Gereja Masehi
Injili di Timor (GMIT) kini berdiri di atas patahan sejarah yang rawan. Di
tengah pusaran disrupsi global dan ancaman instabilitas ekonomi, relevansi dengan
gereja pun diuji secara radikal dengan pertanyaan-pertanyaan klasik tentang
keberpihakan gereja; pada jemaatnya atau menyerah pada arus globalisasi. Jawaban
dari pertanyaan inilah yang akan mengantarkan kita melintasi setiap patahan
dengan jembatan penyeberangan keberanian dari titik paradigma lama, menuju
paradigma baru yang lebih menjawab tantangan zaman ini.
Dalam kesadaran,
kita pun harus mengakui bahwa tantangan menyiapkan masa depan itu sendiri juga
tidak mudah di tengah kegelisahan kita pada ancaman perang dunia dan stabilitas
ekonomi yang diperkirakan akan goyah karenanya. Gereja harus bisa mengubah cara
pandang menuju cara kerja yang lebih revolusioner untuk menghadirkan dampak
pelayanan yang lebih membumi dan memberdayakan.
Dalam konstruksi
inilah, eksistensi Pemuda GMIT tidak boleh lagi direduksi sekadar sebagai
pelengkap seremonial, "hiasan" liturgis, atau tenaga cadangan dalam
kepanitiaan hari raya, sebab ini justru adalah bentuk pengerdilan terhadap
profetik gereja itu sendiri. Pemuda harus direposisi sebagai episentrum; mereka
tidak bisa lagi terus di dielu-elukan sebagai masa depan gereja dari atas
mimbar, namun dalam praktik kepemimpinan, mereka kerap dikunci di ruang tunggu.
Bahkan, keberlanjutan
Sinode GMIT sangat bergantung pada sejauh mana pemuda mampu memposisikan diri
sebagai determinan utama kebijakan agar gereja tidak berisiko kehilangan
relevansi di hadapan generasi yang kian kritis dan dunia yang bergerak dengan
logika disrupsi.
Pemuda GMIT adalah
jawaban teologis dan sosiopolitik yang hidup atas tantangan zaman. Sebagai
"Pemuda Kerajaan Allah," identitas ini memikul beban: mewujudkan
tanda-tanda Syalom di setiap jengkal realitas sosial, dari gersangnya lahan
pertanian di pelosok hingga menavigasi riuhnya pusat ekonomi di perkotaan.
Karena itu, visi ini tidak boleh sekadar cita-cita eskatologis yang
mengawang-awang, melainkan harus menjadi sebuah mandat aksi yang sistematis
untuk merebut ruang-ruang kebijakan.
Menjiwai Spirit Sola Scriptura Verbum Dei
Jika kita bercermin
pada sejarah lahirnya Pemuda GMIT, akar perjuangan untuk mandiri telah
memberikan fondasi konstitusional yang cukup kuat; namun untuk membangun
struktur di atasnya, pemuda masih dihadapkan pada banyak pertimbangan oleh
organisasi induknya yang pada akhirnya justru makin mengekang ide-ide transformatif.
Bahkan, tanpa keberanian radikal untuk menempatkan pemuda pada garis terdepan
intelektual.
Sejarah mencatat
bahwa perjalanan Pemuda GMIT adalah epos perlawanan terhadap marginalisasi
peran yang bersifat domestik dan simbolik. Selama dekade-dekade awal
pembentukan Pemuda GMIT, peran mereka bahkan lebih banyak dianggap hanya
sebagai "tukang angkut kursi" atau "seksi konsumsi," sebuah
stigma yang menjebak suara mereka teredam dalam pusaran pengambilan keputusan
strategis.
Namun, kesadaran
hak teologis memuncak pada pergantian milenium ketika deklarasi Pemuda GMIT
sebagai sebuah struktur yang otonom berhasil digapai karena desakan arus bawah
yang deras. Seluruh perjuangan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan
berakar pada semboyan Sola Scriptura Verbum Dei—Hanya Alkitablah Firman Allah.
