Setiap orang percaya dipanggil
untuk hidup dalam kasih dan menerima satu sama lain sebagaimana Kristus telah
menerima kita. Paulus dalam Roma 15:1-13 menekankan pentingnya sikap saling
membangun dalam komunitas iman yang saling menerima. Ayat 1-2, Paulus memulai
dengan sebuah perintah bagi orang percaya yang lebih kuat untuk memikul
kelemahan orang yang lebih lemah. Memahami hal ini, tentu perlu dilihat perikop
sebelumnya. Kata "kuat" di sini ditujukan kepada jemaat yang
berkeyakinan bahwa semua makanan adalah penyediaan yang baik dari Allah,
sedangkan kata "tidak kuat" ditujukan kepada jemaat yang masih
bimbang tentang hal makan daging dan minum anggur. Paulus menasehatkan agar
yang kuat harus peduli kepada orang yang lemah dengan mengerti cara pikirnya
dan mendukung upaya ketaatannya. Selain itu yang kuat perlu memberi penjelasan
yang benar dengan sopan dan lemah lembut sesuai dengan ajaran yang tertulis
dalam Kitab Suci. Hal ini mencerminkan kasih yang sejati, yaitu kasih yang rela
berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain. Seperti Kristus yang datang
bukan untuk menyenangkan diri-Nya sendiri, demikian pula jemaat harus
mengutamakan kesejahteraan rohani sesama. Dengan demikian, persekutuan dalam
jemaat sebagai tubuh Kristus menjadi semakin erat dan harmonis. Ay. 3-7, pada
bagian ini, Paulus kemudian menunjukkan teladan Kristus yang tidak hidup untuk
menyenangkan diri-Nya sendiri, tetapi menanggung kehinaan demi keselamatan
manusia. Kristus datang untuk menerima semua orang. Hal ini menjadi dasar bagi orang
percaya untuk saling menerima dan hidup dalam keharmonisan. Paulus juga
menekankan bahwa segala yang tertulis dalam Kitab Suci dimaksudkan untuk
mengajar agar jemaat memiliki pengharapan. Firman Tuhan menjadi sumber
penghiburan dan kekuatan bagi semua orang untuk terus hidup dalam kasih dan
persatuan. Pada ay. 8-12, Paulus menjelaskan bahwa Kristus datang untuk
menggenapi janji Allah kepada bangsa Israel dan sekaligus membawa keselamatan
bagi bangsa-bangsa lain. Ini menunjukkan bahwa rencana Allah sejak semula
adalah untuk menyatukan semua orang dalam penyembahan kepada-Nya. Ay. 13,
Paulus mengakhiri bagian ini dengan sebuah doa berkat.
Berdasarkan
penjelasan di atas, maka ada beberapa hal yang bisa kita pelajari: pertama,
dalam kehidupan bergereja, bermasyarakat, berkeluarga, selalu ada perbedaan
tingkat pemahaman dan pertumbuhan iman. Orang yang lebih matang secara rohani
dipanggil untuk membangun dan menguatkan saudara seiman.
Kedua,
ketika kita memahami bahwa Kristus menerima kita dengan segala kelemahan dan
dosa kita, kita pun terdorong untuk melakukan hal yang sama terhadap sesama.
Saling menerima bukan berarti membiarkan dosa atau kesalahan, tetapi
menunjukkan kasih yang bersedia membimbing dan membangun sesama dalam iman.
Menanggung berarti terus dengan sabar mendukung, menyokong, mengarahkan mereka
sebagaimana seorang ayah/ibu yang akan menyokong anaknya dengan kasih,
kelembutan, pengertian, dan perhatian. Termasuk di dalamnya adalah memberikan
contoh yang positif.
Ketiga,
memahami bahwa Allah telah menyatukan semua orang dalam kasih-Nya untuk
menyembah dan memuliakan-Nya, maka gereja harus menjadi tempat di mana semua
orang, tanpa memandang latar belakang apapun, dapat bersekutu dan memuliakan
Tuhan bersama-sama. Gereja harus menjadi tempat persekutuan dan persaudaraan
nyata dan bertumbuh, karenanya segala perbedaan perlu dikelolah dengan baik.
Keempat, Membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hati kita, agar kita dimampukan untuk menerima dan mengasihi orang lain dengan tulus. Roh Kudus menanamkan dalam diri kita sikap rendah hati, kesabaran, dan kelemahlembutan yang diperlukan untuk membangun hubungan yang harmonis dengan sesama. Dengan demikian ada kesediaan untuk memahami bahwa semua yang terjadi bukan karena kehebatan manusia tapi karena karya Roh Kudus. Sebagai tubuh Kristus, mari kita hidup dalam kasih yang nyata, menerima satu sama lain sebagaimana Kristus telah menerima kita. Dengan demikian, nama Tuhan dipermuliakan di tengah-tengah persekutuan kita, dan dunia akan melihat bahwa kita adalah murid-murid-Nya yang sejati. Amin ***