Nagekeo-Flores, https://sinodegmitkolportase.or.id/, - Peduli terhadap korban bencana, GMIT Klasis Flores Barat menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada 21 keluarga terdampak banjir bandang di Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Sabtu, 11 Oktober 2025.

Bantuan tersebut berupa logistik dan uang tunai senilai Rp. 19.721.000.  Bantuan ini difokuskan untuk 21 keluarga korban, di mana 3 keluarga mengalami dampak berat (kehilangan rumah atau anggota keluarga) dan 18 keluarga terdampak secara ekonomi akibat rusaknya sumber air bersih dan terganggunya aktivitas rumah tangga. Dari penerima bantuan, 18 keluarga merupakan jemaat GMIT dan 3 keluarga beragama Katolik.

Ketua Majelis Klasis Flores Barat, Pdt. Mega Manggoa, menegaskan bahwa perhatian dan keberpihakan gereja pada semua korban didasarkan pada prinsip bahwa semua adalah ciptaan Tuhan yang berharga.

“Bertolong-tolongan: Ini adalah panggilan untuk tidak individualistis. Kita terpanggil untuk peka dan hadir bagi orang lain, serta secara aktif dengan memberikan bantuan untuk meringankan beban tersebut,” kata Pdt. Mega.

Sementara itu Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie menyampaikan apresiasi dan doa bagi jemaat terdampak serta Klasis Flores Barat.

"Kami sangat menghargai semangat solidaritas yang ditunjukkan oleh Klasis Flores Barat. Inilah wujud gereja yang hidup dan melayani dengan hati,” ujar Pdt. Semuel.

Ia berharap semangat ini menular ke klasis dan jemaat lain di seluruh GMIT. Pdt.  Semuel juga mengingatkan pentingnya gereja untuk terus menguatkan pelayanan kemanusiaan dan tanggap bencana di tengah perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana di Nusa Tenggara Timur.

Banjir bandang yang melanda Mauponggo terjadi pada 9 September 2025, menimbulkan kerusakan fisik yang masif, terbukti dari bertambahnya jumlah korban jiwa hingga sembilan orang dan beberapa lainnya dilaporkan hilang atau luka-luka. Dampak pada rumah meliputi puluhan unit yang rusak parah, hancur, bahkan hanyut akibat diterjang material dan batu-batu besar. Sementara itu, kerugian pada lahan berfokus pada kerusakan parah pada puluhan hektar sawah dan kebun warga, serta terputusnya infrastruktur vital seperti jembatan, ruas jalan, jaringan irigasi, dan pipa air bersih, menyebabkan wilayah terisolasi dan krisis air.

Tujuh Jemaat yang berpartisipasi dalam penggalangan dana antara lain: Jemaat Ebenhaezar Mbay, Jemaat Ebenhaezar Bajawa, Jemaat Getsemani Aimere, Jemaat Ebenhaezar Borong, Jemaat Efatha Reo, Jemaat Imanuel Ruteng, dan Jemaat Gunung Salmon Labuan Bajo. *** (Pdt. Mega Manggoa)