KUPANG, https://sinodegmitkolportase.or.id, – Ketua Sinode Gereja
Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Samuel B. Pandie, S.Th, mengimbau seluruh
jemaat untuk menutup tahun 2025 dengan sikap iman yang matang dan kewaspadaan
tinggi. Hal ini menyusul potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda wilayah
Nusa Tenggara Timur (NTT) pada penghujung tahun.
Pdt. Samuel mengingatkan
masyarakat untuk mewaspadai ancaman hujan lebat, angin kencang, banjir, tanah
longsor, hingga gelombang tinggi. Ia menekankan bahwa keselamatan keluarga
harus menjadi prioritas utama di tengah perayaan pergantian tahun.
“Damai itu rohani, tetapi damai
juga membutuhkan persiapan. Karena itu, mari kita merayakan akhir tahun dengan
iman yang hangat dan akal sehat yang tajam,” ujar Pdt. Samuel, Selasa
(30/12/2025).
Jemaat diminta untuk aktif
memantau informasi cuaca, membatasi perjalanan yang tidak mendesak, serta
memastikan kondisi kendaraan tetap laik jalan. Bagi warga yang tinggal di
daerah rawan bencana, diharapkan segera menyiapkan langkah antisipasi seperti mengamankan
dokumen penting dan memastikan saluran air berfungsi dengan baik.
Selain faktor alam, Ketua Sinode
GMIT juga menyoroti pentingnya menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
(Kamtibmas). Beliau meminta umat untuk menghindari kegiatan yang dapat memicu
gangguan keamanan atau risiko kesehatan.
“Hindari konsumsi minuman keras
berlebihan, jauhi petasan yang membahayakan, dan mari bijak menggunakan
bunyi-bunyian seperti terompet. Kegembiraan harus seimbang dengan penghormatan
kepada sesama, terutama orang sakit, bayi, dan lansia,” tegasnya.
Ia juga memperingatkan jemaat
agar tidak mudah terpancing oleh provokasi dan penyebaran berita bohong (hoaks)
di media sosial yang dapat merusak kedamaian. Menurutnya, kedamaian lahir dari
kedewasaan dalam menyikapi informasi. “Damai tidak lahir dari viral, damai
lahir dari kedewasaan,” tambahnya.
Sebagai penutup, Pdt. Samuel
menegaskan bahwa iman harus diwujudkan melalui aksi nyata saling menjaga,
terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Gereja dipanggil
untuk menjadi sumber ketenangan dan bantuan bagi mereka yang membutuhkan di
tengah situasi sulit.
“Mari jadikan akhir tahun ini
sebagai momen memperbarui komitmen: lebih peka pada sesama, lebih cepat
menolong, dan lebih ringan berbagi. Jika ada yang kesulitan, mari hadir. Jika
ada yang takut, mari menenangkan,” tuturnya.
Pdt. Samuel mengajak seluruh umat
untuk memasuki tahun 2026 dengan semangat doa dan kasih yang hidup.
“Selamat menutup tahun 2025. Mari
masuk tahun 2026 dengan doa, kewaspadaan, dan kasih yang hidup. Tuhan
memberkati,” tutupnya. ***