanan gereja tetap relevan di tengah tantangan zaman, memberikan dampak nyata yang dapat diukur dari peningkatan aset, jumlah penerima manfaat, hingga jangkauan wilayah pelayanan yang semakin luas,” ujar Pdt. Saneb.

BP2S-BHN mengelola berbagai unit dengan fokus spesifik yang saling memperkuat ekosistem pelayanan: Pemberdayaan Desa: Yayasan Tanaoba Lais Manekat (TLM) pada tahun 2025 telah melayani 46 pemerintah desa di wilayah Rote Ndao, Alor, Kupang, dan TTS guna meningkatkan kualitas kesehatan ibu-anak serta kepemimpinan komunitas. Kemandirian Finansial: Yayasan Alfa Omega (YAO) mencatatkan penerimaan sebesar Rp 7,25 miliar pada awal 2026 melalui unit usaha strategis, termasuk peternakan ayam pedaging 8.000 ekor dan program "Dapur Makan Bergizi Gratis" bagi 2.730 siswa. Budaya dan Literasi: Unit Bahasa dan Budaya (UBB) melakukan penerjemahan Alkitab ke dalam 70 bahasa daerah serta memelopori program pendidikan berbasis bahasa ibu bagi siswa sekolah GMIT.

Kesehatan dan Hukum: Rumah Harapan serta Yayasan Abdi Kasih (YAK) fokus pada penanggulangan gizi buruk di Soe, sementara YLBH Abdi Dana memberikan advokasi dan bantuan hukum bagi jemaat.

Di sektor ekonomi, GMIT memperkuat rumah tangga jemaat melalui koperasi yang akuntabel. KSP Citra Hidup Tribuana fokus pada literasi keuangan UMKM, sedangkan Kopsen Kasih Sejahtera Utama (Kasema) tercatat memiliki aset sebesar Rp 4,5 miliar dengan 467 anggota hingga akhir 2025.

Merespons dinamika di lapangan, Ketua Majelis Klasis Alor Barat Daya, Pdt. Simon Petrus Amung, mengusulkan penguatan efisiensi melalui pemberian kewenangan operasional bagi pengelola aset di Kebun Loli.

Ia juga menekankan pentingnya respons gereja terhadap isu sosial di wilayah Alor. "Perlu pembangunan atau penetapan homebase Rumah Harapan di Alor sebagai respons gerejawi atas tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta pembangunan jejaring kemitraan untuk menghadirkan minimal satu dapur makan bergizi gratis di Alor," tegas Pdt. Simon.

Persidangan tersebut menegaskan perlunya transformasi dari subsidi ke mandiri, di mana unit pelayanan mampu mengelola dana secara profesional. Kedua, kemitraan strategis, yang melibatkan kolaborasi kuat dengan pemerintah daerah, lembaga internasional, maupun sinergi internal antar-lembaga GMIT. ***