Data dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menyebutkan bahwa antara tahun 2023 – 2025 secara total terdapat 116 kasus anak bunuh diri di Indonesia. Perinciannya yaitu pada tahun 2023 ada 46 orang anak. Pada tahun 2024 ada 43 orang anak. Dan pada tahun 2025 ada 26 orang anak. Ini adalah jumlah tertinggi di Asia Tenggara. Sedangkan apabila dilihat secara keseluruhan, menurut Pusiknas (Pusat Informasi Kriminal Nasional) Bareskrim Polri, pada tahun 2025 saja terdapat 1492 kasus bunuh diri di Indonesia. Itu berarti setiap hari rata-rata ada empat orang yang bunuh diri di Indonesia.

Kalau dalam konteks global, ada lebih dari tujuh ratus ribu orang meninggal dunia setiap tahun karena bunuh diri. Itu sebabnya sejak tahun 2003 Internasional Association for Suicide Prevention bersama Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan tanggal 10 September sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (World Suicide Prevention Day. Penyebab terjadinya kasus bunuh diri yang paling besar ialah masalah ekonomi, lalu diikuti oleh masalah hubungan sosial, gangguan mental dan penyakit fisik. Masalah-masalah itu mengakibatkan terjadinya depresi, kecemasan, trauma, perundungan dan sebagainya.

Tetapi mengapa semua itu memicu seseorang untuk bunuh diri? Bukankah ada terlalu banyak orang di dunia ini yang bergumul dengan berbagai bentuk masalah yang berat? Lalu mengapa ada yang bunuh diri dan ada yang tidak? Jawabannya adalah karena orang-orang yang bunuh diri itu sudah putus asa. Mereka telah kehilangan harapan. Bagi mereka, harapannya telah mati.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pengharapan dalam diri manusia. Hidup hanya bisa berlanjut ketika pengharapan masih ada. Sebaliknya, orang yang pengharapannya telah mati, sebenarnya telah memasuki suasana kematian.

Pengharapan inilah, yang di samping iman dan kasih, ditekankan oleh penulis surat Petrus seperti yang dibaca dalam nas ini. Uniknya, berbeda dengan Paulus yang menempatkan iman di posisi pertama baru diikuti oleh pengharapan dan kasih (1 Kor. 13:13), Petrus justru menempatkan pengharapan di posisi pertama, mendahului iman dan kasih. Ini menunjukkan bahwa bagi Petrus pengharapan adalah hal yang paling penting. Namun sebelum melihat hal ini secara lebih jauh, mari kita mengenal konteks Petrus pada saat dia menulis surat ini dan juga konteks jemaat yang menerima suratnya.

Surat ini ditulis oleh Petrus yang pernah menyangkal Yesus sampai tiga kali (Yoh. 18:12-27) lalu dipulihkan di tepi danau Tiberias (Yoh. 21). Jadi Petrus menulis surat ini bukan sebagai pribadi yang sempurna melainkan sebagai orang yang pernah gagal dan tahu rasanya diampuni. Itu sebabnya apabila dibaca secara keseluruhan, surat ini memiliki nada yang sangat pastoral. Surat ini tegas soal penderitaan namun hangat soal anugerah. Surat ini ditulis oleh Petrus dari dalam penjara di kota Roma, yang dia sebut “Babilon” sebagai kode untuk kota yang memusuhi Allah (5:13).

Penerima pertama surat ini adalah para pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia. Lima wilayah ini sekarang merupakan bagian dari negara Turki. Siapa mereka? Ada dua kemungkinan. Pertama, orang Kristen Yahudi diaspora yang lari dari Yerusalem akibat penganiayaan (Kis. 8:1). Kedua, para petobat baru dari latar belakang non Yahudi. Petrus menggunakan bahasa PL seperti “bangsa yang kudus” (2:9) untuk orang yang dulu bukan umat Allah (2:10). Artinya golongan yang kedua ini adalah jemaat campuran, tetapi mayoritasnya bekas penyembah berhala.

Kata “pendatang” dan “perantau” (Yun. parepidemoi) dalam 1 Petrus 2:11 bukan sekedar status geografis. Ini identitas teologis. Mereka secara hukum mungkin warga negara Romawi, tetapi secara sosial sudah asing karena tidak lagi terlibat dalam ritus penyembahan kaisar, pesta pora dan penyembahan berhala di kuil-kuil lokal. Iman kepada Yesus Kristus menjadikan mereka sebagai warga negara minoritas yang mencurigakan.

