Bahan Renungan Minggu Sengsara ke-7, 13 April 2025. Dikutip dari Tunas Dari Tanah kering, Edisi Maret-April 2025.
Penguasa-penguasa dunia seringkali mempertontonkan
keperkasaan, kemewahan, kekuatan, dan kekerasan dalam berbagai momen. Tujuannya
adalah untuk menunjukkan kebesaran diri sehingga ditakuti dan dihormati oleh
rakyat. Misalnya dalam momen kunjungan Presiden, Gubernur, dan pejabat
pemerintahan lainnya, tampak sang penguasa turun dengan mobil dinas yang mewah,
ada pengawalan yang ketat dari aparat keamanan, ada sambutan yang meriah, dan
seterusnya. Kebalikan dari sikap penguasa dunia, bacaan hari ini memperlihatkan
sikap Yesus sebagai raja damai yang datang dengan kelembutan, kesederhanaan,
dan kerendahan hati.
Penjelasan Teks
Ada tiga hari raya besar agama Yahudi yang tidak terlewatkan
oleh umat, yaitu paskah (memperingati pembebasan dari perbudakan di Mesir),
shavout (memperingati pemberian hukum taurat oleh Allah kepada Musa), dan
Sukkot (syukur panen). Pada hari-hari raya itu, banyak umat dari berbagai
daerah datang berziarah ke Yerusalem, pusat kota keagamaan Yahudi. Bacaan tadi
bercerita bahwa Yesus hendak memasuki Yerusalem menjelang hari raya paskah.
Oleh karena itu, tidak heran bila di Yerusalem sangat ramai waktu itu.
Yesus tahu situasi itu, dan Ia juga tahu bahwa ketika la ke
sana, pasti ada harapan agar Ia menyatakan diri sebagai mesias politik yang
memebaskan mereka dari belenggu penjajahan. Namun Yesus bertindak lain. Yesus
memilih menunggang keledai ketika hendak memasuki Yerusalem. Tindakan Yesus
memilih keledai bertolak belakang dengan sikap para penguasa dunia. Perlu
diketahui bahwa keledai adalah binatang pengangkut kebutuhan domestik seperti
bahan makanan, atau pun manusia. Keledai itu lemah lembut.
Memang keledai juga dipakai oleh raja/pemimpin, tetapi
dipakai dalam keadaan damai (Hak 5:10 & 10:4). Sedangkan untuk
urusan-urusan strategis politik dan perang, raja menggunakan kuda. Kuda juga
merupakan sarana perang para pasukan. Kuda terkenal karena kekuatan dan
kecepatannya dalam berlari. Dengan demikian, ketika Yesus memilih menunggang
keledai, hal itu menunjukkan diriNya sebagai Raja damai. Misi Yesus jelas bukan
bersifat politik-kekuasaan, melainkan bersifat damai. Keledai itu pun pinjaman.
Keledainya tidak punya pelana sehingga harus dialasi dengan pakaian. Ini semua
menunjukkan kemiskinan dan kerendahan hati. Walaupun Yesus adalah Anak Allah
yang maha kuasa, namun Ia memilih memiskinkan (mengosongkan) diri ketika hendak
datang ke dunia.
Tindakan Yesus ini menggenapi nubuat dalam Zakharia 9:9
bahwa Mesias akan datang dengan lemah lembut dan membawa damai. Dunia sering
mengandalkan kekuatan dan kekerasan untuk meraih kemenangan, tetapi Yesus
menunjukkan bahwa damai sejati datang melalui kelembutan dan kasih. Yesus tidak
datang untuk menaklukkan bangsa secara militer, tetapi untuk menaklukkan hati
manusia dengan kasih dan pengampunan-Nya.
Meskipun lemah lembut, Yesus bukan Raja yang lemah.
Kelembutan-Nya bukan tanda kelemahan, tetapi kekuatan sejati. Terbukti, Yesus
mampu menanggung penderitaan salib hingga kehilangan nyawa. Tentu hanya orang
kuat yang mampu menanggung segala beban penderitaan. Orang lemah akan mudah
menyerah dan mundur. Walaupun Yesus tidak tampil sebagai mesias politik, namun
kedadatangan-Nya disambut luar biasa. Orang banyak menghamparkan pakaiannya di
jalan sebagai "karpet merah" bagi Yesus. Di Timur Tengah yang
cuacanya sangat ekstrim; panas sekali atau dingin sekali, sehingga bila seseorang
tidak berpakaian, ia bisa mati. Namun ketika Yesus datang, orang banyak
melepaskan pakaian mereka dan menghamparkannya di jalan bagi Yesus. Ini
menunjukkan bahwa mereka hendak menyerahkan seluruh hidup bagi sang raja damai
itu.
Mereka juga menyebarkan ranting-ranting hijau (daun palem)
di jalan. Dalam tradisi Yahudi, daun palem biasanya disiapkan untuk pelantikan
imam/raja. Daun ini melambangkan kehormatan bagi orang yang mendapatkannya.
Maka ketika daun palem dihamparkan di jalan bagi Yesus, itu berarti saatnya
sudah dekat bahwa Ia akan dilanntik menjadi Mesias.
Lebih jauh, orang banyak itu berseru: "hosana bagi anak
Daud". Hosana adalah nyanyian pujian yang biasa dinyanyikan dalam
pelantikan imam dan raja. Dalam agama Yahudi, Daud adalah model ideal seorang
pemimpin politik. Daud menjadi standar baku bagi pandangan tentang mesias
sebagai pemimpin politik yang memimpin perang. Karena itu, ketika nyanyian itu
dikenakan pada Yesus, ada harapan besar dari umat bahwa Yesuslah Mesias yang
datang untuk membebaskan mereka dari penjajahan. Namun kedatangan Yesus dengan
kelembutan bertolak belakang dengan harapan mereka karena sesungguhnya misi
Yesus adalah perdamaian.
Penutup
Yesus menyelesaikan persoalan dosa manusia dengan cara
menanggung semuanya melalui jalan penderitaan (via dolorosa). Yesus menanggung
seluruh beban dosa kita demi keselamatan kita. Dialah raja damai yang lemah
lembut. Dalam kelembutan kasih-Nya Ia mengampuni dan melepaskan kita. Maka
sudah semestinya kita mengasihi Dia, mengijinkan Dia menjadi raja dalam hati,
sehingga hidup kita sepenuhnya kita persembahkan kepada Dia. Kalau orang banyak
mempersembahkan pakaian, kita pun belajar mempersembahkan talenta, kekayaan,
pekerjaan, tenaga dan waktu kita untuk Tuhan. Dia raja damai, berarti hati kita
semestinya selalu damai karena dia bertahta di dalamnya. Kita juga belajar
bahwa dalam menyelesaikan masalah dengan sesama, bukan kekerasan yang harus
kita tempuh, tetapi jalan damai dan kelembutan (gm). ***