[Roland Boer and Christina Petterson, Idols of Nations: Biblical Myth at the Origins of Capitalism. (Mineapollis: Fortress Press, 2014)]

 

Pengantar

Tulisan kecil ini hanyalah sebuah tanggapan kritis. Ia bukanlah sebuah tulisan dengan maksud yang dimotivasi studi kritis yang mendalam dan sistematis terhadap gagasan raksasa atau romantis. Ia hanya sekadar merupakan tanggapan pribadi atas tulisan Roland Boer and Christina Petterson, Idols of Nations: Biblical Myth at the Origins of Capitalism, 2014 serta melihat implikasi dan catatan kritis.

Roland Theodore Boer adalah profesor teologi yang menekuni Marxisme dan berkarya di Universitas Newcastle, New Zeland. Ia mahir dalam teologi dan sosialisme, serta mahir dalam teori kritis. Sementara Christina Petterson adalah seorang sarjana teologi dengan reputasi internasional sebagai pakar historiografi perubahan sosial dan peneliti dengan kecakapan teori kritis (gender) di Australia dan Denmark. Kesamaan mereka terletak pada kemahiran teori kritis atas teks Alkitab, teologi dan isu sosial dalam skala global. Itu sebabnya, kolaborasi mereka dapat diperjumpakan dalam analisis kritis atas kapitalisme, bahkan sosialisme.

Rancang tulis artikel ini dibuka dengan mendiskusikan maksud dan implikasi diskursus dari tulisan ini. Dilanjutkan dengan meartikulasi maksud dan isi penulisan Idols of Nations. Terakhir saya mengajukan catatan kritis tambahan memperkuat maksud dan argumen mengapa kita perlu berhati-hati dalam tafsir dan teologi yang instrumental atas Alkitab untuk membangun dukungan teologis pada gagasan terkait ekonomi dan bisnis. Alasannya, karena teologi bisa direduksi menjadi mitos. Jika ia menjadi mitos, bagaimana kita mengangkatnya kembali atau dibiarkan saja dengan akibatnya.

Membaca dengan Memikirkan Implikasi

Manfaat diskusi dari tulisan kecil ini juga secara tidak langsung bersinggungan dengan anggapan-anggapan, diskursus dan pertanyaan, apakah kapitalisme dan neoliberalisme yang dipandang memiliki efek samping bagi kemiskinan negara-negara yang pernah dijajah, perusakan ekologis, dan berbagai persoalan lain mengenai hegemoni dan dominasi. Ataukah justru ia berkontribusi bagi kemajuan ekonomi antarbangsa?

Sudah sejak abad-XX ZB, anggapan tentang efek samping kapitalisme disimpulkan, dikritisi bahkan ditolak atau dikawal, khususnya yang datang dari teologi pembebasan, masyarakat adat atau teolog-teolog dari negara-negara berkembang, sebagaimana istilah Carl Oglesby (1969) ‘global south’. Atau yang coba dilawan oleh pemikir-pemikir berhaluan sosialis dengan teori kritis. Bahkan gereja hari ini, juga mewaspadai dampak luar biasa dari paham tersebut melalui berbagai dokumen penting dewan gereja.[1]

Biasanya, orang menganggap bahwa untuk menolak paham kapitalisme dan neoliberal, dianjurkan paham sosialisme, kiri. Sebaliknya, untuk menolak paham yang berasosiasi dengan sosialisme, maka dianjurkan memakai paham kapitalisme liberal dan demokratis, kanan. Tetapi, ada lagi bentuk ketiga, yang berusaha mendamaikan antara kanan atau kiri, yakni jalan tengah, tidak kiri dan tidak kanan.[2] Menurut Bobbio, di samping tidak kiri dan tidak kanan, ada juga yang menyebut, kanan sekaligus kiri. Atau “di balik, kiri dan kanan”.[3]

Saya menyadari bahaya pengambilalihan istilah “jalan ketiga” ini. Karena saya mencangkoknya bukan secara secara substansial dari istilah sisiologis dan filsafat politik yang pernah dicita-citakan beberapa pejabat tinggi negara di Amerika dan di Inggris, Bill Clinton, Tony Blair dan ilmuan sosial dan politik terkenal, Anthony Giddens.

Jalan ketiga ini secara metaforis ingin mengasumsikan bahwa ada dua jalan yang bermusuhan atau tidak saling bertemu, karena itu memilih jalan ketiga, yang dalam retorikanya ingin menengahi dan mengawinkan posisi jalan pertama dan kedua. Jalan pertama adalah kelompok kiri (sosialis), yang cenderung mengatakan bahwa pemerintah dan badan usahanya adalah solusi dan pahlawan. Sedangkan, jalan kedua adalah kelompok kanan (kapitalis) yang selalu percaya bahwa dewa penyelamat adalah perusahaan swasta dan pasar bebas. Dan menganggap bahwa pemerintah serta badan usahanya adalah rekan atau rintangan.

Menurut Giddens, jalan ini berada di antara “sosial demokrasi model sosial lama”. Artinya, mengawinkan model demokrat dan sosialisme, yang memiliki kepercayaan berlebihan kepada negara dan neo-liberalisme. Jalan ketiga ini berada pada posisi di luar Kiri Lama dan Kanan Baru (neo-liberal). Atau yang ia implisitkan dalam istilahnya sendiri, yakni jalan ketiga adalah bentuk dari beyond left and right”. Selain Giddens, ada pula yang mendahuluinya, yaitu perdana menteri Britania Raya pertama, James Ramsay MacDonald yang menyatakan bahwa labourism sebagai representasi dari alternatif dalam jalan ketiga. Sehingga tidak kiri sosialis lama (peran total pemerintah) dan tidak kanan, yang ia sebut sebagai syndicalism (kongsialis para pemilik modal).[4] Kembali ke Giddens, politik ‘jalan ketiga’, bukanlah kelanjutan dari neo-liberalisme, namun merupakan filsafat politik alternatif. Dengan begitu, dapat menjadi alternatif ekonomi politik. Sedangkan, J. Habermas, sebagai filsuf penyelia kiri Barat-Frankfurt, agaknya sedikit mendukung pikiran ini. Ia sebut bahwa jalan ketiga sebagai suatu varian ofensif.[5] Dari konteks munculnya istilah ini, tidak banyak ada suara bulat dan tidak ada monotafsir optimis, bahwa pilihan tengah ini akan membawa keadilan dan sifat manusiawi dari kapitalisme dan pasarnya.