Surat ini ditulis sekitar tahun 62-64 M, sebelum kaisar Nero membakar kota Roma dan menyalahkan umat Kristen pada tahun 64 M. Jadi pada saat surat ini ditulis, belum ada penganiayaan negara yang sistematis. Sekalipun demikian, tekanan dan penganiayaan secara lokal sangat nyata.

Ada beberapa bentuk penganiayaan yang dialami oleh umat Kristen pada saat itu. Pertama, fitnah. Ini yang paling sering. Ada beberapa bentuk fitnah. Misalnya, orang Kristen dituduh tidak setia pada kaisar karena menyembah Tuhan Yesus. Orang Kristen dituduh kanibal karena melakukan Perjamuan Kudus (makan dan minum tubuh dan darah Kristus dipahami secara harfiah). Mereka juga dituduh melakukan perkawinan sedarah (inses) karena menyebut sesama orang Kristen dengan panggilan saudara.

Kedua, diskriminasi ekonomi. Orang Kristen sulit berdagang karena menolak bersumpah demi dewa pasar. Ketiga, tekanan keluarga. Ada banyak budak Kristen yang memiliki tuan non Kristen yang kejam (2:18). Selain itu ada pula istri Kristen yang memiliki suami yang belum percaya kepada Tuhan Yesus (3:1). Keempat, pengucilan sosial. Orang Kristen dikucilkan dari pergaulan masyarakat karena dulu ikut pesta pora dan hura-hura, sekarang tidak lagi. Oleh karena itu banyak teman lamanya yang menghujat dan mem-bully (4:3-4).

Petrus menyebut semua bentuk penganiayaan ini sebagai nyala api siksaan (4:12) dan berbagai-bagai pencobaan (1:6). Penganiayaan itu bukanlah penjara seperti yang Petrus alami melainkan tekanan kecil terus menerus tetapi terjadi setiap hari sehingga semakin lama terasa semakin berat. Hal ini berpotensi mengikis iman secara perhalan-lahan.

Dalam konteks yang demikian surat ini ditulis dengan tujuan menguatkan jemaat agar tetap hidup kudus dan bersaksi tentang Kristus. Jadi melalui surat ini Petrus menguatkan jemaat untuk berdiri teguh dalam kasih karunia, tahu cara hidup sebagai orang asing, menjawab dengan benar saat difitnah dan memandang penderitaan dari sudut pandang Kristus. Singkatnya, surat 1 Petrus adalah petunjuk tentang cara bertahan hidup untuk minoritas Kristen. Tema besarnya bukanlah cara keluar dari penderitaan melainkan cara hidup mulia di tengah penderitaan supaya Allah dimuliakan.

Pemahaman akan konteks surat 1 Petrus ini menolong kita dalam memaknai nas ini. Dalam nas ini terdapat tiga hal penting yang menjadi pelajaran bagi orang Kristen masa kini. Pertama, dasar pengharapan yang hidup (ayat 3-5). Petrus mulai dengan pujian. Mengapa? Karena pengharapan orang Kristen punya dasar, bukan sekadar optimisme kosong. Sumber pengharapan itu adalah anugerah Allah. Orang Kristen tidak melahirkan dirinya sendiri secara rohani. Allahlah yang berinisiatif. Kata melahirkan kembali berarti ada kehidupan baru yang tidak berasal dari usaha manusia. Apabila keselamatan dimulai dari Allah maka Dia jugalah yang menjamin akhirnya.

Sarana pengharapan adalah kebangkitan Kristus. Kubur kosong merupakan tanda bahwa Allah menerima karya Kristus di atas kayu salib. Karena Kristus bangkit maka pengharapan orang Kristen hidup kembali. Pengharapan dunia biasanya tergantung pada hal-hal yang bersifat jasmani: kesehatan, ekonomi, politik dan yang sejenisnya. Sedangkan pengharapan Kristen bergantung pada sejarah: Yesus sudah bangkit.

Sifat pengharapan Kristen itu kekal dan terjamin. Petrus menulis bahwa warisan orang Kristen tidak dapat binasa, tidak dapat cemar dan tidak dapat layu. Di dunia semua aset bisa habis atau lenyap karena hidup foya-foya, bangkrut, inflasi, rayap atau pencuri. Tetapi warisan sorgawi disimpan di sorga dan dijaga oleh Allah. Bahkan orang Kristen di dunia pun dijaga oleh Allah melalui iman. Jadi ada dua penjagaan yaitu warisan pengharapan, iman dan kasih dijaga di sana, orang Kristen dijaga di sini. Dengan demikian keamanannya ganda.

Itu berarti apabila ada orang Kristen yang merasa gagal, ingatlah bahwa status sebagai anak Allah tidak bergantung pada amal dan kesalehan seseorang setiap hari melainkan pada kebangkitan Kristus. Pengharapan tidak mati setiap kali iman goyah karena Allah sendiri yang memegang dan menjaganya.

