Manusia merupakan makhluk
sosial. Karena itu tidak ada seorang pun yang dapat hidup sendirian. Seintrovert
apa pun seseorang, dia tetap membutuhkan orang lain untuk memenuhi berbagai
kebutuhan jasmani dan rohaninya. Itu sebabnya pergaulan memiliki peranan yang
penting. Namun dalam pergaulan dibutuhkan sikap kehati-hatian yang tinggi. Hal
ini karena kemampuan seseorang dalam memilih teman bergaul sangat besar
pengaruhnya terhadap kualitas hidup yang dijalaninya. Pergaulan yang baik dapat
menghasilkan kehidupan yang baik. Sebaliknya, pergaulan yang buruk dapat menghasilkan
kehidupan yang buruk (1 Kor. 15:33).
Nas
ini berisi nasihat kepada umat Tuhan yang ingin mengalami kehidupan yang
bahagia. Kata “berbahagialah” berasal dari kata “asyrey” dalam bahasa Ibrani. Kata “asyrey” memiliki pengertian berbahagia atau keberuntungan. Ini
adalah kata sifat yang disampaikan dalam bentuk kata seru. Penggunaan sebagai
kata seru sangat menarik karena hal itu dilakukan dengan sengaja untuk memberikan
tekanan, agar umat Tuhan memberikan perhatian khusus. Perhatian seperti itu
diperlukan untuk menyadarkan mereka akan apa sebenarnya tujuan hidup yang
sedang dikejarnya. Kata “asyrey”
memang bukan kebahagiaannya, melainkan sesuatu yang akan dirasakan oleh setiap
orang sebagai akibat dari keberuntungan yang diterimannya sebagai dampak dari melakukan
Taurat Tuhan Melalui nas ini pemazmur
mengungkapkan bahwa apabila seseorang ingin mengalami kehidupan yang berbahagia
maka dia wajib memiliki kemampuan agar memilih lingkungan pergaulan yang tepat.
Untuk itu ada dua hal yang mesti dilakukan.
Pertama, menghindarkan
diri dari pergaulan yang buruk. Dalam hal ini ada tiga kelompok manusia yang
mesti dihindari yaitu yang pertama orang fasik. Kepada orang-orang dari
kelompok ini umat Tuhan dilarang untuk mengikuti nasihat-nasihatnya. Yang kedua
orang berdosa. Kepada kelompok ini umat Tuhan dilarang untuk berdiri bersama
mereka. Yang ketiga kumpulan pencemooh. Kepada kelompok ini umat Tuhan dilarang
untuk duduk dan bergaul secara intens dengan mereka. Mari kita mendalami tiga
kelompok ini.
Orang fasik. Kata
dalam bahasa Ibrani yang dipakai untuk ‘orang fasik’ adalah “resya’im”. Bentuk kata kerjanya adalah
denominatif dari kata “resya’” yang
berarti kriminal atau jahat. Dalam PL kata ini digunakan sebanyak 33 kali. Sebagai
kata sifat istilah ini diartikan sebagai orang-orang yang melakukan kejahatan.
Kata “resya’im” merupakan antitesa
dari kata “tsedeq” yang berarti orang
benar.
Kata
“resya’im” merujuk pada perilaku
negatif dari pikiran, perkataan dan perbuatan jahat, suatu perilaku yang tidak
hanya bertentangan dengan tabiat Tuhan, tetapi juga memusuhi masyarakat
sekaligus menunjukkan ketidakharmonisan bathin dan keresahan manusia. Dalam
bentuknya sebagai kata benda maskulin, “resya”
menunjukkan jenis kehidupan yang bertentangan dengan karakter Allah. Dalam
literatur hikmat, “resya” juga
dipertentangkan dengan kebenaran dan keadilan. Dari penjelasan ini dapat
disimpulkan bahwa orang fasik memiliki karakteristik sebagai orang yang suka
berbuat jahat atau kriminal dan mengingkari taurat Tuhan.
Orang berdosa. Kata
Ibrani yang dipakai adalah “chata’im” yang
berarti orang-orang yang penuh dosa atau para pendosa. Yang dimaksud dengan
orang berdosa di sini adalah orang yang meski pun percaya kepada Allah namun
cara hidupnya tidak mencerminkan kehidupan sebagai umat Allah. Itu karena
mereka tidak bersedia hidup dalam tuntunan hukum Allah. Mereka ingin bebas dan
leluasa menentukan jalan hidupnya sendiri. Jadi orang berdosa yang dimaksud di
sini bukan dalam arti dosa bawaan atau turunan tetapi dosa karena pilihan
pribadi. Orang-orang seperti ini pun mesti dihindari oleh umat Tuhan sebab
mereka mengembangkan pola hidup yang mengacu pada norma-norma umum yang
dikembangkan oleh dunia yang tidak membawanya ke kehidupan yang ilahi melainkan
kehancuran total.
Mereka
adalah orang-orang yang selalu ada dalam setiap generasi di sepanjang sejarah
kehidupan manusia. Mereka juga tersebar di seluruh komunitas lintas suku, bangsa
dan agama. Cara hidupnya yang menyimpang dari hukum Taurat membuat mereka layak
disebut orang berdosa.
Diakui
atau tidak, keberadaan mereka memiliki pengaruh yang besar bagi lingkungan di
mana mereka ada. Kecenderungan manusia untuk mudah meniru apa yang jahat
merupakan bahaya yang mesti dihindari ketika bertemu dengan orang dari kelompok
ini. Itu sebabnya pemazmur menjadikan mereka sebagai antithesis. Kata “lo ‘amad” (tidak berdiri) adalah lawan
dari kata berdiri. Ini adalah kiasan untuk menegaskan posisi atau keberadaan.
