RAIJUA, https://sinodegmitkolportase.or.id, — Menjelang peringatan kesengsaraan Kristus, tujuh jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di wilayah Raijua dijadwalkan akan menggelar ibadah kolosal Jalan Salib pada Minggu, 5 April 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai perwujudan iman yang hidup, di mana umat diajak untuk mengalami kembali penderitaan Yesus Kristus melalui drama sakral yang melibatkan kolaborasi lintas jemaat di tengah alam dan budaya lokal.

Ibadah ini akan menjadi momentum bersejarah yang menyatukan tujuh jemaat dalam satu rangkaian liturgi panjang. Adapun jemaat yang berpartisipasi meliputi: Jemaat Raijua Wawa: Menampilkan pergumulan Yesus di Taman Getsemani; Jemaat Imanuel Walurede: Menggambarkan suasana Yesus di hadapan Kayafas; Jemaat Nadalinguhari Ledeke: Memerankan adegan Yesus di hadapan Pilatus; Jemaat Paulus Nadega: Menampilkan adegan pengadilan hingga pencambukan; Jemaat Pniel Bogi: Menggambarkan momen haru Yesus berjumpa dengan ibu-Nya; Jemaat Ebenhaezer Lokojuli: Menampilkan Simon orang Kirene yang membantu memikul salib serta perempuan-perempuan Sion yang menangisi Yesus; Jemaat Bukit Sion Boko: Menutup perjalanan dengan adegan krusial penyaliban di bukit Golgota.

Naskah ibadah kolosal ini disusun secara khusus oleh Pdt. Setiawan Pattipeilohy, M.Th, dengan tujuan menghadirkan Injil yang kontekstual bagi masyarakat Raijua. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah panggilan untuk bertobat.

Dalam naskahnya, Pdt. Setiawan Pattipeilohy menyampaikan pesan mendalam bagi para peserta:

"Ibadah kolosal Jalan Salib di Raijua merupakan sebuah perwujudan iman yang hidup, di mana seluruh jemaat diajak untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga mengalami kembali penderitaan Kristus dalam kebersamaan tubuh Kristus".

Beliau juga mengingatkan agar umat tidak hanya menjadi penonton pasif, melainkan melakukan refleksi diri terhadap dosa dan ketidaksetiaan yang sering kali menambah beban penderitaan Tuhan.

Kegiatan yang akan berlangsung pada awal April mendatang ini diharapkan mampu menyentuh hati setiap jemaat dan membawa perubahan hidup yang nyata. Dengan memanfaatkan latar alam dan budaya Raijua, ibadah ini bertujuan memuliakan Kristus melalui penghayatan kasih, keadilan, dan kebenaran di tanah Raijua. Melalui perenungan ini, jemaat diharapkan diperbaharui untuk hidup dalam ketaatan sejati sebagaimana Kristus yang tunduk pada kehendak Bapa hingga garis akhir. * (Kontributor: Setiawan Pattipeilohi)