KUPANG, https://sinodegmitkolportase.or.id, – Ribuan umat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) se-Kota Kupang memadati kawasan Taman Nostalgia untuk mengikuti Ibadat Pembukaan Prosesi Jalan Salib Klasis Kota Kupang Ke-10, Kamis (2/4/2026). Kegiatan kolosal yang menempuh jarak sekitar 10 kilometer ini menjadi momentum sakral bagi umat untuk merenungkan kembali peristiwa penderitaan Yesus Kristus menjelang perayaan Paskah.

Ibadat pembukaan dipimpin oleh Pendeta Frans A. Dilak, yang menandai dimulainya rangkaian fragmen kisah sengsara dari titik awal di Taman Nostalgia menuju etape akhir di GMIT Pohonitas Manulai II. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dalam sambutannya menegaskan bahwa prosesi ini merupakan simbol pengorbanan yang harus dimaknai secara mendalam oleh setiap individu dalam menghadapi tantangan hidup.

“Prosesi ini mengajarkan bahwa di balik setiap penderitaan dan pergumulan hidup, selalu ada harapan. Karena itu, kita tidak boleh kehilangan harapan dalam situasi apa pun,” ujar dr. Christian Widodo.

Beliau juga menekankan pentingnya peran strategis pemuda gereja sebagai penggerak masa kini yang diharapkan mampu menjadi "garam dan terang" bagi lingkungan sekitarnya.

Prosesi tahun ini melibatkan sekitar 300 pemeran yang menggambarkan perjalanan Yesus menuju bukit Golgota. Narasi penderitaan tersebut dibagi ke dalam beberapa etape utama di sejumlah gereja GMIT, antara lain: Taman Nostalgia: Peristiwa penangkapan Yesus; GMIT Kota Baru: Perundingan para ahli Taurat; GMIT Pniel Oebobo: Yesus di hadapan Hanas dan Kayafas; GMIT Kefas & Koinonia: Yesus di hadapan Pilatus dan Raja Herodes; GMIT Syalom & Kemah Ibadat: Pengadilan ulang hingga peristiwa Yesus jatuh untuk pertama kalinya; GMIT Rehobot & Hosana: Yesus jatuh untuk kedua kalinya dan penyesalan Yudas Iskariot; GMIT Pohonitas Manulai II: Etape terakhir yang menggambarkan penyaliban hingga pemakaman.

Kegiatan yang mengusung tema “Kristus Bangkit Memperbaharui Kemanusiaan Kita” ini diikuti dengan antusiasme tinggi, khususnya dari kalangan pemuda.

Jefri, salah seorang jemaat dari GMIT Silo, menyatakan bahwa partisipasinya merupakan wujud penguatan iman.

“Setiap tahun kegiatan seperti ini membuat kita anak muda semakin mengingat penderitaan Yesus bagi umat manusia. Walaupun harus berjalan jauh, kami tetap semangat karena ini bagian dari iman kami,” tuturnya.

Pelaksanaan Prosesi Jalan Salib Ke-10 ini didasarkan pada Keputusan Sidang Majelis Klasis Kota Kupang Tahun 2006 serta penunjukan Tim Pelayanan oleh Majelis Klasis Harian Kota Kupang. Selain sebagai refleksi teologis, kegiatan ini bertujuan mempererat persatuan dan solidaritas antar-pemuda dari 40 gereja GMIT di lingkup Klasis Kota Kupang. *