Untuk mengetahui ketiga paham asosiatif ini, tentu saja dalam tulisan kecil ini tidak disajikan, termasuk definisi-definisi tentang apa itu kapitalisme dan neoloberalisme, dan sosialisme dalam arti filosofis dan sosiologis. Kita bisa mempelajarinya sendiri. Karena gereja, sebagaimana usulan teolog Lutheran Jerman, Ulrich Duchrow, harus mengenali semua istilah itu untuk dapat menentukan jalan teologisnya, untuk menentukan sikap gereja dan misinya.

            Sekali lagi, saya memberi fokus tulisan kecil ini pada pemanfaatan teologi yang dapat dipakai mendukung gagasan-gagasan yang dianggap merugikan oleh banyak pihak yang tidak bertanggung jawab. Maksudnya, supaya berhati-hati dalam meruangsandingkan (dialektika) teologi dengan paham-paham besar ekonomi. Ruang sanding antara ekonomi dan agama, antara Alkitab, teologi dan ideologi ekonomi. Sebaliknya, tulisan ini juga tidak didorong oleh satu arus teologi yang resisten atau persisten untuk menolak paham kapitalisme secara total atau menganggapnya bermanfaat. Saya tidak berharap pembaca mempertanyakan posisi teologis saya, apakah saya sepakat kapitalisme atau sosialisme. Apakah  saya mengerabati teologi pembebasan dan asosiasinya atau teologi yang pro-kapitalis dan asosiasinya. Apakah saya setuju bahwa kapitalisme diperkuat dan mendapat spirit keagaaman yang kuat khususnya dari Protestantisme Eropa seperti sosiolog, Max Weber yang tidak setuju Karl Marx, karena Marx menganggapnya cukup terbalik (ekonomi justru adalah kekuatan agama) bahwa agama seperti Kristenlah yang justru mengondisikan eksploitasi? Jika kita menerima utuh tesis Weber tanpa memahami utuh tulisannya, bisa saja kebablasan dan menglorifikasi bahwa spirit Protestan Calvinis lebih mempersubur kapitalisme dibanding Lutheran. Jika kita menglorifikasinya, bukannya Calvinisme perlu diadili dengan berbagai teori atau sudut pandang? Atau pertanyaan lain ialah, apakah saya sepakat bahwa ekonomi liberal tumbuh karena netralitas paham-paham keagamaan, terutama kekristenan, oleh sebab kapitalisme ekonomi tumbuh karena manusia memaksimalkan sifat egois dan individualitasnya. Saya bahkan hampir tidak mempedulikannya selama argumen yang saya disajikan dalam tulisan mini dapat ditangkap dengan dengan baik. Jadi, saya tidak sedang membangun dan menawarkan sebuah kajian teologis, tetapi merespon anggapan bahwa, penggunaan Alkitab jangan dianggap faktor satu-satunya yang mendorong kapitalisme dan neoliberalisme. Melainkan ada semacam instrumentalisasi atau pemanfaatan pragmatis dalam menggunakan Alkitab, serta banyak faktor berlapis lain yang harus diakui.

Mitos Alkitabi dan Asal-usul Kapitalisme

Latar belakang penulisan Idols of Nations sudah tampak di bagian awal. Pertama, dalam sejarah pemikiran ekonomi (History of Economic Thought), ada banyak orang yang berusaha meruangsandingkan gagasan Alkitab dengan gagasan ekonomi. Kedua, menciptakan mitos Alkitab untuk menopang teori ekonomi karena fungsi mitos adalah untuk menciptakan kebenaran alternatif yang lebih dalam. Buku ini melihat mitos tersebut dalam kisah kejatuhan Adam secara lebih umum dan ingin menemukan di sana asal-usul kepemilikan pribadi, kepentingan pribadi, tenaga kerja, pertukaran, perdagangan, hukum, negara, teori-teori ekonomi khususnya kapitalisme klasik. Buku ini bukanlah konstruksi mengenai teologi ekonomi alternatif. Tidak juga merupakan sebuah etika atau mengusahakan keadilan sosial. Tetapi, sekadar memberi gambaran bahwa ada pemikiran-pemikiran yang membesarkan ideologis ekonomi menggunakan Alkitab dan teologi.

Singkatnya, para tokoh yang dibahas, telah digambarkan sejauh mana mereka melegitimasi proses ekonomi yang dianut atau dibantah. Mereka yang menganut kapitalisme dengan legitimasi Alkitabi, disalahartikan demi menggenjot investasi untuk memperoleh untung berlipat ganda dan cenderung mengabaikan panduan nilai moral. Sebaliknya, yang membantahnya, akan mempertentangkannya atau mengatakan bahwa memperoleh untung dengan preferensi pribadi itu adalah sikap keserakahan yang dengan memanfaatkan tafsir Alkitab atau mengakuisisi rencana ilahi pada penaklukkan sumber-sumber daya Bumi atau ciptaan. Hal-hal legitimis inilah yang dimaksud dengan mitos alkitabiah. Penciptaan mitos adalah upaya dekonstruktif dan sekularisasi gagasan Alkitab. Gagasan Alkitab dipakai untuk menopang pandangan yang nyatanya bermotif kepentingan ideologis.