Kedua, sukacita di tengah penderitaan (ayat 6-9). Petrus sangat realistis. Dia tidak bilang orang Kristen tidak sedih. Dia bilang berdukacita itu nyata tetapi bergembira juga nyata. Keduanya bisa berjalan bersama. Mengapa demikian? Karena ujian itu ada tujuannya. Iman diuji seperti emas dimurnikan dalam api. Api tidak menciptakan emas, tetapi membuktikan yang mana emas asli. Begitu pula dengan penderitaan. Penderitaaan tidak menghasilkan iman. Tetapi penderitaan menunjukkan bahwa iman kita sungguh terpaut pada Kristus.

Hasil dari ujian pun mulia. Setiap air mata karena setia kepada Tuhan akan dicatat dan diberi upah. Tidak ada penderitaan yang sia-sia bagi anak Tuhan. Pada bagian ini Petrus juga menunjukkan bahwa sukacita di dalam Tuhan Yesus berpusat pada pribadi Allah Tritunggal, bukan situasi. Kita belum melihat Yesus muka dengan muka. Namun kita mengasihi Dia karena kita sudah terlebih dahulu dikasihi-Nya. Sukacita Kristen bukanlah tawa yang menutupi luka, melainkan damai yang lebih dalam dari luka.

Hal ini berarti orang percaya jangan mengukur kasih Tuhan dari ringan atau beratnya pergumulan hidup. Orang Kristen mengukur kasih Tuhan dari salib dan kubur kosong. Ketika menghadapi ujian, tanyakanlah pada diri sendiri, “Apa yang Tuhan mau murnikan dari hidup saya?” Tanyakan pula, “Bagaimana saya bisa menunjukkan bahwa kasih Yesus sudah cukup bagi saya?”

Ketiga, keselamatan yang dinantikan (ayat 10-12). Petrus menutup perikop ini dengan mengajak orang percaya untuk mundur jauh. Keselamatan yang dinikmati sekarang ternyata sudah dirindukan oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Mereka meneliti nubuat mereka sendiri. Mereka juga mencari tahu kapan dan bagaimana caranya Kristus menderita lalu dimuliakan. Tetapi kesempatan itu tidak mereka peroleh. Sebaliknya, orang Kristen hidup di era yang lebih istimewa dari para nabi. Sebab orang Kristen hidup dalam kesaksian tentang berita Paskah yang bahkan ingin diketahui pula oleh malaikat-malaikat. Jadi betapa besarnya hak istimewa orang Kristen yang tidak lagi menebak-nebak Sang Mesias. Orang percaya telah mengenalnya dengan baik karena Dia datang dan berkarya di dunia dalam pribadi manusia yang sempurna yaitu Yesus Kristus.

Keselamatan di dalam Kristus memiliki tiga dimenasi waktu. Pertama, sudah yaitu kita sudah dilahirkan kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus. Kedua, sedang yaitu iman kepada Yesus yang bangkit menghasilkan keselamatan jiwa. Ketiga, akan yaitu keselamatan siap dinyatakan dengan sempurna pada akhir zaman ketika Tuhan Yesus datang kembali sebagai Sang Hakim. Orang percaya hidup di antara sudah dan belum ini. Itu sebabnya orang percaya mesti setia menanti. Orang yang setia menanti inilah yang disebut orang yang berpengharapan.

Hal ini berarti bahwa orang Kristen jangan hidup seperti orang yang tidak memiliki masa depan. Cara orang Kristen dalam bekerja, melayani, mengasuh anak, menghadapi sakit penyakit dan dukacita, semua diwarnai oleh fakta bahwa cerita kita berakhir di kemuliaan, bukan kuburan. Kalau nabi-nabi saja rindu dengan zaman ini, mengapa orang Kristen menjalaninya dengan lesu dan putus asa?

Oleh karena itu milikilah tekad yang baru. Jadilah orang yang berpengharapan teguh. Jangan biarkan rasa putus asa datang membelenggu, apalagi kalau sampai bunuh diri, baik secara aktif maupun pasif. Lebih dari itu milikilah pandangan yang baru yaitu kita adalah umat Allah yang dilahirkan kembali untuk warisan kekal. Jika Tuhan mengijinkan kita berada dalam penderitaan, yakinlah bahwa kita sedang diuji untuk dimurnikan dan menerima kemuliaan. Ingatlah bahwa dalam iman akan kebangkitan Kristus, pengharapan kita dibarui. Tuhan Yesus memberkati. Amin.