KUPANG – Yayasan Alfa Omega (YAO) GMIT resmi memulai ekspansi ke sektor pangan sehat melalui panen simbolis padi organik di lahan seluas satu hektar di Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Senin (20/4). Langkah ini menandai transformasi gereja dalam mengelola aset produktif demi kemandirian ekonomi jemaat.

Proyek percontohan ini menggunakan padi varietas Ciherang yang ditanam di atas total lahan seluas 5 hektar. Dengan sistem organik murni, lahan ini diproyeksikan mampu menyuplai sekitar 2 ton beras berkualitas tinggi dalam sekali panen, dengan target dua kali masa tanam per tahun.

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, menegaskan bahwa inovasi ini merupakan jawaban konkret atas tantangan kebutuhan hidup jemaat saat ini. Ia menekankan pentingnya gereja untuk terus bergerak dinamis dalam isu-isu kerakyatan.

"Ini menjadi sebuah legacy bagi gereja ke depan. Gereja tidak boleh stagnan, harus ada inovasi dan kreativitas baru untuk menjawab kebutuhan hidup jemaat di bidang pangan dan kemandirian ekonomi," ujar Pdt. Semuel di sela-sela kegiatan panen tersebut.

Senada dengan itu, Ketua YAO GMIT, Pnt. Nitanel Pandie, menjelaskan bahwa Beras Alfa Omega GMIT tidak mengejar produksi masal, melainkan menyasar pasar spesifik yang mengutamakan kesehatan. Saat ini, produk tersebut tengah menempuh jalur legalitas formal untuk menjamin kepercayaan konsumen.

"Sejak awal, YAO berorientasi pada kualitas, bukan sekadar kuantitas. Saat ini, produk dengan merek Beras ALFA OMEGA GMIT sedang dalam proses uji standar dan sertifikasi di Surabaya," ungkap Nitanel.

Melalui pengembangan pertanian organik ini, GMIT berupaya membuktikan bahwa pelayanan gerejawi dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Acara panen simbolis ini turut dihadiri oleh Ketua Majelis Klasis Kupang Tengah, Pdt. Alfred S. Waang Sir, anggota DPRD Provinsi NTT Simson Polin, pengurus yayasan, serta para petani lokal yang terlibat langsung dalam program pemberdayaan ini.