Founding “Fathers of Economics”

Menarik dari tulisan ini, bahwa mereka mengkaji secara khusus kecenderungan legitimasi alkitabi/teologis dalam sejarah pemikiran ekonomi  khususnya pada empat tokoh terkenal yang membahas ekonomi: Hugo Grotius, John Locke, Adam Smith dan Thomas Malthus. Keempat tokoh ini dianggap sebagai “founding fathers of economics”. Dengan alasan bahwa perkembangan kapitalisme ekonomi terjadi melalui proses individualisasi, desosialisasi, dehistorisasi  dan deteologisasi. Individualisasi mencakup pemahaman bahwa ekonomi yang bebas akan sangat berkembang jika dimulai dengan tesis bahwa kepemilikan pribadi menjadi motif awal meningkatkan profit dan modal. Desosialisasi mencakup hal kebalikannya dan lampaui batasan sosial. Dehistorisasi dimengerti sebagai usaha melintasi batas-batas parokial di mana proses ekonomi bekerja menjangkau lebih dari sekadar ruang dan berlaku universal dan reduksionis, bahwa teori ekonomi yang paling kuat dan berpengaruh akan menentukan segala aspek kehidupan manusia, termasuk karena motif keagamaan yang menopangnya, ekonomi mendahului eksistensi. Deteologisasi adalah upaya yang menopang tentang bagaimana ekonomi bekerja, namun melepaskan konteks sosial dari bagaimana teologi itu harus dipakai. Hal terakhir inilah yang penting dibahas lebih jauh, bahkan saat saya mengevaluasi maksud dari pemakaian gagasan teologis alkitabi dan kapitalisme klasik, sebagaimana yang dilakukan oleh Roland Boer dan Christina Petterson.

Berbekal Konsep Kejatuhan Menjadi Mitos Kapitalisme

Berdasarkan kajian Boer dan Petterson, keempat tokoh ini menciptakan mitos teologis agama untuk mendukung paham liberalisme tentang pasar “bebas” dan imperialisme ekonomi klasik. Singkatnya, kedua teolog dalam buku mereka ingin mengeritik dan memperbaiki beberapa hal.

Kita mulai memeriksa dua hal penting bersama mereka. Pertama, gagasan teologis yang mendasari gagasan ekonomi keempat tokoh di atas. Mereka memang memiliki kemiripan dalam membahas tema teologis Kristen bagi kepentingan pemikiran mereka, yakni tema kejatuhan dan kerja. Kedua, menelisik dampak moral yang ditimbulkan dari kapitalisme dan pasar bebas klasik, karena pemanfaatan gagasan teologis-religius sebagai pilar ekonomi dan kelas penguasa. Secara singkat, pikiran dasar keempat tokoh demikian:

1.     Grothuis (1583-1645), tokoh Renaisans, seorang Armenian (Remonstran) yang menafsir kisah kejatuhan. Kisah kejatuhan penting baginya, dan tiga tokoh lainnya, karena ia meyakini kisah ini menyimpan asal usul kodrat manusia dan pengaruhnya pada kapitalisme. Ia menolak tuduhan bahwa kejahatan disebabkan oleh Allah dan menegaskan kebebasan kehendak bagi setiap individu. Gagasannya terkait peran Roh Kudus ihwal menjadikan manusia sebagai agen untuk memilih kebaikan atau kejahatan, membangun kehidupan atau merusaknya. Jika jahat, maka kehendak bebas manusialah penyebab kejahatan. Dengan begitu, meminimalkan efek kejatuhan pada natur manusia. Sebagai seorang Armenian,ia membantah Calvinisme (pemilihan, presdestinasi ganda dan panggilan). Baginya, Calvinisme salah karena selama sejarah kapitalisme awal, Calvinisme menganggap semua karya, prestasi, kekayaan dan kekuasaan tidak berarti di hadapan Allah. Semua penderitaan dianggap sebagai sesuatu yang tidak disebabkan oleh Allah, melainkan kehendak bebas manusia menolak anugerah. Upaya untuk memperbaiki kejatuhan manusia, maka manusia perlu mengupayakan kepemilikan pribadi dan mengupayakan kepemilikan bersama atas sumber daya. Asal-usul kepemilikan properti pribadi dan bersama, serta gagasan purba tentang penetaan hidup, hukum, negara, kebebasan eksplorasi zona alam (termasuk laut lainnya karena tidak terkait kepemilikan pribadi dan kepemilikan umum) dan perdagangan bisa dicari dalam kisah kejatuhan. Hal ini bagi Grothuis, terkait dengan tugas yang dipercayakan Allah pada manusia, karena manusia menghendaki akibat-akibat kejatuhan dari kebebasannya. Untuk itulah manusia dipandang dapat dan harus bekerja sama secara bebas dengan Allah dalam proses keselamatan. Manusia harus bekerja dengan kebebasan individual dengan hak yang jamak untuk mencapai kepemilikan properti pribadi. Inilah mitos pertama dari kapitalisme–sebuah mitos melalui cerita tentang asal-usul kepemilikan pribadi (dominium: hak istimewa untuk akses kepemilikan pribadi atau bersama) asal-usul kepemilikan bersama (communio: sumber daya yang bisa diakses bersama), serta pertumbuhan hukum, negara, dan perdagangan. Ia juga menunjukkan bagaimana perbudakan itu ditimbulkan oleh kepemilikan pribadi. Ia cenderung membela kelas atas karena posisinya sebagai elit hukum (pengacara) dan orang kepercayaan VOC Belanda. Grothuislah orang yang memasang batu penjuru pada liberalisme klasik yang akan diekplorasi lebih jauh lagi oleh Locke.

2.     John Locke (1632-1704) mengembangkan mitos untuk membatasi efek dari kejatuhan (Kej. 1-3). Baginya, kejatuhan berkaitan dengan kefanaan, yang memungkinkannya untuk menghindari kutukan lain yang berkaitan dengan tenaga kerja dan properti. Baginya, manusia harus bekerja ekstra supaya dapat properti, sebab kerja adalah kutukan dari kejatuhan. Untuk memenuhi perolehan properti, maka Allah memberikan hak untuk menaklukan Bumi bagi kepentingan manusia. Kejatuhan bagi Locke sangat menarik saat ia mengedepankan prinsip-prinsip sifat manusia, kebebasan dan kesetaraan. Hal ini memperkokoh dasar bagi natur asli kapitalisme ialah kompetitif dan kebebasan pasar.

