Bahan Khotbah untuk Minggu, 12 Januari 2025
Minggu ini adalah Minggu Perayaan Pembaptisan Yesus. Yohanes Pembaptis adalah suara yang berseru-seru di padang gurun menyerukan pertobatan dengan menyerahkan diri dibaptis supaya mendapat pengampunan dosa dari Allah. Itu berarti bahwa baptisan Yohares adalah baptisan pertobatan. Pertobatan adalah kembali berbalik kepada Allah dan hidup menurut perintah Allah dengan meninggalkan cara hidup yang selama ini bertentangan dengan kehendak Allah. Pertanyaan sederhananya adalah mengapa Yesus memberi diri untuk Yohanes membaptis-Nya? Jika kita membaca perikop sebelumnya (ay 1-8), Yohanes menegaskan statusnya dengan Yesus. Yesus lebih berkuasa dari dirinya, ia tidak layak di hadapan Yesus sekali pun hanya membuka tali kasut Yesus dan Yohanes hanya membaptis dengan air, tetapi Yesus membaptis dengan Roh Kudus.
Dari beberapa hal ini, maka akan menuntun kita untuk memahami pem bacaan hari ini. Pertama, bila kita bandingkan dengan penulis Injil Matius, bahwa baptisan itu terjadi supaya menggenapkan seluruh kehendak Allah (3:15). Yesus tidak berdosa tetapi pembaptisan itu terjadi sebagai wujud solidaritas terhadap manusia yang berdosa. Sebagai Anak Allah, Yesus taat kepada semua kehendak Bapa-Nya. Yohanes sendiri melakukan apa yang menjadi panggilannya. Setiap orang yang datang kepadanya menjadi tugas dan tanggungjawabnya untuk mengajarkan mereka kehendak Allah dan membaptis. Yesus adalah yang mengutus Yohanes tetapi bagian dari tugas pengutusan itu adalah membaptis Yohanes. Kedua, setelah Yesus menerima baptisan, ada dua peristiwa yang terjadi yakni langit terkoyak dan Roh seperti burung merpati turun atas Yesus. Langit adalah tempat Allah Bapa bersemayam. Kini melalui Yesus Kristus, tidak ada lagi yang menghalangi antara langit dan bumi sebagai tempat kediaman Allah dan manusia. Allah telah tinggal di antara manusia dan menjalani semua hal yang manusia lakukan. Roh Allah pun telah turun atas Yesus. Allah telah berada dan tinggal di antara manusia. Ketiga, tindakan Yesus yang penuh dengan Roh merendahkan diri-Nya itulah yang membuat Yesus mendapat pengakuan sebagai Anak yang Allah kasihi dan kepada Yesus sajalah Allah berkenan.
Dari peristiwa pembaptisan Yesus kita dapat belajar beberapa hal. Pertama, Yesus adalah Anak Allah. Tetapi Yesus tidak meninggikan diri di hadapan Yohanes yang diutus mendahului diri-Nya. Yesus tidak melakukan hal itu di hadapan orang banyak saat Yohanes sedang melakukan panggilan pelayanannya. Semua Injil mencatat bahwa baptisan dari Yohanes menandai dimulainya pelayanan Yesus di tengah-tengah dunia. Baptisan Yohanes menunjukan Yesus merendahkan diri sebagai Pribadi yang taat pada kehendak Bapa. Dalam posisi apa pun, sebagai orang percaya, kita belajar untuk merendahkan diri karena kehendak Allah. Kedua, merendahkan diri itulah yang menjadikan Yesus menjadi pribadi yang Allah kasihi dan Allah berkenan kepada- Nya. Supaya Allah juga berkenan dan mengasihi kita, jadilah pribadi seperti Yesus. Ketiga, dari Yohanes juga kita belajar untuk melakukan apa yang menjadi tanggungjawab kita. Ada saat di mana kita memiliki pikiran tersendiri, tetapi apa pun yang kita pikiran dan lakukan, harus sejalan dengan kehendak Tuhan. Amin
*Dikutip dari Renungan Harian Tunas dari Tanah Kering, edisi Januari-Februari 2025