Meski demikian,
kemandirian administratif ini akhirnya menjadi hampa karena tidak dibarengi
dengan inovasi mentalitas. Tanpa roh kepemimpinan yang melayani (servant
leadership) dan keberanian bertransformasi, maka struktur otonom ini pada
akhirnya hanya akan melahirkan birokrasi baru yang lebih lamban dan berjarak
dari penderitaan jemaat.
Penyakit Mentalitas Usang
Dunia hari ini tidak lagi bisa direspon dengan
pola pikir linier. Arus globalisasi dan ancaman krisis iklim telah memukul telak basis ekonomi
agraris jemaat. Saat kekeringan ekstrem dan cuaca tak
menentu mengancam ketahanan pangan, sangat ironis jika Pemuda GMIT masih mengidap penyakit akut "harus
menjadi ASN". Sebuah ilusi di mana kesuksesan dan prestise hanya diukur
dari seragam cokelat birokrasi dan ketergantungan pada sektor publik.
Di era otonomi daerah yang diwarnai pembatasan
pertumbuhan pegawai dan dukungan fiskal pemerintah pusat, mempertahankan pola
pikir ini dan menggantungkan nasib padanya adalah jebakan kemiskinan
intelektual. Faktanya, di depan mata kita, 9000 ASN P3K terancam dirumahkan akibat
kurangnya anggaran pemerintah daerah. Informasi ini seharusnya bisa
menggelisahkan gereja, sebab bukan tidak mungkin, sebagian besar dari ribuan
orang itu adalah Pemuda GMIT. Jika ada
kegelisahan, seharusnya ada pertanyaan baru lagi, apakah yang akan dilakukan
gereja menghadapi kemungkinan akan ada ribuan jemaatnya yang kehilangan mata
pencaharian? Kembali mendoakan mereka agar tidak kehilangan pekerjaan, atau
menciptakan peluang baru yang bisa menyerap mereka? Apapun pertanyaannya, tidak
akan ada jawaban jika ternyata gereja tidak memiliki visi yang adaptif dalam
pemberdayaan jemaat terutama pemuda di tengah kondisi dunia saat ini.
Ketiadaan visi
adaptif dan sempitnya lapangan kerja ini tidak hanya membunuh kreativitas
generasi muda kita, tetapi juga mendorongnya terjerumus ke dalam pusaran
kriminalitas, minuman keras, hingga judi online.
Tantangan ini adalah
masalah eksistensial yang harus diantisipasi sejak dini dan dijembatani gereja
untuk menghadirkan resolusi yang lebih bermartabat. Jika pemuda gagal, GMIT
akan menghadapi krisis kaderisasi dan kehilangan pengaruhnya sebagai garam
dunia. Tekanan eksternal ini mengharuskan kita untuk melakukan penataan ulang
terhadap hambatan internal: mentalitas usang yang masih membelenggu sebagian
besar kader kita.
Karena itu, pemuda saat
ini membutuhkan transformasi yang berani berbicara solusi tentang fenomena
"kota-sentris" yang tidak terkendali, yang justru semakin memperburuk
angka pengangguran, sementara potensi agraris desa ditelantarkan.
Gereja harus
menjadi jalan bagi Pemuda GMIT untuk berani mendobrak zona nyaman dengan turun
ke akar rumput, menjadi pelopor yang mengajak desa berinovasi membangun gerakan
ekonomi, baik lewat informasi dan teknologi, pembangunan pertanian, maupun
pengurangan risiko bencana, sehingga bisa lebih berdaya dan tangguh menghadapi
guncangan ekologis dan ekonomi.
Untuk sampai ke
sana, pemuda harus merapatkan barisan, menciptakan inovasi dan ketahanan
bersama, agar kenyataan pahit bahwa pergerakan pemuda masih tersandera oleh
ilusi kesejahteraan masa lalu yang melumpuhkan dapat dilawan.
