Jemaat yang dikasihi Tuhan, dalam hidup ada satu pertanyaan
yang sering muncul diam-diam di hati, terutama ketika kita lelah:
“Sampai kapan?” Sampai kapan saya harus bertahan? Sampai kapan saya
harus kuat? Sampai kapan saya harus mengalah? Sampai kapan saya harus mengurus
ini, memikul itu, menghadapi ini? Pertanyaan “sampai kapan” biasanya lahir
bukan karena kita malas, tetapi karena kita manusia. Kita mempunyai batas. Kita
mempunyai luka. Kita mempunyai hari-hari ketika iman terasa seperti baterai lowbat dan charger-nya entah di mana.
Minggu Sengsara membawa kita semakin
dekat pada realitas bahwa jalan bersama Tuhan tidak selalu jalan yang mulus.
Minggu lalu kita melihat Tuhan menyediakan jalan di tengah kebuntuan. Hari ini
kita belajar sesuatu yang sama pentingnya: setelah jalan dibuka, perjalanan
tetap panjang. Dan dalam perjalanan itu, yang paling kita butuhkan bukan
sekadar strategi, bukan sekadar motivasi, bukan sekadar semangat sesaat
melainkan kekuatan yang bersumber dari kasih karunia.
Itulah mengapa 2 Timotius 2 dibuka
dengan kalimat yang terasa sederhana tetapi sangat dalam: “Hai anakku, jadilah
kuat oleh kasih karunia yang ada dalam Kristus Yesus.” Perhatikan: Paulus tidak
berkata, “Hai anakku, jadilah kuat oleh mentalmu.” Ia tidak berkata, “Jadilah
kuat karena kamu pemimpin gereja.” Ia tidak berkata, “Jadilah kuat supaya orang
lihat kamu hebat.” Ia berkata,
“jadilah kuat oleh kasih karunia.” Artinya, sumber kekuatan
orang percaya bukan terutama dari dalam
dirinya sendiri, melainkan dari Kristus yang bekerja di dalam dirinya.
Hal ini penting
sekali, karena banyak
orang Kristen kelelahan bukan karena terlalu
banyak pekerjaan saja, tetapi karena
mereka mencoba menjalani hidup rohani dengan mesin yang salah. Mereka
mencoba menjadi kuat dengan ego, dengan gengsi, dengan “saya harus kelihatan
sanggup.” Akhirnya mereka kehabisan tenaga, lalu merasa bersalah karena mengira
iman mereka kecil. Padahal firman Tuhan hari ini membebaskan kita dari pola
itu: Tuhan tidak meminta kita kuat sendirian; Tuhan mengundang kita kuat karena kasih karunia, karena ada anugerah
yang menopang, ada Kristus yang hadir, ada Roh Kudus yang
menguatkan.
Kita juga perlu ingat konteks surat ini.
Paulus menulis kepada Timotius bukan dari ruang nyaman, tetapi dari penjara.
Ini bukan motivasi orang yang sedang “hidup enak.” Ini nasihat orang yang
sedang menderita dan justru karena itu nasihatnya dapat dipercaya. Paulus tahu
apa itu luka. Paulus tahu apa itu ancaman. Paulus tahu apa itu kesepian. Namun
ia masih bisa berkata kepada anak rohaninya: “Jadilah kuat.” Dan bukan cuma
kuat, kuat oleh kasih karunia. Karena Paulus sendiri mengalami bahwa
kasih karunia tidak berhenti bekerja ketika hidup menjadi gelap. Justru ketika
gelap, kasih karunia menyala paling jelas.
Lalu Paulus berbicara tentang satu hal yang
sangat menentukan masa depan pelayanan: apa yang Timotius dengar dari Paulus
harus diteruskan kepada
orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain. Ini seperti rantai
estafet. Iman bukan barang yang disimpan sendiri; iman adalah api yang
diteruskan. Dan di sini kita melihat bahwa penderitaan sering membuat orang
ingin mundur, ingin menyendiri, ingin “selesai saja dengan urusan rohani.”
Tetapi Paulus berkata justru dalam tekanan, kamu harus memastikan yang kamu terima
tidak putus. Kalau rantai iman putus, generasi
berikutnya kehilangan cahaya. Jadi ketahanan rohani
bukan hanya demi diri kita;
ketahanan rohani adalah
demi kesaksian dan masa depan komunitas. Setelah itu Paulus mengajak
Timotius “ikut menderita
sebagai seorang prajurit
yang baik dari Kristus Yesus.”
Kalimat ini jujur: ikut Kristus bukan paket “bebas
masalah.” Ini paket “ikut menderita” dalam arti: kita tidak selalu memilih
kondisi, tetapi kita memilih kesetiaan. Namun Paulus tidak berhenti pada kata
“menderita.” Ia memberi tiga gambaran yang sangat praktis, tiga potret
ketahanan.
