TAKARI, https://www.sinodegmitkolportase.or.id, – Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Semuel Pandie, menegaskan bahwa persidangan gereja harus menjadi momentum penguatan relasi dengan Tuhan serta aksi nyata dalam menjaga kelestarian alam. Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan Sidang Klasis Fatuleu Timur ke-XIV di Gereja GMIT Betel Nunasi, Desa Tanini, Minggu (18/1).

Agenda utama Sidang Klasis Fatuleu Timur ke-XIV ini berfokus pada evaluasi mendalam terhadap capaian pelayanan sepanjang tahun berjalan serta penyusunan strategi pelayanan ke depan. Persidangan ini menjadi forum pengambilan keputusan tertinggi di tingkat klasis untuk membahas laporan pertanggungjawaban pelayanan dan mengevaluasi efektivitas program yang telah dilaksanakan oleh seluruh jemaat di wilayah Fatuleu Timur.

Selain evaluasi, persidangan ini membahas serta menetapkan Program Pelayanan Tahun 2026 yang dirancang untuk menjawab tantangan zaman dan kebutuhan jemaat. Pembahasan tersebut mencakup penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Klasis (APBK) Tahun 2026, yang akan menjadi instrumen finansial utama dalam mendukung operasional pelayanan, penguatan kapasitas pendeta, serta program pemberdayaan ekonomi jemaat yang selaras dengan misi lingkungan hidup.

Pdt. Semuel Pandie dalam suara gembalanya menekankan bahwa seluruh rangkaian persidangan, termasuk pembahasan anggaran, pada hakikatnya adalah bagian dari ibadah. Menurutnya, keputusan yang bermutu bagi pelayanan jemaat hanya dapat lahir jika seluruh peserta menjaga relasi yang benar dengan Tuhan dan sesama.

Sebagai wujud nyata dari tanggung jawab iman, Ketua Sinode bersama Bupati Kupang melakukan penanaman anakan pohon secara simbolis. Aksi ini merupakan bagian dari program kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kupang untuk menanam satu juta pohon. "Kegiatan ini adalah cara kita mencintai alam dan memastikan program satu juta pohon ini sukses melalui kemitraan dengan pemerintah," ujar Pdt. Semuel.

Bupati Kupang, Yosef Lede, mendukung penuh agenda persidangan ini dan berharap program yang ditetapkan dapat bersinergi dengan kebijakan pemerintah daerah. Ia menyoroti peluang kolaborasi di sektor pertanian, seperti pengembangan 700 hektare jambu mente serta pengadaan satu juta pohon kopi dan jeruk di wilayah Fatuleu, Takari, dan Amfoang.

"Saya meminta para pendeta melalui persidangan ini untuk turut memotivasi jemaat agar lebih produktif memanfaatkan lahan. Pemerintah membuka ruang sinergi seluas-luasnya agar program pelayanan gereja dan pembangunan daerah berjalan beriringan," tegas Yosef Lede.

Acara pembukaan ini juga ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung baru Gereja GMIT Betel Nunasi oleh Bupati Kupang, Ketua Sinode GMIT, dan Anggota DPRD Kabupaten Kupang, Habel Mbate. Turut hadir dalam kesempatan tersebut para pimpinan OPD Kabupaten Kupang, Camat Takari, Ketua Majelis Klasis Fatuleu Timur, serta para utusan persidangan dari berbagai jemaat. ***