3.     Adam Smith (1723-1790), tidak puas dengan mitos tunggal tentang kejatuhan, maka ia membangun dua mitos: mitos dasar dan cerita agung. Mitos pertama menyatakan bahwa kodrat manusia ialah secara alamiah ialah mampu bertransaksi (barang dan jasa, pikiran), dan kepentingan pribadi memiliki manfaat sosial.  Mitos ini berguna baginya untuk membenarkan pernyataan mengenai sifat manusia, bahwa manusia bekerja demi kepentingan pribadi mengarah pada manfaat sosial yang lebih besar. Kedua, mengenai kapitalisme dan pasar bebas, (the invisible hand). Smith menciptakan mitos kejatuhan yang implisit, tentang ketegangan antara narasi perbedaan dan identitas manusia. Smith sendiri banyak diklaim sangat sekuler dan tidak ingin memakai gagasan keagamaan (Kristen) mengenai narasi kejatuhan, kodrat manusia dan kerja. Namun, lebih tepatnya ia menyembunyikan narasi religiusnya, sehingga ia membuka dirinya dipahami sebagai seorang sekuler.

4.     Thomas Malthus (1766-1834). Sebagai pendeta di Inggris, ia cukup menyulitkan  narasi yang jelas tentang sekularisasi pemikiran ekonomi setelah Smith. Malthus mengokohkan doktrin tentang kejahatan dari kisah kejatuhan. Ia memandang bahwa kebaikan Allah telah berubah menjadi keburukan. Baginya, karunia prokreasi Allah akan dorongan untuk bekerja demi kehidupan kita yang mengarah pada kesengsaraan dan keburukan yang tak terhindarkan melalui over populasi dan kekurangan pangan yang juga menimbulkan perebutan-perebutan sumber daya dan ekspansi. Ia menegaskan peran perlindungan moral dalam membatasi dorongan untuk seks. Malthus menghindari implikasi penuh dari argumennya diperjelas melalui edisi-edisi berikutnya dari esainya tentang populasi, di mana ia menegaskan peran sanksi moral dalam membatasi dorongan seksual. Keputusannya untuk mundur justru menyoroti kemungkinan bahwa Tuhan mungkin bertanggung jawab atas kebaikan dan kejahatan. Semua isu ini muncul dalam setengah lusin upayanya untuk menceritakan kembali mitos kapitalisme. Meskipun Malthus berkutat dengan mitos kemajuan, ia jelas lebih menyukai mitos kemunduran (regresi), dengan dampaknya yang semakin buruk akibat pertumbuhan masyarakat dan ekonomi manusia. Ide-ide depopulasi secara tidak langsung muncul dari Malthus dan malthusian. Hal ini tentu justru berdampak pada rasisme kronis Malthus – yang ia bagi dengan Adam Smith dan bahkan John Locke sekali lagi merupakan indikasi paling jelas bahwa klaim universal liberalisme jauh dari universal. Malthus sendiri memiliki implikasi pada ide keserakahan kronis dan memperkokoh pementingan diri yang muncul pada sistem sosial dan korporasi.

Gagasan dan Evaluasi

Keempat tokoh ini masing-masing bagi saya melakukan eksploitasi yang cukup mengesampingkan kaidah penafsiran Alkitab dan doktrin teologis bagi kepentingan legitim sebuah gagasan ekonomi yang secara global-reduksionis, yaitu kebangkitan liberalisme, kapitalisme dan imperialisme awal dan pemodernannya sampai sekarang. Kecelakaan pertama dari eksploitasi itu menurut saya, menghasilkan tambal sulam yang bagi filsafat mereka pada pendewasaan kapitalisme dan pasar bebas hari ini. Tambal sulam yang instrumental karena eksploitasi mereka tidak konsekuen dengan tafsir yang seharusnya terhadap kitab Kejadian perihal kejatuhan.

Grothuis misalnya, sudah salah arah ketika membahas bahwa seolah-olah Calvinisme mengabaikan hal-hal material dan memandang rendah kerja sebagai usaha yang steril dari gagasan tentang anugerah Allah. Calvinisme memandang bahwa kerja adalah panggilan dan terhubung dengan doktrin kedaulatan Allah, predestinasi, anugerah, doktrin pembuktian dan soteriologi. Orang yang bekerja adalah mereka yang mengalami predestinasi dan karenanya dipanggil untuk masuk ke dalam dunia untuk sungguh-sungguh berkarya. Jadi, tetap ada indikasi kebebasan sekaligus ketaatan kepada Allah, dan bukan kebebasan total. Karenanya, Calvinisme menolak pasifisme dan eskapisme dari dunia kerja, serta bukan kutukan. Ini asketisme untuk tidak menjauhi duian da merangkul hal-hal korporeal.

Malthus sendiri tampak mengabaikan pandangan teodise yang proporsional tentang intervensi Allah terkait penderitaan. Pandangan umum yang diterima hari ini ialah bahwa Allah tidak menjadi basis asal usul kejahatan dan penderitaan. Malah Allah sendiri masuk mengalami penderitaan dalam Kristus. Gagasan-gagasan kebebasan sebagai hal natural yang memungkinkan manusia memaksimalkan properti, pementingan diri, hari ini dapat diperdebatkan dan terbukti menyisakan dilema moral dalam kapitalisme antara bagaimana sumber daya dapat dikelola dengan prinsip keadilan sosial.

Masing-masing mereka memandang, misalnya teologi stewardship secara antroposentris, bahwa alam adalah modal yang perlu ditaklukan demi perkembangan ekonomi, masyarakat dan pembangunan negara. Lalu, menafsir lebih lanjut secara doktrinal teologi kejatuhan sebagai awal mula evolusi sosial dan ekonomi manusia yang bebas, bahwa untuk mereduksi makna kefanaan dari kejatuhan pasca Adam, maka manusia harus bekerja. Seolah-olah bekerja adalah upaya mengurangi persepsi kefanaan. Padahal, bekerja sendiri adalah bentuk hakekat manusia, bukan bentuk kutukan yang diperhalus atau dijinakkan.

