Fatuleu Barat – Kupang, https://sinodegmitkolportase.or.id, Bulan
Oktober 2025 menjadi momen istimewa bagi Jemaat Getsemani Oelbubuk, Klasis
Fatuleu Barat, saat 123 kepala keluarga bersatu dalam rangkaian Ibadah
Keluarga. Dimulai di gereja dan dilanjutkan secara rutin di berbagai titik
rayon, kegiatan ini menjadi panggilan untuk memulihkan peran fundamental
keluarga sebagai benteng iman.
Ketua Majelis Jemaat, Pdt. Martha Ndun-Lomi,
menjelaskan bahwa tujuan utama ibadah bulan keluarga ini adalah menguatkan
kembali kasih dalam keluarga dan antar rayon.
"Kami ingin setiap keluarga menyadari
betapa pentingnya kasih sebagai dasar hidup bersama. Lebih jauh, kegiatan ini
bertujuan membangun iman, menumbuhkan tanggung jawab rohani, memulihkan relasi
yang retak, dan mempersiapkan keluarga menjadi berkat bagi lingkungan sekitar,"
ujar Pdt. Martha.
Ibadah yang dilakukan secara rutin di setiap
rayon ini dirancang khusus untuk "menyentuh dan membentuk hati"
jemaat. Liturgi yang digunakan dibuat bervariasi setiap minggunya, disesuaikan
dengan tema dan kebutuhan, serta melibatkan penuh seluruh anggota
keluarga—bapak, mama, dan anak-anak—yang dipersiapkan oleh Penatua atau Diaken
Rayon. Partisipasi anggota keluarga, dari yang terkecil hingga dewasa, diatur
dalam liturgi dengan peran masing-masing, dan bagi keluarga yang mengalami
kesulitan membaca, mereka didampingi oleh majelis rayon yang bertugas.
Motivasi terbesar di balik inisiatif ini adalah
kerinduan untuk membangkitkan kembali peran keluarga sebagai "gereja
kecil." Pdt. Martha menyadari bahwa seiring perkembangan zaman, banyak
keluarga kehilangan waktu bersama, nilai rohani melemah, dan relasi merenggang.
"Dari keluargalah seseorang pertama kali
mengenal kasih, belajar berdoa, dan memahami nilai-nilai Kristen. Gereja
terdorong untuk menolong setiap rumah tangga menghidupkan kembali doa dan
Firman dalam keluarga, meneguhkan kasih dan kesetiaan, agar rumah mereka
menjadi tempat hadirnya kasih, damai, dan tempat iman bertumbuh," tegas
Pdt. Martha. "
Salah satu tantangan yang muncul adalah kendala
literasi di beberapa keluarga. Namun, hal ini diatasi dengan mengatur jadwal
petugas majelis rayon untuk mendampingi keluarga dengan Sumber Daya Manusia
(SDM) di bawah rata-rata, memastikan ibadah tetap berjalan.
Adapun hal yang paling berkesan bagi jemaat
adalah kehangatan dan kebersamaan yang kembali dirasakan. Banyak jemaat mengaku
merasakan kembali arti kehadiran yang sempat hilang karena kesibukan. Momen
ibadah bersama ini menjadi kesempatan untuk berbagi pergumulan, mendoakan satu
sama lain, dan melayani bersama.
"Ibadah dalam bulan keluarga ini bukanlah
soal liturgi atau lagu yang indah, tetapi perjumpaan yang tulus dengan Tuhan
dan sesama anggota keluarga dalam kasih, doa, dan Firman," simpul Pdt.
Martha.
Joni Obenu (41 tahun) dari Rayon Alfa, salah
satu jemaat, merasakan betul nilai-nilai rohani yang menguat. Ia menyebut,
nilai kasih, iman, syukur, pengampunan, keteladanan, dan kesetiaan menjadi yang
paling kuat.
"Keluarga menjadi tempat di mana kasih,
iman, dan pengharapan itu tumbuh secara nyata," katanya.
Menurut Joni, keluarga yang beribadah bersama
akan berbeda ketika menghadapi badai kehidupan, karena Yesus menjadi dasar yang
kuat dalam hidup mereka. ***