Shalom jemaat Tuhan yang
dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Hari ini kita bersyukur karena
Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk beribadah dalam Bulan Bahasa dan
Budaya GMIT dengan nuansa etnis Sabu. Kita percaya bahwa budaya adalah anugerah
Tuhan. Budaya bukan untuk dijauhkan dari iman, tetapi di dalam budaya ada
nilai-nilai baik yang dapat menolong kita memahami firman Tuhan.
Salah satu warisan budaya masyarakat Sabu yang
sangat dikenal adalah tarian Pedoa
atau Padoa. Kalau kita memperhatikan tarian ini dengan baik,
ada makna hidup yang sangat indah di dalamnya.
Pada awal tarian, para penari
belum langsung saling berpegangan tangan. Mereka mulai dengan langkah perlahan
sambil menyesuaikan irama dan langkah satu dengan yang lain. Sesudah itu mereka
mulai mendekat, saling berpegangan tangan atau meletakkan tangan di pundak satu
sama lain. Gerakan menjadi semakin teratur karena ada kebersamaan. Dan pada
bagian tertentu suasana berubah menjadi penuh sukacita. Mereka melompat bersama
dengan semangat dan kegembiraan.
Tidak ada yang berjalan sendiri.Tidak ada yang
melompat sendiri. Semua dilakukan bersama-sama. Pedoa mengajarkan bahwa hidup
juga seperti itu.
Ada masa langkah terasa
lambat.Ada masa belajar saling menopang. Ada masa menanti. Dan ada masa Tuhan
memberikan sukacita.
Saudara-saudari, gambaran ini sangat dekat dengan firman Tuhan hari ini. Sebelum bagian ini, Yesus baru saja naik ke surga. Bagi para murid, ini adalah masa yang sangat berat. Masa lalu bersama Yesus telah selesai. Tetapi masa depan bersama Roh Kudus belum dimulai.
Mereka sedang berada di tengah masa transisi yang
tidak mudah. Mereka kehilangan kehadiran fisik Yesus. Mereka masih terluka
karena pengkhianatan Yudas. Mereka juga hidup dalam ancaman para pemimpin agama
Yahudi. Mereka takut. Mereka bingung. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi
selanjutnya. Secara manusia, mereka bisa saja bubar. Petrus bisa kembali
menjadi nelayan.
Matius bisa kembali menjadi pemungut cukai. Yang lain bisa memilih jalan masing-masing. Tetapi mereka memilih tetap bersama. Dan di sinilah kita belajar bahwa persekutuan sering kali menjadi tempat Tuhan memulihkan orang-orang yang sedang terluka.
Dari firman ini kita bisa belajar beberapa hal:
1.
Mereka kembali ke Yerusalem (ayat 12)
Ayat 12 mengatakan bahwa mereka
kembali ke Yerusalem dari Bukit Zaitun. Ini menunjukkan ketaatan. Yesus meminta
mereka menunggu di Yerusalem. Mereka belum tahu kapan Roh Kudus datang. Mereka
belum tahu bagaimana masa depan mereka. Tetapi
mereka tetap taat.
Ini seperti langkah awal dalam tarian Pedoa. Langkahnya masih perlahan. Belum ada lompatan sukacita. Tetapi mereka tetap berjalan. Bukankah hidup kita juga sering seperti itu? Kita belum tahu kapan jawaban doa datang. Kita belum tahu kapan ekonomi keluarga membaik. Kita belum tahu kapan sakit dipulihkan. Kita belum tahu kapan pekerjaan datang. Tetapi Tuhan meminta kita tetap berjalan dalam ketaatan. Iman sering dimulai dari langkah kecil ketaatan, meskipun kita belum melihat seluruh rencana Tuhan.
2. Mereka tetap berkumpul bersama (ayat 13)
Ayat 13 mencatat nama-nama murid
yang berkumpul di ruang atas. Ini penting. Mereka adalah orang-orang yang
pernah gagal. Petrus pernah menyangkal Yesus. Murid-murid lain pernah melarikan
diri. Mereka punya rasa bersalah. Mereka punya luka.Tetapi mereka tidak saling
menyalahkan.
