Kita
harus jujur bahwa penekanan gereja terhadap teologi keselamatan yang
antroposentrik sangat kuat di Indonesia. Pengaruh teologi ini dari M. Luther
dan Y. Calvin
yang tertanam dalam ajaran kekristenan sampai hari ini. Kedua tokoh memiliki pandangan antroposentrik. Luther memandang alam bukan sebagai
saksi kemuliaan Allah, sedangkan Calvin melihat alam hannyalah latar belakang dari drama penyelamatan manusia. Kemudian hari pengajaran dalam gereja selalu
menekankan bahwa Kristus datang untuk menebus manusia. Fokus interpretasi pada Yohanes 3:16, sehingga oleh
sebagian besar para pemimpin gereja terletak pada keselamatan manusia bukan
keselamatan dunia.
Selain
itu, teologi penciptaan yang bias antroposentrisme serta dualisme hierarkis
juga dianut oleh gereja-gereja di Indonesia. Di mana manusia dianggap sebagai
pusat ciptaan. Teologi penciptaan ini cenderung berpikir bahwa manusia adalah
ciptaan yang paling istimewa dan berhak mengusai ciptaan-ciptaan lain. Manusia
berelasi dengan ciptaan lain secara piramidal. Mereka tidak hanya menemukan diri mereka berbeda,
tetapi juga terpisah dari ciptaan-ciptaan lain. Manusia menganggap diri
sebagai tuan atas ciptaan-ciptaan lainnya. Dalam minggu terakhir di Bulan Lingkungan ini berbicara tentang keutamaan
Kristus.
Latar
belakang surat Kolose 1:15-23 sangat diwarnai oleh kebudayaan Yudaisme dan
Helenisme. Helenisme merupakan kebudayaan yang sangat memegahkan kekuatan
manusia dan bersifat patriakhi,
walaupun perempuan masih diberikan kesempatan untuk memimpin. Helenisme juga
menghadirkan filsafat- filsafat asing yang ajarannya bersifat dualistik,
membandingkan antara roh dan materi/dunia. Sama halnya dengan Helenisme,
Yudaisme juga merupakan kebudayaan yang bersifat patriakhi dengan ajaran
agamanya mengenai manusia sebagai ciptaan yang paling istimewa dan alam
diciptakan untuk manusia. Helenisme-Yudaisme
bukan saja melahirkan arogansi manusia terhadap alam tetapi lebih tepatnya,
arogansi terhadap ciptaan, karena permasalahan yang terjadi bias patriakhi,
bukan hanya antara manusia dengan alam tetapi juga antar sesama manusia, laki-laki dan perempuan.
Laki-laki
adalah pihak yang berkuasa atas seluruh ciptaan. Laki-laki dipandang lebih tinggi dari perempuan. Laki-laki
diciptakan baik adanya,
tetapi tidak demikian dengan perempuan yang merupakan sumber dosa. Perempuan diciptakan tidak sama dengan
laki-laki. Hanya karena satu perempuan berbuat dosa, semua perempuan digiring
dalam penghukuman Allah. Perempuan
lambang dosa dan mengakibatkan laki-laki berada dalam dosa.
Ketidakteraturan
dalam dunia disebabkan oleh perempuan. Perempuan yang merusak semuanya. Allah yang menciptakan langit dan bumi dipahami
dalam konteks Allah menciptakan laki-laki dan perempuan. Laki-laki seperti
langit yang memberi dan perempuan seperti bumi yang merespons. Ada inferioritas dan superioritas.
Selain
latar belakang telah disebutkan di atas, ada ajaran kosmologi yang berkembang
pada waktu itu. Isi ajaran tersebut merupakan penyangkalan terhadap doktrin
penciptaan. Ajaran tentang dunia diciptakan dari emanasi Allah yaitu demiurgos.
Hal ini berkaitan dengan keyakinan orang Yahudi, yang meyakini bahwa penciptaan
terjadi untuk kepentingan mereka karena merekalah umat pilihan Allah. Mereka
tidak mengakui bahwa Yesus adalah Kristus,
Sang Mesias. Umat Yahudi meyakini bahwa Allah menciptakan dunia
melalui Taurat.