Posisi atau keberadaan itu penting karena merupakan metafora yang berbicara
tentang hidup. Berdiri di jalan orang berdosa itu sama dengan menempatkan diri
pada cara hidup mereka, yang pada akhirnya akan membuat seseorang akan
berperilaku sama dengan orang berdosa.
Kumpulan pencemooh. Kata
Ibrani yang dipakai adalah “letsyim”
yaitu orang-orang yang mencemooh. Bentuknya sebagai kata kerja partisipel
memberi gambaran tentang mereka sebagai orang yang sombong dan angkuh, yang
tidak dapat diperbaiki, kebal terhadap semua teguran, dan bahkan sangat
membenci teguran. Mereka adalah orang-orang yang menghindari hikmat dan
pengetahuan. Berbagai bentuk kejahatan yang mereka lakukan membuatnya dicap
sebagai orang najis. Itu sebabnya pemazmur menjadikan mereka sebagai bagian dari
kelompok yang harus dihindari.
Kedua, membangun
kesukaan akan taurat Tuhan yang dibuktikan dengan tindakan merenungkan firman
itu siang dan malam. Kata “kesukaan” diterjemahkan dari bahasa Ibrani “chepetso” yang secara harfiah berarti
sukacita atau kesenangan. Kata “chepetso”
tidak hanya dimaknai sebagai sebuah ungkapan rasa belaka, melainkan
ungkapan rasa yang melahirkan kebiasaan yang baru, yang bersumber dari Allah. Kesukaan
akan menghasilkan dorongan untuk melakukan sesuatu yang disukai terus menerus. Apabila
sesuatu yang dilakukan secara terus menerus itu tetap berkelanjutan maka akan
menjadi kebiasaan yang selanjutnya membudaya.
Di
sini pemazmur menempatkan Taurat sebagai lawan dari ketiga kelompok yang perlu
dihindari. Taurat tidak dilihat sebagai bentuk tulisan mati di dalam sebuah
buku atau loh batu, melainkan aturan, ketetapan, perintah dan pengajaran yang
datang langsung dari Tuhan. Taurat ditempatkan sebagai lingkungan ideal yang
harus menjadi tempat di mana orang-orang saleh mengembangkan dirinya dalam
membangun budaya dan peradaban baru yang tidak terkait dengan ketiga kelompok
yang tidak memberikan manfaat, bahkan justru menghancurkan.
Bagaimana
cara menumbuhkan kesukaan terhadap Taurat Tuhan? Yaitu dengan merenungkannya
siang dan malam. Kata Ibrani yang dipakai untuk “merenungkan” adalah “yehegeh” yang secara harfiah berarti
mengerang atau mengucapkan. Dari pengertian ini kita melihat bagaimana
aktivitas perenungan itu diwujudkan. Pertama,
merenung merupakan aktivitas verbal yang mesti diucapkan dengan kata-kata.
Artinya tidak cukup kalau hanya dilakukan secara pasif dengan berdiam diri atau
berkata-kata dalam hati. Kedua, aktivitas merenung dilakukan
secara terus menerus dan berkelanjutan.
Selanjutnya
kata “siang dan malam” diterjemahkan dari kata Ibrani “yomam walayelah” yang menunjukkan rentang waktu terus menerus.
Kata sambung “we” dalam bahasa Ibrani
tidak hanya berarti “dan”. Kata “we”
juga bisa berarti “sampai”. Oleh karena itu kata “siang dan malam” bisa juga
diterjemahkan “siang sampai malam”. Terjemahan alternatif ini menegaskan bahwa
aktivitas merenungkan terjadi terus menerus.
Pada
bagian akhir dari nas ini pemazmur menunjukkan perbedaan mencolok antara orang
benar dan orang fasik. Orang benar mencenderungkan hatinya pada taurat Tuhan
dan merenungkan terus menerus, sehingga tidak terbawa arus zaman. Mereka
seperti pohon yang berdaun segar dan berbuah lebat karena ditanam di tepi
aliran air. Tetap eksis, berisi, berhasil dan berdampak.
Sedangkan
nasib orang fasik sebaliknya. Mereka bernasib tragis. Mereka seperti sekam yang
tertiup angin. Sekam menggambarkan kehidupan yang terlihat gagah dan menarik
namun tak berisi karena tidak terhubungan dengan Tuhan. Orang fasik tidak akan
bertahan dalam kumpulan orang benar. Dalam penghakiman pun orang fasik tidak
akan tahan karena mereka hidup tanpa kebenaran. Kehidupan yang tidak berakar
pada kebenaran akan goyah ketika menghadapi tekanan, krisis atau ujian.
Berdasarkan
penjelasan ini, ada tiga pertanyaan yang untuk didiskusikan.
1.
Bagaimana caranya GMIT secara organisme
dan organisasi dapat berinteraksi dan membangun relasi dengan siapa pun tanpa
terjebak dalam pergaulan yang buruk dengan orang fasik, orang berdosa dan
kumpulan pencemooh?
2.
Bagaimana seharusnya kita menyikapi
orang-orang yang mencemooh dan bahkan menyerang iman dan ajaran Kristen Protestan,
khususnya GMIT, baik secara langsung maupun melalui media sosial?
3.
Bagaimana kita memastikan unsur-unsur
budaya lokal (narasi, nyanyian, tarian, busana dan sebagainya) yang dimasukkan
dalam liturgi Bulan Budaya GMIT sudah sesuai dengan firman Tuhan (ada di jalan
orang benar)?