Pengantar

Perjalanan hidup manusia sering diibaratkan sebagai sebuah pelayaran panjang di tengah lautan luas. Ada saat-saat ketika laut begitu tenang sehingga kapal melaju tanpa hambatan. Namun ada saatnya muncul badai yang membuat pelayaran begitu berbahaya dan mengancam kehidupan. Badai kehidupan itu dapat berupa masalah keluarga, tekanan pekerjaan, sakit, dukacita dan sebagainya. Situasi seperti itu melahirkan rasa takut, kecemasan, dan kepanikan. Dalam kondisi ini, manusia dapat kehilangan arah dan harapan.

Tafsiran

Perikop ini diawali dengan perintah Yesus kepada murid-murid agar mereka menaiki perahu dan menyeberang, sementara Ia pergi berdoa di gunung (ay. 22-23). Di saat para murid berlayar, perahu mereka diombang-ambingkan oleh angin sakal (ay. 24). Angin sakal adalah angin yang berlawanan arah dengan perahu. Angin ini membuat mereka sangat kesulitan mendayung. Mereka mengalami badai saat mereka mengikuti perintah Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan tidak menjamin hidup tanpa masalah.

Ketika mereka bergumul dengan angin sakal, Yesus datang pada waktu yang paling gelap, pada jam 3 dinihari (ay. 25). Bagi mereka, mungkin ini sudah terlambat tetapi tidak bagi Tuhan. Ia datang pada waktu-Nya yang tepat. Kedatangan Tuhan sempat membuat mereka semakin ketakutan karena mengira bahwa Ia adalah hantu (ay. 26). Ketakutan itu muncul karena Tuhan datang dengan berjalan di atas air. Walau hal ini menunjukan kuasa-Nya atas alam, tetapi kepanikan para murid membuat mereka tidak mengenali Tuhan dan kuasa-Nya.

Dalam situasi itu Tuhan menyatakan diri-Nya. T enanglah! Aku ini, jangan takut! (ay. 27). Seruan ini menegaskan bahwa Ia telah hadir di tengah ketakutan mereka untuk menolong. Bukan hanya memberi ketenangan tetapi memberi jalan keluar. Ungkapan Aku ini menegaskan bahwa inilah Guru yang setia dan berkuasa; yang tidak meninggalkan mereka terutama dalam situasi yang buruk. Seruan untuk menjadi tenang memberi penegasan bahwa hanya dalam ketenangan mereka bisa melihat pertolongan Tuhan. Kepanikan hanya memperburuk keadaan.

Petrus kemudian meminta: Tuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu(ay. 28). Petrus ingin memastikan bahwa yang datang adalah Tuhan Yesus dan dengan kuasa Tuhan ia pun dapat berjalan di atas air (ay. 29). Ternyata benar bahwa Tuhan mengizinkannya dan dengan kuasa Tuhan ia pun dapat berjalan di atas air. Namun ketika perhatiannya teralih darui Tuhan kepada badai maka hatinya menjadi ragu dan ia mulai tenggelam (ay. 30). Imannya melemah bukan karena badai lebih besar, tetapi karena fokus berpindah dari Kristus ke masalah. Namun di titik ini tampak jelas kesetiaan Tuhan. Yesus segera mengulurkan tangan dan memegang dia. Tuhan tidak menunggu Petrus tenggelam lebih jauh. Ia segera menolong (ay. 31). Pertolongan itu diikuti dengan peringatan atas keraguan Petrus. Setelah itu Yesus dan Petrus naik ke perahu dan angin pun reda (ay. 32). Kehadiran Tuhan adalah pusat damai yang sejati. Para murid merespon ini dengan menyembah-Nya dan mengakui Sesungguhnya Engkau Anak Allah!. Ternyata badai melahirkan pengakuan iman yang lebih dalam (ay. 33).

Aplikasi

Perikop ini mengajarkan beberapa hal kepada kita, seperti: Pertama, dalam kehidupan yang penuh ketaatan pun badai hidup dapat terjadi. Kita mungkin merasa pergumulan yang kita alami terlalu berat dan tanpa jalan keluar. Namun, Tuhan selalu hadir dan dengan setia menolong umat-Nya.

Kedua, kepanikan hanya membuat persoalan terlihat lebih mengerikan. Berusahalah menjadi lebih tenang dengan memberi kekuatan untuk berjalan di atas badai. Ia tidak hanya keyakinan Tuhan ada dan menolong kita. Tuhan pasti bapa gereja Agustinus menyimpulkan tentang peristiwa ini menenangkan badai, tetapi mengajar kita melaluinya. Seorang

Yesus datang melangkah di atas ombak dan dengan demikian, Ia meletakan semua gelombang kehidupan di bawa telapak kaki-Nya. Dalam kehidupan, ada banyak hal yang mampu kita tangani sendiri. Tetapi ada pula masalah tertentu yang terlalu besar untuk kemampuan kita. Ketika Yesus masuk dalam hidup seseorang, Ia membawa ketenangan yang tidak dapat diberikan dunia. Kehadiran-Nya bisa kita rasakan melalui firman-Nya yang menyapa kita.

Ketiga, ketika iman melemah, tangan-Nya tetap setia memegang kita untuk menyelamatkan. Fokuslah kepada Yesus yang menolong dan bukan pada besarnya masalah. Fokus pada Yesus membuat kita berani menghadapi berbagai persoalan hidup dengan keberanian, meskipun terlihat mustahil.

Keempat, badai menghasilkan pengenalan akan Tuhan yang lebih dalam. Terkadang Tuhan mengizinkan badai terjadi dalam hidup kita agar kita menyadari keterbatasan kita dan menyadari kasih dan pertolongan Tuhan yang tidak terbatas. Kita menyadari bahwa kita membutuhkan-Nya dalam perjalanan kehidupan kita. Ketika semua pegangan lain runtuh, Tuhanlah satu-satunya batu karang pertolongan yang tidak tergoyahkan. Karena itu, jangan takut apalagi menyerah ketika menghadapi badai kehidupan. Jangan lari pada alkohol atau obat-obatan terlarang; jangan lari pada kekerasan atau bunuh diri. Semua itu hanya memperburuk persoalan. Mintalah pertolongan Tuhan dan bersandarlah kepada-Nya karena la sanggup menolong kita. (ymw)