Tunas dari Tanah Kering, Minggu, 5 Januari 2025

Pengantar

Di Amsterdam, Belanda, diadakan Hari Tanpa Handphone. Ada satu hari dalam seminggu, dikhususkan untuk tidak boleh memegang HP. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran manusia, karena manusia sudah sangat ketergantungan pada teknologi. Dengan tidak memegang HP seharian, orang bisa menikmati kesendiriannya, merenung, membaca buku, dll. Sebab hidup kita saat ini sangat disibukkan oleh HP. Banyak orang tak bisa lepas dari HP. Setiap saat tangan kita menyentuh layar HP, untuk mengecek informasi yang beredar lewat grup-grup WA, Facebook, instagram, tiktok, dll. Bahkan saat makan, ibadah, berdoa, ngobrol dengan teman pun, jari kita sibuk dengan layar HP. Situasi ini membuat kita sulit untuk menikmati hadirat Tuhan. Banyak orang sudah tidak mampu bersaat teduh dan merasakan nikmatnya keakraban dengan Tuhan.

Padahal, Yesus datang ke dunia untuk membuka tirai pemisah kita dengan Allah. Tirai pemisah bernama dosa, telah ditiadakan oleh Yesus.

Penjelasan Teks

Bacaan ini terdiri dari 4 bagian. Pertama, dalam ayat 19-22, kita diingatkan bahwa melalui darah Yesus, kita memiliki keberanian untuk memasuki ruang Maha Kudus. Pada zaman Perjanjian Lama, tirai tebal memisahkan manusia dari hadirat Allah. Hanya imam besar yang dapat masuk ke ruang itu, dan itupun hanya sekali setahun. Tentu dengan rasa takut dan gemetar. Tetapi Yesus telah membuka jalan baru melalui pengorbanan-Nya. Jalan yang baru dan hidup ini dimungkinkan karena Yesus telah merobek tirai yang dahulu memisahkan manusia dari Allah. Sekarang, melalui pengorbanan Yesus, penghalang itu telah dihapuskan. Penghalang itu adalah dosa, dan Yesus telah menyucikan kita melalui darah-Nya yang mahal.

Kedua, dalam ayat 23-25 ditegaskan pentingnya memegang pengharapan tanpa goyah dan saling menguatkan. Allah melalui Yesus membuka sekat pemisah, memungkinkan setiap orang datang ke hadirat-Nya, menyendiri dengan Tuhan. Namun ibadah bersama juga penting. Kita juga dipanggil untuk bersekutu. Dukungan dari komunitas iman membantu kita bertahan dalam perjalanan rohani.

Ketiga, ayat 26-31 memperingatkan pentingnya hidup dalam kekudusan. Ada bahaya bagi orang yang mau terus- menerus hidup dalam dosa. Karena itu, kita harus bertobat, sehingga kita mampu menyendiri dengan Tuhan. Dalam momen menyendiri dengan Tuhan, kita akan mampu untuk introspeksi diri, mengaku dosa, dan menerima pemulihan. Ketika dosa tidak lagi menjadi penghalang, kita dapat menikmati hubungan yang lebih dalam dengan Allah. Maka kita diminta untuk menyendiri dengan Tuhan dan membiarkan Dia mengubah hati kita. Mengapa tidak boleh hidup dalam dosa? Karena hidup dalam dosa membangun kembali penghalang kita dengan Tuhan, sehingga tidak mampu menikmati hadirat-Nya.

Keempat, dalam ayat 32-39 kita diingatkan untuk tetap bertahan meskipun menghadapi penderitaan. Ada banyak penderitaan, tantangan, persoalan, yang bisa melemahkan iman kita. Namun orang yang mampu membangun keintiman dengan Tuhan, akan diberikan kekuatan untuk terus melangkah dalam pengharapan bahwa janji-janji Allah tidak pernah gagal. Ada sebuah pernyataan berkata: orang yang mampu bertekuk lutut berjam-jam di hadirat Tuhan dalam doa, akan mampu berdiri di hadapan siapapun di dunia ini. Sebab dia memperoleh kekuatan untuk menghadapi segala tantangan.

Poin-poin di atas mengandung sejumlah pesan aplikatif. Pertama, Yesus sudah membuka pintu bagi manusia untuk menjumpai Allah secara pribadi. Yesus sendiri berkata: Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tak ada halangan/tirai yang membatasi. Kapan pun, di mana pun, siapapun kita, silakan datang kepada Tuhan. Maka penting untuk menyendiri dengan Tuhan. Artinya kita dipanggil untuk mendekat kepada Allah dengan hati yang tulus dan keyakinan penuh. Luangkan waktu untuk mendekat kepada-Nya dalam doa, penyembahan, dan perenungan, saat teduh, baca alkitab, dan percaya bahwa tidak ada yang memisahkan kita dari kasih dan hadirat-Nya.

Kedua, gunakan waktu menyendiri dengan Tuhan untuk refleksi dan pertobatan. Akui dosa-dosa kita dan mintalah kuasa-Nya untuk memperbarui kita setiap hari. Hati yang dikuduskan adalah hati yang sepenuhnya terbuka untuk hadirat Tuhan. Gunakan waktu menyendiri dengan Tuhan untuk memperbarui komitmen hidup kudus dan menaati kehendak-Nya.

Ketiga, setelah menikmati momen pribadi dengan Tuhan, mari kita berikan diri kita untuk mendorong dan menyemangati sesama dalam iman. Keempat, jadikan waktu menyendiri dengan Tuhan sebagai tempat untuk mendapatkan keberanian baru, sehingga kita tidak mundur, tetapi terus melangkah dengan iman.

Penutup

Ibadah kepada Tuhan pertama-tama berarti tunduk kepada Allah, hormat kepada-Nya, dan memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. bacaan hari ini meminta kita untuk membangun kehidupan yang intim dengan Allah melalui sikap menyendiri dengan Tuhan. Menyendiri dengan Tuhan adalah panggilan untuk menikmati Allah tanpa sekat. Lepaskan HP, kesibukan, dan segala urusan duniawi di pagi hari, lalu datanglah ke hadirat Tuhan, maka kita akan menemukan kekuatan dan sukacita sepanjang hari. Tuhan memberkati. Amin