ALOR TENGAH SELATAN, https//:sinodegmitkolportase.or.id, – Suara denting Juk (ukulele) hasil karya mandiri warga jemaat membahana di Gereja GMIT Imanuel Subo Tungma, Klasis Alor Tengah Selatan, pada Kamis (19/03/2026). Penampilan bakat anak-anak ini menjadi momen krusial saat tim Compassion melakukan survei terakhir untuk menjajaki kerja sama kemitraan perlindungan anak (PPA) di wilayah tersebut.

Kehadiran tim Compassion yang terdiri dari Ibu Yanti, Bapak Divy, dan Bapak Meldi disambut hangat oleh pemerintah desa dan tokoh agama setempat. Kepala Desa Subo, Asianus Bekasah, menegaskan bahwa pemerintah desa memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Menurutnya, anak-anak bukan sekadar anggota gereja, melainkan aset desa yang akan melanjutkan tongkat estafet pembangunan.

"Pemerintah sangat mendukung kegiatan yang membentuk karakter, iman, dan masa depan anak-anak kita. Ini adalah langkah nyata menghindarkan generasi muda dari pengaruh negatif serta mengembangkan kreativitas mereka," ujar Asianus.

Dalam pertemuan tersebut, tim Compassion menekankan bahwa kemitraan ini bukan sekadar bantuan fisik. Compassion membawa misi besar untuk "Membebaskan anak-anak dari kemiskinan dalam nama Yesus Kristus." Namun, untuk mencapai visi tersebut, pihak gereja dituntut untuk: Menyediakan infrastruktur penunjang yang memadai; Mewujudkan kawasan gereja yang ramah anak; Menjaga transparansi kerja dan komitmen pelayanan yang kuat.

Senada dengan hal tersebut, Pdt. Demes Asone menegaskan bahwa ada atau tidak adanya bantuan dari PPA Compassion, pelayanan anak harus tetap menjadi prioritas utama gereja.

"Kita dipanggil untuk menghadirkan Allah yang setia melalui perhatian, kesabaran, dan kesetiaan mendampingi anak-anak. Saya percaya, ketika satu anak disentuh dengan kasih Tuhan, maka satu masa depan dipulihkan. Jika banyak anak pulih, maka gereja dan bangsa akan mengalami perubahan," ungkap Pdt. Demes dengan haru.

Secara demografis, Jemaat GMIT Imanuel Subo memiliki 413 jiwa dengan jumlah anak mencapai 135 orang. Meskipun rata-rata kondisi ekonomi jemaat berada di kelas menengah ke bawah, semangat untuk memberdayakan anak sangat tinggi. Hal ini terbukti dari kreativitas tiap rayon yang secara swadaya membuat alat musik ukulele sendiri agar anak-anak mereka dapat menyalurkan bakat musiknya.

Survei ini menjadi titik harapan baru bagi warga Subo. Jika Tuhan berkenan, kerja sama antara Compassion dan GMIT Imanuel Subo akan menjadi jembatan bagi 135 anak di sana untuk mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, dan pembinaan iman yang lebih baik. **(Kontributor: Demes Asone)