Kupang, www.sinodegmit.or.id, – Majelis Sinode Gereja
Masehi Injili di Timor (GMIT) menggelar Workshop Gereja Ramah
Disabilitas di Hotel Kristal Kupang pada Jumat hingga Sabtu, 10-11 Oktober
2025. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Program Gereja Ramah Disabilitas
yang telah diluncurkan pada 5 Oktober 2025 di Jemaat Paulus Kupang, dengan
mengusung tema "Bersama membangun gereja yang benar-benar terbuka bagi
disabilitas."
Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B.
Pandie, dalam suara gembalanya menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud
keseriusan dan keberpihakan gereja untuk mengurus kaum disabilitas, yang harus
dimulai dari perubahan pola pikir (mindset).
"Kaum difabel itu memiliki
harkat dan martabat yang sama dengan manusia lainnya. Karena itu gereja
dipanggil untuk bersikap ramah terhadap semua orang tanpa diskriminasi. Hal ini
harus diwujudkan melalui perubahan pola pikir, program yang menyentuh,
intervensi anggaran dan eksekusi," kata Pdt. Semuel.
Ia juga berharap agar inisiatif
ini dapat ditindaklanjuti oleh masing-masing Klasis di lingkup GMIT.
Dukungan penuh datang dari
Pemerintah Kota (Pemkot) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang. Wali Kota
Kupang, Christian Widodo, yang turut hadir, menyampaikan apresiasi kepada
Sinode GMIT karena telah menjadikan Kota Kupang sebagai Kota Ramah Disabilitas.
Pemkot bahkan telah meresmikan Kelurahan Naikoten I sebagai Kelurahan Ramah
Disabilitas pertama di Kota Kupang pada Senin (30/6).
Pemkot Kupang juga mendukung
kegiatan ini melalui berbagai bantuan, termasuk dana, kursi roda, alat bantu
dengar, tongkat untuk tunanetra, dan bantuan langsung lainnya. Wali Kota
Christian menekankan pentingnya dukungan yang menyeluruh bagi kaum difabel.
“Kaum difabel juga harus didukung
dengan pelatihan ekonomi kreatif. Skill mereka di-upgrade dan
didampingi sampai pemasaran. Kita juga memberikan bantuan dan perlindungan
hukum kepada kaum difabel,” tambahnya.
Ia berharap kolaborasi antara
Gereja dan Pemerintah terus terjalin untuk mewujudkan Kota yang inklusif bagi
semua orang.
Sementara itu, Bupati Kupang,
Josef Lede, dalam sambutannya menyatakan kegiatan ini sebagai panggilan untuk
memperlakukan semua orang dengan setara dan berkomitmen untuk mengintervensi
program yang menyentuh kaum difabel.
Beberapa
materi yang disampaikan kepada peserta meliputi: Sosialisasi tentang Disability
Awareness (Wahana Visi Indonesia); Sosialisasi tentang Program Pengembangan
Kompetensi bagi IDD (Insan dengan Disabilitas) oleh Sentra Efata Kupang; Sosialisasi
tentang Perumahan Subsidi (Bale BTN); Sosialisasi tentang Jaminan
Ketenagakerjaan Mandiri bagi Pendeta dan Disabilitas (BPJS Ketenagakerjaan); "Gereja
untuk semua: teologi disabilitas dan arah kebijakan pelayanan gereja bagi insan
dengan disabilitas" (Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, S.Th); "Kebijakan
aksesibilitas infrastruktur publik dan tempat ibadah: komitmen Pemerintah
menuju inklusi" (Dinas PUPR Provinsi NTT); "Menata anggaran, menata
keadilan: mendorong kebijakan anggaran yang responsif terhadap
disabilitas" (DPRD Provinsi NTT, Winston Rondo); Sosialisasi Juknis Tata
Ruang Gereja Ramah Disabilitas (Pdt. Leo Takubesi & Pdt. Yakob L. Kapitan,
S.Th., M.Sn); "Gereja untuk orang-orang istimewa: Refleksi eklesia bagi
IDD" (Pdt. Melky J. Ulu, M.Th).
Workshop ini dihadiri oleh
Staf Ahli Gubernur Bidang Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi NTT, Ady Endezon
Mandala, M.Si, 57 Ketua Majelis Klasis se-GMIT beserta perwakilan tiap Klasis,
Pengurus Insan dengan Disabilitas Sinode GMIT, GMKI Kupang, serta perwakilan
Organisasi Penyandang Disabilitas Kupang. ***