 Jadi, jika gagasan ini diteruskan, tentu saja dianggap dapat berarti bahwa kemajuan manusia pasar modern sekarang ini adalah hasil dari direduksinya kefanaan. Atau mentransformasi kefanaan menjadi sebuah bentuk optimalisasi kerja agar kefanaan itu ditutupi melalui kerja. Kerja adalah penebusan atas kefanaan. Kekurangan mendasar secara doktrinal, gagasan penebusan kerja dilepaskan dari konteks penebusan Kristus. Mereka memang melakukan penafsiran instrumental dan legitim, wajar saja. Tetapi itu tidak lebih dari apa yang saat ini sama dilakukan untuk melegitimasi kekerasan menggunakan ayat-ayat kitab suci dan hal itu disebut literalisme biblis.

Literalisme biblis atau skriptural (penggunaan harfiah yang tidak saja berlaku pada teks-teks kitab suci, melainkan juga intertektualitas) adalah suatu pencakokan makna harfiah tiap kata dan kalimat. Makna yang disalin dianggap finak sebagai kebenaran siap pakai dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Ia dianggap kebenaran siap pakai dan tidak perlu dipersoalkan karena dianggap mengandung otoritas wahyu untuk mendorong proses epistemik sosial, untuk memahami realitas sosial tentang – dalam hal ini ekonomi dan ideologi atau filsafat tertentu. Demikian pula pola hermeneutik pada konteks kekinian dan cenderung mengabaikan konteks teks secara konsekuen. Itu artinya terdapat persoalan teoretis dan filosofis yang tidak dapat dipertanggung jawabkan karena penggunaannya sangat pragmatis dan praktis. Literalisme biblis yang menganggap bahwa kapitalisme dan sosialisme lahir begitu saja dari Alkitab pun dapat bersinggungan dengan appeal to authority (logical fallacy), yakni tafsiran-tafsiran dan keempat tokoh itu dianggap benar karena mereka pemikir yang terkenal atau berotoritas. Saya mengangkat ini karena beberapa hal. Pertama, pakar tafsiran yang dikutip tampaknya tidak relevan dengan bangunan pokok tafsiran dari teologi keseluruhan kitab suci tentang kerja dan pandangan tentang ekonomi. Hari ini, gagasan kapitalisme yang dianggap ditelurkan langsung dari Alkitab, tidaklah benar. Kedua, pakar itu sendiri bisa salah. Salah karena bersinggungan dengan diskursus tafsiran otoritatif hari ini, paham tentang kerja, dan seolah Alkitab menyarankan model kapitalistik dan kebebasan pasar, individualisme tidaklah diterima di kalangan gereja global.

Kita dapati pada keempat tokoh di atas, bahwa mereka telah berusaha menumbuhkan sistem pengetahuan instrumental dan kekuasaan epistemik dari teks suci. Wacana kekuasaan dalam teks suci berhasil mereka ungkap keluar secara pragmatis dari kisah kejatuhan untuk mendukung gambaran dunia antara kerja, kebebasan dan kapitalisme. Dengan sendirinya, jika sayan memakai gagasan Jean Baudrillard tentang masyarakat konsumeris, akan tampak bahwa gambaran dunia yang keempat tokoh di atas hasilkan adalah suplemen bagi penciptaan kelas, jika kapitalisme itu aktif, ia akan membawa serta konsumerisme sebagai tatanan tanda sosial, selfishme dan individualistik, hierarki kelas sosial, standar-standar hidup, dan justru ketidaksetaraan – hal yang justru didambakan oleh Lock, malah memiliki efek bumerang. Demikian juga menjadi diakui apa yang disampaikan Emile Durkheim, tentan prisip kudus bahwa”kekuatan agama (teks suci) yang disembah orang-orang, tidak lain adalah kekuatan kolektif yang diindividualisasikan”.[6]

Dengan demikian, konsekuensinya pada modernisasi dan perkembangan ekonomi adalah betul-betul hasil baik setelah memakan buah larangan. Ini lumayan senonoh. Oleh sebab itu, keempat tokoh itu sewenang-wenang mengakomodasi/memodifikasi gagasan kitab Kejadian supaya identik bahwa kapitalisme adalah bentuk ekonomi yang lahir dari Alkitab. Padahal keduanya tidak identik.

Kedua, saya memakai gagasan Craig L.Blomberg, dalam Neither Capitalism, nor Socialism, bahwa kapitalisme (ataupun sosialisme) bukanlah sistem ekonomi yang dianjurkan Alkitab.[7]

My seventh and perhaps most important reason for arguing that the biblical material does not unequivocally support either capitalism or socialism is because capitalism is centered around individual initiative and enterprise, while socialism is centered around collective (but usually not religious) oversight and legislation. Biblical ethics, on the other hand, is first and foremost centered on God’s people in community, known in this age as the church” (216).

