Mendidikan merupakan kebutuhan setiap manusia. Kita berkembang melalui pendidikan, baik secara pribadi maupun secara sosial. Tanpa pendidikan, kita akan tertinggal. Bangsa yang pendidikannya maju, pasti ekonominya juga baik. Tapi yang sering dilupakan adalah bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal pengetahuan, penguasaan sains dan teknologi, melainkan juga menyangkut karakter, moral, dan arah hidup. Karena itu, pendidikan yang sejati harus berakar dalam kebenaran, bukan hanya dalam pengetahuan manusia atau nilai-nilai sementara dunia.

Penjelasan Teks

Di surat 2 Yohanes 1:4-11, kita melihat bahwa Yohanes sangat peduli pada pendidikan rohani jemaat, terutama dalam hal mendidik umat untuk hidup dalam kebenaran dan menolak ajaran sesat. Melalui bagian ini, kita belajar bahwa mendidik dalam kebenaran adalah tugas bersama gereja, keluarga, dan setiap orang percaya. Ini bukan hanya soal doktrin, tapi soal kehidupan. Ada beberapa yang bisa kita lihat dalam bacaan tadi. Pertama, pendidikan diawali dengan hidup dalam kebenaran (ay.4). Yohanes bersukacita karena melihat bahwa beberapa anak-anak Tuhan hidup dalam kebenaran. Yohanes, sebagai gembala rohani, bersukacita ketika melihat jemaat hidup sesuai dengan kebenaran Allah. Ini adalah gambaran seorang gembala yang bukan hanya peduli pada jumlah, tetapi pada kualitas iman. Sebagai orang percaya, tujuan hidup kita bukan hanya aktif secara gerejawi, tetapi hidup dalam kebenaran. Apakah hidup kita mencerminkan kebenaran Injil dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan? Ingat bahwa tujuan utama pendidikan rohani adalah agar hidup kita selaras dengan kebenaran Allah, yakni firman Tuhan yang mengajari kita untuk percaya kepada Allah, beriman kepada-Nya, mengasihi Allah dan sesama. Kedua, inti pendidikan iman adalah kasih dan ketaatan (ay.5-6). Dikatakan: Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. menghubungkan kasih dengan ketaatan. Dalam dunia yang memisahkan antara kasih dan kebenaran, kita harus kembali ke Alkitab. Sebab kasih tanpa ketaatan adalah kosong: pendidikan dalam kebenaran berarti membentuk hati yang perintah-Nya. Kita belajar firman Tuhan, agar kita taat kepada Allah dan mengasihi sesama. Ketiga, pendidikan membantu kita melawan penyesatan (ay.7-9). Keempat, pendidikan memampukan kita untuk menolak kesalahan dengan tegas (ay. 10-11).

Penutup

Pertama, Yohanes mengingatkan kita untuk mendidik diri kita, mendidik anak-anak kita untuk hidup dalam firman Tuhan. Maka kita harus tekun mempelajari kebenaran firman Tuhan, mengajarkan kepada anak-anak, agar mereka pun mengenal kebenaran firman Tuhan dari masa kecil.

Kedua, generasi muda harus dibekali dengan kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan rohani. Media sosial, budaya populer, dan bahkan tokoh-tokoh publik bisa menjadi saluran penyesatan rohani jika tidak diuji dengan firman Tuhan. Maka anak-anak sejak dini harus diajari firman Tuhan, agar mereka mengenal kebenaran, supaya mereka mampu membedakan kebenaran dan dosa. Orang tua harus selektif terhadap pengaruh dari luar. Orang tua perlu mengenal teman-teman dari anak-anaknya, memperhatikan buku yang dibaca anaknya, film yang dinonton, dan konten digital dalam android yang dipegang oleh anak. Jangan-jangan ada penyesatan di situ. Ketiga, gereja harus menjaga mimbar dan pengajaran agar tetap murni sesuai Injil, tidak tergoda oleh popularitas atau tekanan budaya. Mimbar harus menjadi tempat pemberitaan Injil secara murni, lepas dari kepentingan diri yang menyesatkan. Keempat, mendidik dalam kebenaran bukan tugas satu pihak; bukan hanya guru sekolah minggu, bukan hanya pendeta, bukan hanya orang tua. Ini adalah semua. Begitu pula jemaat memberi diri dalam ibadah-ibadah. Mari bergandengan tangan. Sebab tanpa fondasi kebenaran, generasi muda akan terombang-ambing oleh ajaran yang menyesatkan. (gm)