Mereka tetap memilih tinggal dalam komunitas. Ini
seperti bagian Pedoa ketika para penari mulai saling mendekat dan terhubung. Karena
mereka sadar bahwaahwa mereka tidak bisa
melewati masa sulit sendirian.
Saudara-saudari, orang Sabu dikenal memiliki semangat kebersamaan yang kuat. Dalam kehidupan adat, dalam pekerjaan, dalam keluarga, selalu ada semangat saling menopang.
Jangan sampai budaya kita mengajarkan kebersamaan, tetapi gereja justru dipenuhi pertengkaran. Jangan sampai kita bisa menari Pedoa bersama, tetapi sulit hidup rukun dalam keluarga dan jemaat. Tuhan sering memulihkan hati yang terluka melalui kehadiran komunitas iman.
3. Mereka bertekun dengan sehati dalam doa (ayat 14)
Inilah inti firman hari ini. Ayat
14 berkata: "Mereka
semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama."
Mereka tidak hanya berkumpul
secara fisik. Mereka menyatukan hati. Mereka membawa ketakutan mereka kepada
Tuhan. Mereka menanti janji Tuhan bersama-sama. Ini seperti bagian Pedoa ketika
semua mulai saling berpegangan dan bergerak dalam ritme yang sama. Kalau satu orang bergerak sendiri, tarian
menjadi rusak.
Demikian juga gereja Kalau semua mau menang sendiri, kebersamaan rusak. Kalau semua hanya memikirkan diri sendiri, persekutuan hancur. Tetapi ketika kita sehati mencari Tuhan, Tuhan bekerja. Persekutuan Kristen bukan sekadar hadir bersama, tetapi sehati mencari kehendak Tuhan bersama.
Saudara-saudari, kalau kita membaca Kisah Para Rasul pasal 2, kita melihat jawaban Tuhan atas penantian mereka. Roh Kudus turun. Mereka yang takut menjadi berani.
Mereka yang bingung mendapat arah. Mereka yang bersembunyi keluar menjadi saksi Kristus. Tuhan tidak pernah membiarkan penantian umat-Nya sia-sia. Tuhan datang pada waktu-Nya. Tuhan memberi pertolongan pada waktu yang tepat.
Ini seperti bagian akhir Pedoa. Setelah langkah perlahan, setelah saling menopang, akhirnya ada lompatan sukacita bersama. Tuhan sanggup mengubah masa penantian menjadi masa sukacita.
Makna Firman bagi Jemaat
Pertama: jangan berjalan sendiri saat hidup sedang berat Kalau ada pergumulan ekonomi, sakit penyakit, masalah keluarga, atau kekecewaan pelayanan, jangan menjauh dari persekutuan. Tuhan sering menghadirkan pertolongan melalui sesama.
Kedua: belajar menyamakan langkah dalam keluarga dan jemaat. Belajarlah untuk saling mendengar. Belajarlah untuk saling memahami. Belajarlah untuk terus saling menopang. Karena kebersamaan selalu membutuhkan kerendahan hati.
Ketiga: tetap setia dalam masa penantian. Ada jemaat yang sedang menunggu pekerjaan. Menunggu kesembuhan. Menunggu jawaban doa. Menunggu masa depan anak-anak.Tetap percaya. Tuhan sedang bekerja.
Keempat: Tuhan sanggup mengubah air mata menjadi sukacita. Air mata tidak selamanya. Pergumulan tidak selamanya. Penantian tidak selamanya. Tuhan sanggup memulihkan.
Penutup
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Jika hari ini langkah hidupmu terasa lambat seperti awal tarian Pedoa—tetap berjalan. Jika hari ini engkau sedang belajar memperbaiki hubungan dengan sesama—tetaplah terhubung. Jika hari ini engkau sedang menunggu jawaban Tuhan—tetaplah berdoa. Sebab Tuhan yang menolong para murid di ruang penantian adalah Tuhan yang sama yang bekerja dalam hidup kita hari ini. Jangan menyerah di tengah penantian. Tetap berjalan bersama. Tetap berdoa bersama. Tetap berharap kepada Tuhan. Dan pada waktunya, Tuhan akan mengubah air mata menjadi sukacita. Amin.