Pertama, gambaran prajurit. Paulus
berkata, seorang prajurit yang bertugas tidak memusingkan dirinya dengan urusan
penghidupan sehari-hari, supaya ia berkenan kepada komandannya. Ini bukan
berarti prajurit tidak boleh mempunyai kehidupan, tetapi prajurit harus
mempunyai fokus. Ketahanan butuh fokus. Banyak orang tumbang bukan karena
serangan besar, tetapi karena kehabisan tenaga oleh hal-hal kecil yang tidak
perlu seperti drama, gosip, iri hati, perebutan pengakuan, dan energi yang bocor ke sana-sini. Paulus
seolah berkata, “Kalau kamu mau bertahan, kamu harus tahu apa yang utama dan
apa yang sekunder.” Dalam hidup rohani, fokus itu adalah berkenan kepada
Kristus, bukan kepada penilaian orang.
Kedua, gambaran olahragawan. Paulus berkata, seorang olahragawan tidak akan mendapat mahkota, kalau ia tidak bertanding menurut aturan. Ini bicara tentang integritas. Ketahanan bukan hanya soal kuat menahan sakit; ketahanan juga soal tetap benar ketika ada jalan pintas. Banyak orang ingin hasil cepat, lalu kompromi: “Yang penting sukses.” Tetapi iman tidak dibangun di atas jalan pintas. Iman dibangun di atas kebenaran yang konsisten. Paulus seperti mengingatkan: dalam penderitaan, godaan terbesar bukan hanya putus asa; godaan terbesar juga adalah menghalalkan cara, mengubah prinsip, demi keluar cepat dari tekanan.
Ketiga, gambaran petani. Paulus
berkata, petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil
usahanya. Petani mengajari kita tentang proses. Petani mengajari kita tentang
kesabaran. Petani mengajari kita bahwa buah tidak lahir di hari yang sama
ketika benih ditanam. Ketahanan berarti sanggup hidup dalam proses tanpa
menjadi pahit. Ketahanan berarti sanggup terus bekerja meski belum melihat
hasil. Dan banyak dari kita sedang berada di fase petani: kita menabur dalam
keluarga, menabur dalam pelayanan, menabur dalam pendidikan anak, menabur dalam
pekerjaan tetapi belum panen. Paulus berkata: jangan menyerah. Tuhan bekerja
melalui proses. Panen itu milik Tuhan, tetapi kesetiaan menabur itu panggilan
kita.
Setelah tiga gambaran itu, Paulus
menambahkan satu kalimat yang membuat semuanya kembali ke pusat: “Ingatlah
Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang dilahirkan
sebagai keturunan Daud, itulah Injilku.” Hal ini penting. Paulus tidak ingin
Timotius sekadar jadi orang kuat karena teknik, disiplin, atau strategi. Paulus
ingin Timotius kuat karena ia ingat siapa yang ia ikuti. Dan pusatnya adalah:
Yesus bangkit. Artinya, penderitaan
bukan kata terakhir. Kematian bukan kata terakhir. Kekalahan bukan kata
terakhir. Dalam Minggu Sengsara, kita sedang berjalan menuju salib, tetapi kita
tidak berhenti di salib. Kita berjalan menuju Paskah. “Ingatlah Yesus Kristus”
berarti: dalam momen paling gelap, jangan putuskan hidupmu berdasarkan gelap
itu; putuskan hidupmu berdasarkan Kristus yang bangkit.
Lalu Paulus mengucapkan sesuatu yang
terdengar seperti paradoks: “Karena Injil itulah aku menderita, malah sampai
dibelenggu seperti penjahat.
Tetapi firman Allah tidak terbelenggu.” Ini kalimat yang luar biasa. Paulus bisa terbelenggu, tetapi firman Allah tidak. Paulus bisa
dibatasi ruang geraknya, tetapi Injil tidak bisa dipenjara. Ini mengajarkan
kita satu prinsip ketahanan: ketika keadaan membatasi kita, Tuhan masih bisa
bekerja. Ketika pintu tertutup, Tuhan masih bisa membuka jalan lain. Ketika
platform kita mengecil, kuasa Tuhan tidak mengecil. Ketika kita merasa “tidak
bisa apa-apa lagi,” Tuhan sering justru berkata, “Sekarang Aku yang bekerja.”
Paulus melanjutkan: ia menanggung semuanya demi orang-orang
pilihan, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus. Di sini
ketahanan Kristen menemukan maknanya: bertahan bukan sekadar supaya kita
terlihat hebat. Bertahan adalah bentuk kasih: supaya orang lain tidak
kehilangan harapan; supaya iman komunitas tidak runtuh; supaya Injil tetap
terdengar di tengah dunia yang bising.