Secara hakiki, kapitalisme dan asal-usulnya berkorelasi dengan kepemilikan individu sedangkan sosialisme pada kepemilikan kolektif. Dalam tulisannya Blomberg, ia mengajukan bahwa teologi alkitabi menganjurkan bahwa hidup bukan soal kekayaan dan juga bukan kemiskinan, melainkan bagaimana keadilan sosial ekonomi dapat berlaku sebagai keadilan Allah bagi persekutuan. Karenanya, ia menuliskan lebih lanjut dalam sebuah artikel, kekristenan perlu melihat perdebatan posisi teologis agar tidak jatuh pada kapitalisme ataupun sosialisme. Tetapi memang benar, bahwa mitologisasi teks suci sering disulap menjadi ideologis. Jean Baudrillard sendiri mendefinisikan ideologi yang di dalamnya mitos berperan, yakni ideologi sebagai representasi penciptaan pikiran, keyakinan kelompok orang dengan ikatan sosial berkat agama, mitos, prinsip moral, atau kebiasaan.[8] Tidak heran ideologi-ideologi sering dikampanyekan dengan mempergunakan gagasan Alkitab dan teologi. Ideologi menjadi anak haram dari kesewenang-wenangan ideologi. Dengan dirubahnya fungsi ide Alkitab menjadi mitos, maka benar bahwa mitos berguna dalam kapitalisme untuk pengorganisasian gagasan ekonomi dan masyarakat karena didukung oleh struktur sosio-budaya yang menerima gagasan empat tokoh di atas dan nyatanya berhasil dalam lingkungan kekristenan Eropa pada abad di masa keempat tokoh itu hidup. Pengorganisasian ini adalah bukti dari usaha menyingkap kekuasaan di balik ide kapitalisme. Bukan saja kekuasaan, tetapi sekaligus arogansi. Dan dari sudut pandang feminis, saya menganggap bahwa upaya menafsirkan kisah kejatuhan itu bias gender. Berakar dari kehendak filosofis patriarki yang berusaha menciptakan ide ekonomi yang melahirkan hierarki kelas, dan pada era industri mencakup pembagian kerja berbasis gender. Hari ini, kapitalisme menubuh pada kognisi tentang kebebasan pasar, pada alam dan beroperasi pada tubuh kita (konsumerisme, iklan, kosmetik).

Jika Weber mengajukan tesis bahwa kelahiran kapitalisme klasik dari spirit protestantisme Eropa, itu tidak langsung berarti bahwa kapitalisme lahir dari Alkitab dalam protestantisme, melainkan spirit itu adalah spirit religiusitas yang punya implikasi sosiologisnya. Artinya, agama dijadikan pasar yang memperdagangkan persepsi orang tentang ekonomi. Jadi, antara teologi Alkitab dan doktrin teologis protestantisme Calvinisme/Armenianisme-Grothuis, jelas berbeda. Teologi Alkitab yang digali dengan hermeneutik yang baik, bisa berbeda dengan teologi sistematik-doktrinal. Meskipun doktrin itu dikonstruksi dari hasil tafsir dan teologi yang dibangun. Itu sebabnya, para teolog dalam buku Roland Boer and Christina Petterson, mengecam hal itu, terhadap apa yang digumuli keempat tokoh di atas.

Sudah jelas, kapitalisme bukan model ekonomi dalam Alkitab atau pokok teologi ekonomi di dalamnya. Legitimasi sistem ekonomi dan perkembangan manusia, menggunakan Alkitab jangan diklaim sebagai sistem tersebut yang diperanakan dari Alkitab. Meskipun kapitalisme klasik dianggap lahirkan dari spirit religius Protestan Eropa dan teologi Alkitab, namun, apakah tidak mungkin jika itu dapat lahir religiusitas Islam dalam kebudayaan Arab, jika pada sejarah, seandainya, tidak dihasilkan oleh kekristenan Eropa? Tetapi sejarah menjawabnya, Islam pun malah melawannya karena kapitalisme diasosiasikan dengan Barat.

Haruslah dibedakan antara budaya Protestan Eropa dibentuk dari spirit Protestan, dengan gagasan yang memandatkan kapitalisme secara mutlak. Apakah memang kapitalisme itu mandat Alkitab? Apakah budaya Protestan Eropa yang mendirikan kapitalisme identik dan mandat budaya Alkitab itu sendiri? Tentu tidak. Dengan menolak ini, saya menganggap dunia teologi memang tidak merasa berhutang budi atau terbeban jasa dengan para konstruktor paham kapitalisme dan neoliberalisme. Atau para sarjana teologi tidak perlu membalas budi pada prestasi dan manfaat dari paham tersebut. Saya menduga, barangkali pembaca cermat tulisan kecil ini akan bertanya, “jika tidak merasa berhutang budi dengan kapitalisme dan sosialisme, lalu bagaimana dengan sosialisme?” Pertanyaan tersebut bukan urusan tulisan ini. Saya sendiri mempertanyakan, sosialisme versi manakah yang dimaksud? Sebab, dalam narasi historis, sosialisme pernah melapuk[9] atau hari telah direvisi dan terpaksa menjiplak sebagian ide fiosofis kapitalisme. Henry Wai-chung Yeung menyebutnya kapitalisme hibrida.[10] Ditambah lagi, baik kapitalisme maupun sosialisme lama, sama-sama tirani dalam sejarah. Biarkan itu menjadi perdebatan para pemikir raksasa.

Akhirnya, jelas bahwa seandainya kita sepakati dan mengira Weber mengangkat kapitalisme lahir dari dari etos kerja dan teologi Protestan tentang kerja karena keterpilihan-panggilan, budaya dan wawasan dunia Reformasi itu berpengaruh kuat pada logika pasar, itu tidak sama dengan mengatakan bahwa Alkitab itu sendiri yang menelurkan kapitalisme. Dan logika pasar. Itulah sebabnya, kita harus pertanyakan, manakah yang tepat, apakah kapitalisme ditelurkan dari penafsiran teks Alkitab dan berdampak pada wawasan dunia dan teologi ataukah dalam Alkitab pada dirinya telah menganjurkan kapitalisme dan neoliberal? Apabila kita menganggap yang terakhir benar dan menganggap Weber menyimpulkan demikian, kita dengan sendirinya hari ini sepakat bahwa keserakahan terhadap lingkungan dan krisis ekologis, pemiskinan, dominasi, kolonialisasi adalah ide Alkitab. Karenanya apakah kita terpaksa pula untuk mengatakan bahwa semua itu adalah ide Tuhan atau wahyunya? Itu mengherankan. Dan tidak hanya itu, jika Armenian versi Grothuis secara teori lebih berpengaruh pada hakekat kapitalisme, dibanding Calvinisme, bukannya lebih baik kita membicarakan etika Armenian dan spirit kapitalisme? Itu pun cukup sulit, sebab saya sendiri tidak mengenal Armenian.

