Semau-Kupang, https://www.sinodegmitkolportase.or.id, Jemaat
Bait’El Uitiuh Tuan, Klasis Semau menggelar Festival Blalan Haman di Pantai
Liman, Uitiuh Tuan, Semau Selatan, Kabupaten Kupang, pada Jumat (28/11/2025). Festival
ini merupakan sebuah perayaan hasil panen dalam budaya Helong yang sudah lama
pudar, kemudian dihubungkan dengan iman Kristen.
Ketua Majelis Jemaat Bait’El Uitiuh
Tuan, Pdt. Jenny Amelia Missa menjelaskan bahwa Blalan Haman artinya orang tua
panggil pulang. Sebuah panggilan di tengah hiruk pikuk dunia dan kesibukan
hidup, untuk kembali pada akar budaya dan menghidupi nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya.
“Festival tersebut merupakan
jembatan yang menghubungkan kita pada masa lalu yang penuh makna: cinta kasih, tradisi
makan dan nasihat,” kata Pdt. Jenny.
Ia menjelaskan bahwa cinta kasih kepada
Tuhan dan sesama atas berkat panen dengan duduk bersama, setara di atas tikar
yang sama, tanpa perbedaan sosial. Sedangkan makan (Hopong Ngae) merupakan
tradisi berbagi buah sulung, sebagai lambang perjamuan kasih dalam budaya suku
Helong untuk memperkuat persekutuan. Selanjutnya para sesepuh berdiri dan
menyampaikan nasihat, tidak hanya tentang cara bertani, tetapi juga tentang
hidup yang jujur, adil dan bertanggung jawab terhadap alam dan sesama.
Senada dengan itu, Wakil
Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Zimrat M.S. Karmany dalam suara gembalanya berbicara
tentang perkembangan zaman yang tanpa sadar mengancam identitas luhur manusia.
Karena itu festival Blalan Haman merupakan momentum untuk menggali kembali
peristiwa-peristiwa masa lalu, sekaligus dimaknai sebagai upaya menjaga,
melestarikan dan menghidupi nilai-nilai yang terkandung didalamnya.
“Tradisi Makan Baru mengajarkan
hal yang sering kita lupa di zaman modern, bahwa hasil pertama bukan untuk
dimakan sendiri, tetapi untuk disyukuri dan dibagikan. Syukur kepada Tuhan –
bahwa berkat tidak hanya lahir dari kerja keras, tetapi dari kemurahan-Nya,”
kata Pdt. Zimrat.
Ia berpesan untuk menghormati
alam, bahwa tanah ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi tempat Tuhan bekerja
menumbuhkan kehidupan dan menjaga perdamaian dengan semua orang.
Beberapa acara yang dilakukan
antara lain: Makan agape, Maren, Ritual syukur alam dan pertanian, Pentas seni,
UMKM Expo, dan Li Ngae.
Dince Wong, salah satu masyarakat
yang menyaksikan langsung festival tersebut menyampaikan bahwa kegiatan ini
bukan hanya acara budaya semata, tetapi berhubungan dengan iman kepada Tuhan.
“Kegiatan ini merupakan tanggapan
terhadap suara orang tua memanggil pulang, menikmati hasil panen pemberian
Tuhan, serta mensyukurinya. Jadi berkat tidak hanya dipahami secara budaya
tetapi juga dalam iman,” kata Dince.
Dalam festival tersebut, dipajang
berbagai produk lokal hasil Jemaat setempat. Panitia menghadirkan produk
tersebut kepada para tamu yang hadir untuk dikenal dan memperkuat ketahanan
pangan masyarakat. ***