Melalui latar belakang yang telah
digambarkan, memberikan suatu dorongan bagi Paulus untuk menjelaskan serta menekankan mengenai doktrin
penciptaan dan kedudukan Kristus di dalamnya.
Ayat
15, disebutkan bahwa Kristus adalah gambar Allah, yang sulung, lebih utama dari
segala yang diciptakan, kepala tubuh, dan lain sebagainya. Paulus hendak menekankan kesetaraan antara Kristus, Allah
Bapa dan Roh Kudus. Pertama, kesetaraan
Kristus dengan Allah Bapa secara implisit nampak dalam frase gambar Allah, ayat
15a. “Ia adalah gambar Allah yang
tidak kelihatan”. Paulus
menggunakan kata eivkw.n yaitu
gambar atau citra. W. Barclay mengemukakan bahwa suatu gambar dapat berupa
representasi, tetapi suatu representasi, apabila benar-benar sempurna dapat
menjadi manifestasi. Kristus disebut gambar Allah yang tidak kelihatan. Gambar
Allah serupa dengan Kebijaksanaan Ilahi. Tradisi Yahudi menerangkan bahwa gambar Allah bukanlah
manusia yang fana, melainkan Kebijaksanaan atau Sang Sabda. Kristus adalah
manifestasi yang sempurna dari Allah, Sang Bapa. Kristus adalah kebijaksanaan
ilahi yang telah menciptakan segala sesuatu, datang ke dunia dalam wujud
manusia yang fana, menderita, mati dan bangkit dari kematian. Semuanya ini
terjadi karena Allah Bapa ada di dalam Kristus.
Kedua, frase “yang sulung” pada ayat
15b menjelaskan kesetaraan antara Kristus, Allah Bapa dan Roh Kudus. Barclay menjelaskan bahwa kata “yang sulung” menunjuk pada dua pemahaman. Pertama, kata ini merupakan sebutan
umum untuk penghormatan, misalnya bangsa Israel adalah anak sulung Allah.
Kedua, “yang sulung” merupakan gelar bagi Mesias.
Berdasarkan teks ini, maka arti yang kedua lebih tepat dikenakan pada Kristus,
karena mengungkapkan hubungan antara
Kristus dengan Allah Bapa dan Roh Kudus pada karya penebusan, peran pengutusan
Kristus ke dalam dunia sekaligus menentang pemahaman umat Yahudi yang tidak
mempercayai bahwa Kristus ialah Mesias.
Pada
ayat 16-17, mengatakan Kristus yang dikenal dalam karya penebusan. Kristus
sebagai pencipta alam semesta telah menciptakan segala sesuatu, yang di sorga
dan di bumi, yang kelihatan dan tidak kelihatan, sekaligus menjadi pusat atau
bagian yang integral dari seluruh ciptaan-Nya. Ayat tersebut menepis ajaran
dualisme para ahli-ahli filsafat tentang roh yang baik dan materi yang jahat.
Menurut
Paulus, perbedaan Allah Bapa, Sang Anak dan Roh kudus terletak dalam peran-Nya,
namun satu hakikat tiga pribadi. Pandangan ini menjelaskan bahwa peran dari Sang Bapa,
Sang Anak dan Roh Kudus memang berbeda, akan tetapi kehadiran ketiga-Nya tidak
dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Pada karya
penciptaan Kristus hadir
sebagai pencipta segala
sesuatu dalam peran yang berbeda dengan Sang Bapa.
Pada
ayat 18-19, Paulus menggunakan istilah atau konsep kepala tubuh untuk
menjelaskan kedudukan kosmik Kristus. Konsep ini nampaknya diadaptasi dari filsafat Stoa, Philo dan
Neoplatonisme. Stoa memahami bahwa dunia adalah tubuh Allah. Philo menjelaskan
tentang alam semesta yang merupakan komponen-komponen terpisah, namun disatukan
oleh Allah sedangkan Neoplatonisme menekankan bahwa Yang Esa adalah sebab pertama dan dasar segala makhluk. Stoa dan
Philo juga meyakini bahwa dunia tersusun dari empat elemen yakni api, air, udara dan bumi. Kelihatannya teori-teori kosmologi ini
mempengaruhi penulis menggunakan istilah kepala tubuh dalam ayat 18a. Ciptaan yang sifatnya beraneka ragam dilukiskan seperti tubuh yang
memiliki banyak anggota dengan peran atau fungsi yang berbeda dan Kristus
seperti kepala yakni bagian dari tubuh yang mengendalikan gerak atau proses
kerja tubuh.