Penutup

Saya sendiri menyimpulkan beberapa hal dari pembacaan kritis terhadap pertanyaan di bagian pendahuluan yang juga diajukan oleh Roland Boer dan Christina Petterson demikian: Pertama, Alkitab mendukung ekonomi dan tidak antibisnis, juga tidak melarang orang harus mengumpulkan harta atau properti. Jadi, gereja-gereja di Indonesia (misalnya, GMIT) perlu mengawal pasar dan pertumbuhan ekonomi dalam sistem dan pelaku agar tetap manusiawi dan secara etis tidak bebas. Pasar, ekonomi dan uang, jangan mentransformasi moralitas kita.[11] Orang Kristen tidak perlu tiba pada fundamentalisme pasar. Sebaliknyalah yang perlu. Sebagai gereja, kita perlu melakukan beberapa pokok penting: 1.Reformasi etis terhadap pasar. Kita perlu menyuarakan perbaikan praktek pasar melalui regulasi, pajak dan tanggung jawab sosial lembaga (perusahaan) untuk menerapkan setidaknya rasa adil. 2. Ekonomi etis alternatif. Mendorong model ekonomi yang setia pada keadilan dan sejalan dengan ide Alkitab, bahwa melalui ekonomi, Allah memelihara orang yang rentan dan menekankan kesejahteraan bersama. 3. Ekologi-etis. Menegur proses pasar bebas dengan menekankan keadilan ekologis, serta menekankan tanggung jawab ekologis dari sistem dan pelaku pasar dalam merestorasi dan pengelolaan yang paling bermoral.

Kedua, walaupun demikian dukungan itu ada mengenai kerja dan mengupayakan ekonomi, namun bukan demi membangun kapitalisme dan imperialisme ekonomi global mula-mula. Tokoh-tokoh di atas telah membuat pelanggaran otoritas Alkitab dengan melakukan de-biblikalisasi berlebihan (artikel “de” menunjukkan penyimpangan) demi materialisme ekonomi, atau penciptaan kekayaan. Dengan lain arti, keempat tokoh di atas mengkapitalisasi dan intrumentalisasi Alkitab dengan tujuan mereka sendiri.

Ketiga, semua perkembangan lahirnya kapitalisme lebih disebabkan oleh faktor kuat dari imajiner, penafsiran yang memperkuat pandangan politik, ideologi, ekonomi, dan kebudayaan. Kemampuan imajiner merekalah yang paling bertanggung jawab. Keempat, Grothuis, Locke, Smith, dan Malthus dalam dalam pikiran-pikiran mereka tentang kisah kejatuhan secara filosofis telah melakukan sistesis ide-ide Pencerahan tentang kebebebasan individu, hak asasi, dan kebebasan, dengan wawasan dunia Alkitab dan tafsiran-tafsiran teologis. Sistesis ini lebih cenderung bersifat instrumental dan pragmatis. Keempat, tampak bahwa upaya menafsirkan ide kejatuhan, mencerminkan pola nalar patriarkis.

Kelima, pengaruh Calvinisme Eropa yang diangkat Weber, bukanlah yang paling kuat berpengaruh untuk menyatakan bahwa Calvinismelah yang memperkokoh kapitalisme, melainkan ide-ide Alkitab yang dimitologisasi. Sebab tafsiran para teolog Reformasi dan penerus mereka tidaklah sama persis dengan yang diangkat oleh keempat filsuf dan teolog di atas. Jika penyejajaran dilakukan, maka ide Calvinis tentang predestinasi, asketisme dan panggilan akan ditafsirkan secara rawan kapitalistik. Sementara Weber sendiri mengakui bahwa nenek moyang kapitalisme, terkait peningkatan modal dan sistem riba, sudah ada jauh sebelum Reformasi itu ada.[12] Dan dia sendiri sebenarnya tidak begitu yakin bahwa Calvinisme itu memperkuat kapitalisme, lantaran ia berpendapat bahwa “kita tidak mempunyai maksud apa-apa untuk mempertahankan tesis teoritis dan bodoh semacam itu, yakni tesis bahwa semangat kapitalisme hanya bisa tumbuh sebagai hasil dari pengaruh tertentu dari Reformasi, atau bahkan kapitalisme sebagai suatu sistem perekonomian merupakan suatu kreasi atau ciptaan dari Reformasi.”[13] Sebelumnya ia menuliskan, “apabila ada kemungkinan ditemukannya hubungan yang lebih mendalam antara ungkapan-ungkapan khusus dari semangat protestantisme dan budaya kapitalis modern, maka kita harus berusaha untuk menemukannya, untuk mencapai hal yang lebih baik maupun sebaliknya lebih buruk...”[14] Ini menegaskan bahwa Weber sendiri harus menguji hipotesisnya dan dengan ini, tidak langsung berarti benar bahwa Calvinisme sendiri dirancang menjawab hasrat individualisme, dan kebebasan pasar. Apa yang diunggahnya tentang spirit protestantisme hanya hipotesis kontroversial sebagai konsekuensi dari teori tindakan rasional berbasis tujuan dan nilai. Salah satunya nilai spirit keagamaan. Sampai di sinilah, mengapa pengujian hipotesisnya diterima luas.

Keempat tokoh di atas melakukan teologi “langkah pendek” hanya untuk untuk mendukung gagasan ekonomi dan kebudayaan mereka pada masanya. Mereka telah melakukan pemanfaat dan pengeksploitasi doktrin abad Pertengahan, meskipun mereka adalah filsuf pemikir pemikir besar. Gagasan mereka memberi pengaruh bahwa seakan-akan tepat, bahwa kapitalisme dan neoliberalisme, dengan demikian lahir dari rahim kekristenan pasca masa Alkitab. Mereka sendiri pada akhirnya tidak menyadari, bahwa mereka sedang mengasuh filsafat penindasan (The philosohy of oppression) pasca pikiran mereka tentang kejatuhan dan kerja dikembangkan dalam kapitalisme.