Kemudian teks ini memberi kita sebuah nyanyian iman, semacam kredo ringkas yang sangat kuat:
“Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun,
kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun
akan menyangkal kita; jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak
dapat menyangkal diri-Nya.” Jemaat, ayat terakhir ini adalah “pegangan darurat”
ketika iman kita bimbang: “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia.”
Ini bukan izin untuk hidup sembarangan.
Ini penghiburan bagi orang yang rapuh. Ini kabar baik bagi orang yang sedang
jatuh bangun. Paulus seperti berkata: “Kamu bisa goyah, tetapi Kristus tidak
goyah.” Kamu bisa lemah, tetapi Kristus tidak lemah. Kamu bisa bingung, tetapi
Kristus tetap setia. Keselamatan kita berdiri di atas kesetiaan Kristus, bukan
di atas perfeksionisme kita. Dan inilah kekuatan yang paling dalam: ketika kita
merasa “aku tidak sanggup,” kita bisa bersandar pada Dia yang bersabda, “Kasih
karunia-Ku cukup bagimu.”
Sekarang mari kita bawa ini ke hidup kita secara nyata.
Banyak dari kita sedang memikul penderitaan yang berbeda-beda. Ada yang
menderita karena beban keluarga: relasi yang sulit, anak yang membuat hati
cemas, pasangan yang tidak mengerti. Ada yang menderita karena ekonomi: harga
naik, kebutuhan banyak, penghasilan tidak bertambah. Ada yang menderita karena
kesehatan: tubuh melemah, obat rutin, ketakutan akan masa depan. Ada yang
menderita karena pelayanan: kritik datang, dukungan tipis, tenaga habis. Ada juga
penderitaan yang tidak kelihatan: rasa sepi, rasa gagal, rasa bersalah, luka
lama yang kambuh.
Firman Tuhan hari ini tidak mengecilkan itu. Firman Tuhan justru memberi arah: kalau kamu mau bertahan, jangan mengandalkan diri. Jadilah kuat oleh kasih karunia. Kekuatan itu bukan emosi yang selalu tinggi; kekuatan itu adalah keputusan untuk tetap melekat pada Kristus hari demi hari. Bagaimana bentuknya secara praktis? Kita bisa belajar dari tiga gambar tadi.
Sebagai prajurit: tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang
sedang menyedot energiku tanpa membangun imanku?” Mungkin itu kebiasaan
membandingkan diri, mungkin itu konflik yang kita pelihara, mungkin itu
kebiasaan memperbesar komentar orang. Ketahanan butuh pengelolaan fokus. Tidak
semua hal layak menghabiskan energimu.
Sebagai olahragawan: tanyakan pada diri, “apakah dalam
tekanan aku sedang tergoda mengambil jalan pintas?” Ketahanan rohani berarti
tetap benar meski lambat. Tetap jujur meski rugi. Tetap bersih meski tidak
terlihat. Karena mahkota Tuhan bukan
bagi yang tercepat, tetapi bagi yang setia.
Sebagai petani: tanyakan pada diri, “apakah aku sedang
menabur tanpa sabar, lalu menjadi pahit?” Ingat, Tuhan bekerja melalui proses. Panen tidak selalu cepat,
tapi panen Tuhan selalu tepat.
Dan di atas semuanya, ingatlah Yesus Kristus. Ingatlah
bahwa Dia bangkit. Dalam Minggu Sengsara, kita tidak memuliakan penderitaan;
kita memuliakan Kristus yang setia di dalam penderitaan. Kita tidak mencari
sakit; kita mencari kesetiaan. Dan kesetiaan itu mempunyai ujung yaitu
kehidupan.
Jemaat
yang dikasihi Tuhan, mungkin minggu ini kita tidak langsung
keluar dari kesulitan. Tetapi kita bisa keluar
dari satu hal yang paling berbahaya: keputusasaan. Kita bisa keluar dari
pikiran bahwa Tuhan sudah meninggalkan kita. Karena firman hari ini berkata:
meski kamu goyah, Dia tetap setia.
Mari kita tutup dengan doa yang sederhana: Tuhan, ajar kami
bertahan bukan dengan gengsi rohani, tetapi dengan kasih karunia. Ketika kami
lemah, jadikan kami kuat oleh anugerah-Mu. Ketika kami tergoda menyerah,
ingatkan kami pada Kristus yang bangkit. Ketika kami tidak setia, pegang kami
dengan kesetiaan-Mu. Dan biarlah ketekunan kami menjadi kesaksian bahwa
firman-Mu tidak pernah terbelenggu. Amin.