Konsep
kepala tubuh menjelaskan bahwa seluruh ciptaan itu baik dan berpusat pada
Kristus yang bertindak sebagai pemimpin, mengendalikan seluruh ciptaan. Konsep ini hampir sama seperti pemikiran Philo
bahwa seluruh ciptaan merupakan komponen
yang terpisah-pisah dipersatukan dalam kesatuan tunggal oleh Kristus kosmik,
karena bukan kesatuan yang terpisah-pisah melainkan seluruh ciptaan merupakan suatu keutuhan dengan
peran yang berbeda-beda dan dikepalai oleh Kristus.
Ciptaan berpusat pada Kristus tetapi ciptaan bukanlah Kristus. Kedudukan kosmik
Kristus bukanlah panteisme.
Ayat
20 dan 22, Segala sesuatu berpusat pada Kristus sehingga karya penebusan yang
dilakukan oleh Kristus bersifat kosmik, yakni melibatkan seluruh alam semesta.
Kristus berkarya bagi seluruh alam semesta dan tujuan kedatangan-Nya adalah
pendamaian atau rekonsiliasi. Kristus mendamaikan segala sesuatu dengan
diri-Nya. Segala sesuatu yakni ta panta dalam
bahasa Yunani adalah kata yang bersifat netral, bukan maskulin atau feminim
yang berarti bahwa pendamaian Allah bukan saja ditawarkan kepada semua manusia,
melainkan juga kepada seluruh ciptaan, yang bernyawa maupun tidak bernyawa.
Wafat Kristus menyelamatkan seluruh ciptaan. Wafat Kristus adalah bukti cinta
bagi ciptaan-Nya. Sarana pendamaian adalah salib Kristus. Superioritas Kristus ditekankan oleh C.
Barth. Barth
menyampaikan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang tidak gagal dalam memenuhi
tugas-Nya.
Keilahian
Kristus menjadi hal yang terpenting sehingga aspek kemanusiaan Yesus
seolah-olah terabaikan. Kosuke Koyama dalam buku Tidak Ada Gagang Pada Salib menawarkan suatu perspektif keutamaan
Yesus Kristus dilihat dari Yesus yang diludahi. Koyama menekankan pengosongan
diri Yesus, Yesus yang benar-benar mengambil rupa seorang hamba, menjadi
manusia yang rendah, Yesus yang diludahi untuk menyelamatkan dunia ini. Aspek
pengosongan diri atau sisi kemanusiaan Yesus inilah yang menjadi bukti keutamaan-Nya.
Kristus yang berinkarnasi adalah Kristus yang
hadir bukan sebagai tokoh yang berkuasa, unggul tetapi sebaliknya Ia datang
sebagai seseorang yang rendah, dianiaya, disiksa, diludahi, dicerca bahkan karena penderitaan ini, di taman
Getsemani Ia berdoa agar penderitaan tersebut boleh berlalu daripada-Nya. Yesus
menyelamatkan dunia ini dari dosa
bukan dalam superioritas-Nya tetapi dalam pengosongan diri-Nya.
Keutamaan
Kristus menjadi pokok penekanan karena
situasi yang terjadi pada saat itu dianggap dapat membahayakan kehidupan iman
jemaat. Situasi yang dimaksudkan ialah kehadiran ajaran-ajaran sesat atau
filsafat-filsafat kosong yang mempengaruhi cara pandang sehingga mampu
menghasilkan perubahan perilaku yang jahat, seperti digambarkan pada ayat 21. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah
dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari
perbuatanmu yang jahat. Tokoh kamu pada
ayat ini menunjuk kepada orang-orang yang kehidupannya tidak
sesuai dengan Injil
yang diberitakan oleh Paulus
tetapi mengikuti ajaran-ajaran sesat.
