Pengantar
Salah satu ciri tradisi beribadah
gereja reformasi adalah pemberitaan firman Tuhan sebagai pusat dalam sebuah
ibadah. Kita melihat desain tata ruang ibadah kita, mimbar diletakkan di
tengah. Hal ini tidak hanya sekadar saja didesain, tetapi menunjukkan fokus
ibadah adalah pada saat Allah berfirman dan umat mendengar firman dengan penuh
sukacita dan terbuka pada firman Tuhan.
Penjelasan Teks
Teks ini berbicara tentang sifat
keterbukaan orang-orang Yahudi di Berea dalam menerima ajaran-ajaran baru yang
berkaitan dengan iman mereka. Dikatakan bahwa mereka lebih baik hati
dibandingkan dengan orang-orang Yahudi di Tesalonika. Perbedaannya terletak
pada sikap mereka: orang Yahudi di Tesalonika menolak firman Tuhan tanpa
mencoba memahaminya, sedangkan orang Yahudi di Berea menerima firman dengan
kerelaan hati sambil menyelidiki kebenarannya di dalam Kitab Suci. Sikap inilah
yang dapat membuat seseorang bertumbuh dalam iman.
Orang Tesalonika menolak firman
Tuhan tanpa mempelajarinya lebih dahulu, sementara orang Berea bersedia
menerimanya dan dengan kritis terus mempelajari firman tersebut. Kesediaan
untuk menyelidiki kebenaran firman Tuhan terlihat dalam pernyataan: "... setiap
hari mereka menyelidiki Kitab Suci..." Kata menyelidiki
diterjemahkan dari kata Yunani anakrino, yang berarti mengayak, menyelidiki
dengan sangat teliti dan cermat. Makna dari menyelidiki ini mencakup
beberapa hal:
1.
Tekun belajar firman Tuhan. Ketekunan ini
membawa kemajuan rohani dalam kehidupan mereka. Minat mereka terhadap firman
Tuhan sangat besar, sehingga mereka menyelidikinya setiap hari tanpa rasa
bosan. Bagi mereka, firman Tuhan adalah hal yang lebih utama dan lebih penting.
2. Ingin memahami lebih dalam. Mereka tidak merasa
cukupdengan apa yang sudah mereka ketahui. Mereka terus belajar agar terjadi
perubahan setiap hari yang membuat mereka semakin baik.
3. Menerima dengan kerelaan hati. Meskipun apa yang
mereka dengar mungkin bertentangan dengan keyakinan sebelumnya, mereka tetap
rela menerimanya dan menyelidiki kebenaran ajaran tersebut. Menarik karena
bacaan ini menyebutkan bahwa mereka yang terbuka untuk menerima firman Tuhan
justru berasal dari golongan terkemuka atau kaum bangsawan. Biasanya, kaum
bangsawan tidak terlalu memperhatikan masalah keagamaan. Namun, di Berea,
banyak dari mereka dengan penuh keterbukaan menerima firman Tuhan dan
menyelidikinya. Meskipun demikian, situasi di Berea tidak semudah yang
dibayangkan. Ketika orang-orang Yahudi di Tesalonika mendengar bahwa Paulus
mengajar di Berea, mereka datang dan menimbulkan kegelisahan di antara orang
banyak. Di mana pun Injil diberitakan, Iblis selalu berusaha menghalangi bahkan
membunuh hamba-hamba Tuhan. Kita harus mewaspadai hal ini dengan terus
bergantung pada kuasa Allah dan pimpinan Roh Kudus-Nya. Tidak ada yang dapat
menghentikan pemberitaan Injil jika Allah ada di pihak kita. Kita juga melihat
bahwa para rasul Tuhan tidak menjalani hidup yang mudah. Mereka dikejar- kejar
dan sering harus berpindah-pindah tempat. Namun, justru dalam situasi seperti
inilah Injil diberitakan ke berbagai kota. Akhirnya, Paulus diantar ke kota
Atena. Hal ini sejalan dengan apa yang sudah dikatakan Yesus semasa ada di
dunia. Dalam Matius 10:23 tertulis: "Apabila mereka menganiaya kamu
dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; ..." Paulus
melaksanakan firman ini dengan setia.
Aplikasi
Beberapa hal yang dapat kita
pelajari dari kisah jemaat di Berea: pertama, Sikap yang Tepat
terhadap Firman Tuhan. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi di Berea
merupakan teladan yang sangat baik bagi kita sebagai pendengar dan pelaku
firman. Sikap yang seharusnya kita miliki adalah menjadi jemaat yang dewasa,
yang ketika mendengar Firman Tuhan memiliki keterbukaan hati dan kerelaan untuk
dididik oleh kebenaran firman Tuhan. Kita perlu memiliki kerinduan untuk
mendengarkan sesuatu dari Tuhan, datang dengan kerendahan hati, dan bersikap
terbuka untuk diisi dan dibaharui firman Tuhan. Kita juga harus menyadari bahwa
setiap hari kita membutuhkan firman Tuhan dan perlu diajar oleh-Nya. Hindari
kebiasaan mengkritik secara berlebihan, karena akan membuat kita tidak
memperoleh apa pun. Jangan sombong atau merasa lebih tahu. Sebagaimana air
hanya dapat mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah,
demikian pula kuasa Tuhan melalui Roh-Nya hanya akan mengalir ke dalam hati
yang rendah dan terbuka. Kuasa Tuhan tidak akan bekerja dalam diri orang yang
tinggi hati dan yang tidak mau menanggapi ajaran firman Tuhan dengan sikap
positif.
Hanya mereka yang dengan rela hati membuka dirinya bagi Tuhan yang akan memperoleh pelajaran-pelajaran berharga dari firman Tuhan, seperti menemukan harta yang terpendam. Mari kita selalu membuka hati, karena Tuhan ingin agar kita semakin memahami isi hati dan kehendak-Nya! Jangan mengulang kesalahan jemaat Tesalonika yang menolak Injil sebelum mencoba memahaminya. Kedua, ketekunan dalam Menyelidiki Firman Tuhan. Banyak pengajaran iman yang tersimpan di dalam firman Tuhan. Oleh karena itu, ketekunan dalam menyelidiki firman Tuhan akan membuat kita menemukan petunjuk kehidupan, bagaikan menemukan harta yang terpendam. Di zaman ini, banyak orang terlena dan tidak dapat membaca tanda-tanda akhir zaman karena Alkitab hanya dijadikan hiasan atau sekadar barang yang dibawa saat ke gereja. Banyak yang lebih suka baca pesan-pesan atau informasi yang beredar di media sosial dari pada membaca alkitab. Namun, orang yang tekun mempelajari Alkitab tidak akan terkejut atau tertipu oleh berbagai peristiwa yang semakin menggelisahkan, karena Alkitab telah menguraikan hal-hal tersebut dengan jelas. Oleh sebab itu, cintailah Tuhan dan firman-Nya! Sisihkan waktu setiap hari untuk mempelajari firman Tuhan. Memang, terkadang kita mungkin menemui bagian yang sulit dimengerti ketika membaca atau mendengar firman Tuhan. Namun, jika kita tekun dan dengan hati terbuka menyelidikinya, Roh Kudus akan bekerja di dalam hati kita, sehingga kita akan semakin memahami kebenaran firman Tuhan. (lb)