Meskipun demikian, satu apresiasi yang bisa diberikan adalah bahwa, keempat tokoh di atas mencoba mengembangkan pemikiran yang beririsan antara agama dengan ekonomi. Mereka juga berusaha “berfilosofi-teologis” bagi konteks mereka saat itu. Mereka berhasil membangun mitos itu, bahwa kapitalisme dan neoliberalisme didukung oleh Alkitab, tetapi itu adalah bagian dari mitos, dan jika kita mengamati Yuval Noah Harari, hal itu makin jelas sebagai usaha fiksi dan mitos berkembang lebih dikarena usaha dalam realitas intersubyektif pasca revolusi pertanian jauh sebelum negara konstitusional tumbuh dan revousi kognitif abad Pertengahan menuju industri dan bukan usaha obyektif, bahwa Alkitab menganjurkannya. Dengan kata lain, Tuhan tidak secara langsung menganjurkan kapitaslisme dan neoliberal.[15] Kita harus menolak bahwa ekonomi yang tidak adil dan wahyu agama selalu analog (ekonomi secara kultural selalu muncul dan diperkuat asal-usulnya dari ide-ide manusia untuk membangun keagamaan). Karena itu, kapitalisme liberal, neoliberal dan variannya tidak analog dengan gagasan-gagasan teologis gereja-gereja ekumenis. Tidak mengherankan, apabila komunitas-komunitas gereja ekumenis tidak begitu ramah terhadap pasar yang bebas dan otonom, sebagai wujud nyata dari ideologi ekonomi ini, karena cenderung independen dan sulit dijinakkan lagi oleh agama dan teologi Kristen itu sendiri. Walaupun demikian, ada segelintir teologi yang membangun teologi untuk menyatakan dukungan terhadap kapitalisme modern hari ini, seperti tampak dalam tulisan yang dikira orang sebagai teologi pembebasan (karena judul bukunya On Liberation Theology), padahal judul buku mereka adalah mengeritik teologi pembebasan itu sendiri.[16]

Sebaliknya, agama-agama perlu saling menopang memberi pandangan kristis dan mawas terhadap dampaknya. Perlu dibangun teologi yang mengawal pasar, namun tidak ideologis. Hanya saja, bagaimana dengan etika yang dapat diraba dalam pikiran mereka, yang coba dianalisis oleh Boer dan Petterson? Tidaklah pasti.

Sumber Rujukan

Blomberg, Craig L. Neither Capitalism nor Socialism: A Biblical Theology of Economics. Journal of Markets & Morality, 2012, 19.

Bobbio, Norberto. Left and Right: The Significance of a Political Distinction. 1st edition. Oxford: Polity, 1996.

Christian Conference of Asia, Conseil oecuménique des Eglises, Consultation, Conférence des églises du Pacifique, and Wealth and Ecology in Asia and the Pacific AGAPE Consultation on Poverty, eds. Poverty, Wealth and Ecology in Asia and the Pacific: Ecumenical Perspectives. Chiang Mai; Geneva: CCA ; WCC, 2010.

Fukuyama, Francis. Kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal. Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2001.

Habermas, Jurgen. “The European Nation-State and the Pressures of Globalization.” New Left Review, no. I/235 (June 1999): 46–59.

Harari, Yuval Noah. Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia. Tanggerang Selatan: Pustaka Alvabet, 2018.

Haryatmoko. Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Yogyakarta: Kanisius, 2016.

Macdonald, J. Ramsay. Syndicalism: A Critical Examination. Wentworth Press, 2019.

Nalunnakkal, George Mathew. Green Liberation: Towards on Integral Ecotheology. Delhi: ISPCK, 2004.

Nash, Ronald H., ed. Liberation Theology. 1st ed. Milford, Mich: Mott Media, 1984.

Weber, Max. Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme. Sukabumi: Jejak, 2007.

Yeung, Wai-Chung. Chinese Capitalism in a Global Era: Towards a Hybrid Capitalism (Routledge Advances Ininternational Political Economy, 12). Annotated edition. 2003. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?md5=815ac7d6f74946d5bf52987dfe62810a.

 



[1] Christian Conference of Asia et al., eds., Poverty, Wealth and Ecology in Asia and the Pacific: Ecumenical Perspectives (Chiang Mai; Geneva: CCA ; WCC, 2010).

[2] Ronald H. Nash, ed., Liberation Theology, 1st ed (Milford, Mich: Mott Media, 1984), perhatian pada tiap bab teolog prokapitalisme.

[3] Norberto Bobbio, Left and Right: The Significance of a Political Distinction, 1st edition (Oxford: Polity, 1996), 107.

[4] J. Ramsay Macdonald, Syndicalism: A Critical Examination (Wentworth Press, 2019), pg.68-69.

[5] Jurgen Habermas, “The European Nation-State and the Pressures of Globalization,” New Left Review, no. I/235 (June 1999): 46–59.

[6] Emil Durkheim dalam Haryatmoko, Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis (Yogyakarta: Kanisius, 2016), 76-79.

[7] Craig L Blomberg, Neither Capitalism nor Socialism: A Biblical Theology of Economics, Journal of Markets & Morality, 2012, 19.

[8] Jean Baudrillard dalam Haryatmoko, Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis (Yogyakarta: Kanisius, 2016), 72.

[9] Francis Fukuyama, Kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal (Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2001). Fukuyama menyajikan argumennya mengapa sosialisme Soviet kalah dalam sejarah. Salah satu gagasannya karena sosialisme Soviet tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan dan hasrat terdalam manusia, kebebasan individu, hak asasi dan kebebasan pasar.

[10] Wai-Chung Yeung, Chinese Capitalism in a Global Era: Towards a Hybrid Capitalism (Routledge Advances Ininternational Political Economy, 12), annotated edition (2003), 1-4, http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?md5=815ac7d6f74946d5bf52987dfe62810a.

[11] George Mathew Nalunnakkal, Green Liberation: Towards on Integral Ecotheology (Delhi: ISPCK, 2004), 1-12.

[12] Weber, Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme, 77.

[13] Max Weber, Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme (Sukabumi: Jejak, 2007), 76-77.

[14] Max Weber, Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme (Sukabumi: Jejak, 2007),16.

[15] Yuval Noah Harari, Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia (Tanggerang Selatan: Pustaka Alvabet, 2018), 192-104.

[16] Nash, Liberation Theology.