Ayat
23, Penulis merasa penting untuk memberikan nasehat kepada jemaat Kolose agar
tetap berpegang teguh, jangan mudah goyah mendengar ajaran-ajaran dari
guru-guru palsu.
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Pertama, firman Tuhan saat ini menekankan
tentang kesetaraan semua ciptaan dalam karya penciptaan, karya penebusan dan
pendamaian serta kedudukan Kristus sebagai kepala dari seluruh alam semesta
tanpa terkecuali. Maka dengan demikian, tidak ada orang (laki-laki dan
perempuan) yang merasa superior terhadap ciptaan yang lain. Anda dan saya
jangan menganggap diri sebagai pusat ciptaan bahkan paling istimewa dan berhak
mengusai ciptaan-ciptaan lain. Relasi manusia dengan ciptaan lain bukan secara piramida, melainkan relasi persahabatan yang
saling membutuhkan.
Ketika
manusia merasa superior terhadap ciptaan yang lain, maka manusia sesuka hatinya
menindas ciptaan yang lainnya. Namun ketika manusia membangun relasi
persahabatan, maka saling membutuhkan, melengkapi dan saling mengasihi. Oleh
karena itu di minggu terakhir bulan lingkungan, kita merelatifkan diri kita dan
membangun relasi yang baru dengan sesama ciptaan yang lain.
Kedua, dari firman Tuhan kita belajar untuk
meneladani Kristus. Melihat ciptaan
sebagai bagian yang utuh dan tidak terpisah, setara dan saling bergantung,
dengan tanggung jawab manusia sebagai penatalayanan. Sebagai
manusia, kita menghargai
nilai dari semua ciptaan, tetapi juga ada tanggung jawab manusia tidak dapat
terpisah dari Kristus.
Maka
dengan demikian kita diingatkan bahwa apa pun sikap Anda dan saya terhadap
sesama ciptaan yang lain, ada tanggung jawab kepada Kristus. Oleh karena itu,
kelola alam dengan rasa hormat dan takut akan Tuhan.
Ketiga,
melalui firman Tuhan saat ini kita diingatkan bahwa sebagai sesama ciptaan
jangan menciptakan dualisme, rohani dan jasmani. Rohani suci jasmani kotor.
Karya Kristus hanya ada dalam gereja, kesaksian orang-orang percaya, namun alam
penuh dengan dosa dan kekuatan jahat. Oleh karena itu gereja hanya mengurus
yang rohani, sedangkan jasmani pihak lain yang mengurus. Dari Firman saat ini
kita diingatkan bahwa Kristus adalah kepala dari alam semesta. Ciptaan adalah
bagian yang utuh, tidak terpisahkan dari karya Kristus. Maka dengan demikian,
manusia mengurus, menjaga, merawat karya Kristus. Mengurus alam adalah
kesaksian orang-orang percaya tentang Kristus. Alam tidak ada kejahatan sebab
kejahatan itu dilakukan oleh manusia. Ketika manusia mengangkat senjata untuk
melawan alam, maka alam juga mengangkat senjata untuk melawan manusia.
Keempat, di minggu
terakhir bulan lingkungan, manusia diminta untuk ada pertobatan, yaitu berbalik dari tindakan yang
dilarang oleh Allah dan melakukan apa yang Ia kehendaki. Pertobatan yang
dimaksud oleh teks Kolose 1:15-23 adalah perubahan cara pandang atau perilaku
yang mengakibatkan penderitaan terhadap sesama ciptaan yang lain.
Bertobat dari perlakuan
semena-mena terhadap ciptaan lain, memosisikan diri unggul dari ciptaan lain,
dan lain sebagainya. Pertobatan dari ajaran sesat.
Salah satu pokok ajaran sesat adalah memandang
manusia sebagai pusat keselamatan, manusia superior terhadap ciptaan yang lain.
Memisahkan rohani dan jasmani. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Kristuslah
pusat, manusia adalah ciptaan. Keselamatan bagi seluruh ciptaan.
Hanya
dengan adanya pertobatan
dari manusia, maka kita akan menuju pada masa depan ciptaan yang baru dalam Kristus. Amin.