KUPANG – https://www.sinodegmitkolportase.or.id, Gereja Masehi
Injili di Timor (GMIT) terus mempertegas peran strategisnya dalam memajukan
kecerdasan bangsa melalui penguatan ekosistem pendidikan di wilayah Nusa
Tenggara Timur. GMIT secara konsisten mengelola jaringan pendidikan yang masif,
mulai dari ratusan sekolah dasar di bawah naungan 14 Yayasan Pendidikan Kristen
(Yapenkris) hingga lembaga pendidikan tinggi seperti UKAW Kupang, Universitas
Tribuana Alor, dan Institut Pendidikan Soe. Demikian disampaikan Sekretaris
Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi pada Persidangan Majelis Sinode GMIT, di
Aula GMIT Center Kupang, Rabu (11/2/2026).
“Langkah revitalisasi pendidikan
ini difokuskan pada peningkatan mutu akademik, aksesibilitas beasiswa bagi
tenaga pendidik, serta penguatan tata kelola institusi demi menghasilkan
generasi yang berhikmat dan mandiri di era global,” kata Pdt. Lay Abdi.
Disampaikan bahwa GMIT menaungi
tiga institusi utama berbasis nilai Kristiani yang menjadi pusat pengembangan
ilmu pengetahuan antara lain: Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang:
Sebagai institusi yang didirikan bersama oleh GMIT dan GKS, UKAW kini memasuki
fase peningkatan mutu akademik menuju target "World Class University"
pada 2042. Dengan 7 fakultas dan program pascasarjana, UKAW mencatat penguatan
SDM dengan total 166 dosen berkualifikasi S2 dan S3, serta akreditasi
"Baik Sekali" untuk seluruh program studi.
Universitas Tribuana Alor
(UNTRIB): Institusi ini berperan krusial dalam menyediakan akses pendidikan di
wilayah kepulauan. UNTRIB saat ini memiliki 79 dosen tetap dan mengelola
berbagai program studi strategis seperti Hukum, Ekonomi, dan PGSD. Yayasan
Tribuana Alor terus berupaya melengkapi sarana laboratorium dan gedung rektorat
dua lantai yang sedang dalam proses pembangunan.
Institut Pendidikan Soe (IPS):
Berfokus pada pemenuhan kebutuhan tenaga pendidik, IPS (sebelumnya STKIP Soe)
menawarkan program studi seperti PGSD, Pendidikan Matematika, hingga Pendidikan
Kimia. Salah satu peran unggulannya adalah pemberian beasiswa penuh melalui
program IPSplus bagi 161 guru SD GMIT yang belum bersarjana agar dapat
menyelesaikan studi S1 secara hibrida.
Yapenkris dan Sekolah Dasar: Fondasi Utama Pendidikan di
akar rumput, peranan GMIT dijalankan oleh 14 Yapenkris yang mengoordinasikan
624 sekolah (terutama jenjang TK, SD, SMP, dan SMA) yang tersebar di berbagai
wilayah.
Ketua Pengurus Yapenkris Pingdoling
Alor, Mando Kolimon mengatakan bahwa meskipun lembaga Pendidikan GMIT mengalami
berbagai tantangan dari segi infrastruktur, sarana prasarana, insentif gaji guru
dan sebagainya, tetapi ada langkah-langkah kecil yang dilakukan, seperti
subsidi silang untuk memajukan Pendidikan GMIT.
“Yapenkris Pingdoling Alor saat ini mengelola
sekolah-sekolah di wilayah Alor dengan skema "subsidi silang" di mana
jemaat-jemaat melalui kontribusi dana 2% membantu sekolah yang lemah. Yayasan
ini juga telah merintis 6 Sekolah Unggul GMIT yang mengimplementasikan Kurikulum
Cambridge sebagai upaya standarisasi kualitas internasional di daerah,” kata
Mando.
Persidangan tersebut menegaskan bahwa
GMIT tetap berkomitmen memperluas kemitraan internasional, seperti kerjasama
UKAW dengan gereja di Korea dan Australia, serta UNTRIB dengan institusi di
Timor Leste. ***