Namun, panggilan
untuk menjadi agen pemberdayaan dan memimpin transformasi di tingkat tapak ini
jelas tidak bisa dieksekusi hanya dengan semangat yang menggebu. Pemuda
membutuhkan ruang transformasi dan kerangka kerja yang konkret sebagai peta
jalan. Untuk mewujudkan hal tersebut, kita sesungguhnya tidak perlu menciptakan
instrumen yang sama sekali baru; kita hanya perlu merevitalisasi urat nadi
pelayanan yang selama ini menghidupi gereja. Instrumen teologis yang kita kenal
sebagai Panca Tugas Gereja tidak boleh lagi sekadar dipraktikkan sebagai
rutinitas pasif, melainkan harus dipersenjatai ulang sebagai strategi
pengorganisasian massa yang radikal.
Merebut Ruang
Dalam lanskap ini,
tugas Koinonia (persekutuan) tidak boleh lagi mandek sebagai rutinitas
kumpul-kumpul yang miskin inovasi. Ia harus bermetamorfosis menjadi simpul
kolaborasi dan jejaring resiliensi komunitas lintas klasis, menyatukan kekuatan
pemuda untuk merespons ancaman krisis di Nusa Tenggara Timur secara kolektif. Semangat persekutuan yang solid
ini kemudian harus bermanifestasi ke ruang publik sebagai Marturia
(kesaksian) gaya baru. Di era modern, kesaksian iman yang paling tajam tidak
lagi sekadar bergema dari balik mimbar, melainkan mewujud melalui integritas
profesional. Menjadi pemuda yang jujur dan tangguh sebagai inovator pertanian
adaptif iklim, praktisi teknologi tepat guna, maupun advokat hukum di tengah
masyarakat adalah bentuk Marturia yang jauh lebih membekas daripada
ribuan kata retorika.
Ketajaman kesaksian di ruang publik ini pada
gilirannya akan meredefinisi wajah Diakonia (pelayanan) gereja. Sudah
saatnya kita meninggalkan model pelayanan karitatif yang sekadar
mendistribusikan bantuan sosial sesaat, dan berani bergeser pada pemberdayaan
ekonomi. Pemuda harus mengambil alih kemudi sebagai motor kewirausahaan sosial
yang secara sistematis menarik jemaat keluar dari jurang kemiskinan. Tentu
saja, agar energi pergerakan ini tidak padam, Liturgia (ibadah) kita pun
menuntut pembaruan yang amat kontekstual. Ibadah tidak boleh lagi menjadi
pelarian dari kerasnya realitas, melainkan harus bertransformasi menjadi
inkubator ide yang mampu merespons kegelisahan eksistensial dan kesehatan
mental generasi masa kini. Pada akhirnya, seluruh agenda transformasi ini
mustahil terwujud tanpa perombakan dalam Oikonomia (penatalayanan).
Talenta-talenta muda harus diberikan ruang, kepercayaan, dan otoritas untuk
memimpin kebijakan manajerial gereja, memastikan setiap aset dikelola secara
transparan demi pelayanan jemaat yang benar-benar missioner.
Sinergi dan Kedaulatan Pemuda
Untuk mengeksekusi visi besar ini, pemuda GMIT
tidak boleh bekerja dalam isolasi yang naif. Sinergi adalah kunci
pelipatgandaan kekuatan. Kita membutuhkan pembangunan relasi strategis dengan
dunia bisnis, aktor politik, akademisi, dan jaringan internasional sebagai daya
ungkit (leverage) kebijakan. Pemuda yang berjaring luas akan memiliki
nilai tawar (bargaining power) tinggi di hadapan struktur Sinode maupun
pemerintah. Hancurkan tembok eksklusivitas kelompok dan duduklah bersama untuk
memecahkan persoalan jemaat secara kolektif.
Sebagai sintesis, manifesto ini menegaskan bahwa resurgensi pemuda GMIT adalah sebuah imperatif sejarah yang tak bisa ditawar. Masa depan gereja ditentukan oleh keberanian generasinya meninggalkan mentalitas ketergantungan dan bertransformasi menjadi agen perubahan yang militan. Dengan menjiwai spirit Sola Scriptura Verbum Dei, "Menjadi Pemuda Kerajaan Allah" bukanlah slogan kosong. Ia adalah praksis nyata dari kepemimpinan yang melayani dengan sebuah gerakan yang membawa tanda-tanda Syalom untuk memulihkan alam dan memberdayakan manusia.* (Penulis adalah Jemaat GMIT Emaus Liliba)