Pantar Timur-Alor, https://sinodegmitkolportase.or.id/, - Perayaan HUT ke-25 Klasis Pantar Timur yang digelar di Pantai Lamalu, Munaseli, Rabu (28/8/2025) menjadi penegasan panggilan iman: merawat bumi, memperkuat kebersamaan, dan menjaga kerukunan lintas iman di Alor.

Mengusung tema “Peduliku Selamatkan Bumiku”, acara puncak ditandai dengan aksi penanaman 200 anakan mangrove di pesisir Lamalu. Kegiatan ini melibatkan jemaat, masyarakat, pemerintah, dan tokoh lintas agama sebagai simbol komitmen bersama melestarikan alam dan mewariskan kehidupan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Dalam ibadah syukur yang dipimpin Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdy K. Wenyi, M.Si., khotbah diambil dari Kejadian 1:26–28. Ia menegaskan bahwa bumi dan manusia adalah ciptaan Allah yang setara, sehingga bumi adalah rumah bersama yang wajib dijaga dengan penuh tanggung jawab. “Kepedulian terhadap bumi bukan hanya slogan, tetapi panggilan iman yang diwujudkan dalam hidup bijak sehari-hari—mengurangi sampah plastik, menjaga laut, dan merawat alam,” ungkapnya.

Pesan itu semakin kuat ketika Sekretaris Sinode menyapa umat Muslim yang hadir, sebuah gestur yang menegaskan kokohnya kerukunan lintas agama di Pantar Timur. Ia juga mengingatkan bahwa Agustus bukan hanya bulan syukur gereja, tetapi juga Bulan Kebangsaan yang bertepatan dengan HUT RI ke-80. “Panggilan gereja adalah melayani umat sekaligus bertanggung jawab pada bangsa: menumbuhkan cinta tanah air, memperkuat persaudaraan, dan menjaga alam sebagai bagian dari iman dan kebangsaan,” katanya.

Ketua Majelis Klasis Pantar Timur, Pdt. Very C. Bang, S.Th., dalam sambutannya menegaskan bahwa perayaan ini merupakan perayaan HUT resmi pertama sejak berdirinya Klasis pada 28 Agustus 1998 di Jemaat Silo Sargang. Perayaan ini juga memperkuat pelayanan, merawat relasi dengan sesama ciptaan Tuhan lainnya, secara khusus laut yang turut berkontribusi kehidupan bagi manusia.

Ia berharap momentum 25 tahun membuka jalan bagi program pemekaran menjadi Klasis Pantar dan Klasis Pantar Timur, mengingat luasnya wilayah pelayanan dan wacana pembentukan Kabupaten Pantar.

Camat Pantar, Arianus Waang, SH, turut memberi apresiasi atas penanaman mangrove sebagai wujud nyata tema perayaan. Ia menekankan bahwa kerukunan Islam dan Kristen di Alor adalah warisan leluhur yang wajib dijaga serta diwariskan kepada generasi muda.

Rangkaian acara dimulai dengan penyambutan tamu melalui tarian adat Wadi, diarak menuju gereja dengan tarian Lego-lego sebagai lambang persaudaraan, dan dilanjutkan ibadah syukur di pantai Lamalu. Selain penanaman mangrove, perayaan ditutup dengan pemotongan kue ulang tahun sebagai tanda syukur atas perjalanan pelayanan selama 25 tahun.

HUT Klasis Pantar Timur ke-25 bukan sekadar pesta syukur, melainkan pernyataan iman dan kebersamaan: peduli bumi, memperkuat pelayanan, serta menjaga kerukunan lintas iman sebagai warisan luhur masyarakat Alor. * (Pdt. Very Bang)