Sering orang mengatakan Hidup adalah sebuah perjalanan bukan pelarian. Sering juga mengatakan : Hidup adalah sebuah perjalanan, bukan Tujuan.
Kami melakukan perjalanan bersama bukan sebagai sebuah pelarian dari tanggungjawab pelayanan, bukan juga sekedar jalan-jalan biasa menikmati negeri seribu pura itu tapi sebuah proses bertumbuh, berefleksi dan memperbaharui spiritualitas, komitmen pelayanan dan kebersamaan.
Itulah yang kami jalani dan alami selama kurang lebih satu minggu dalam kegiatan rekoleksi pendeta GMIT Klasis Rote Barat Laut di pulau Bali, sejak 9 hingga 14 Agustus 2025. Sebanyak 23 Pendeta GMIT berpartisipasi dalam rekoleksi tersebut.
Setelah melalui diskusi yang panjang dan alot, akhirnya peserta persidangan Klasis RBL tahun 2023 memutuskan perlunya kegiatan rekoleksi para pendeta Pada tahun 2025. Mengingat tekanan pelayanan yang lumayan berat, perlu adanya saat yang direncanakan bersama untuk perbaharui spiritualitas, perbaharui komitmen pelayanan dan kebersamaan sesama sahabat sepelayanan.
Dan, pulau Dewata, dengan keindahan alamnya yang memesona dan keheningan yang mendalam, menjadi tempat yang tepat untuk rekoleksi pendeta GMIT di Klasis Rote Barat Laut.
Panitia berkerja extra mencari dana juga melalui dukungan jemaat yang besar akhirnya dengan semangat membara kami ke Bali menggunakan pesawat. Ada yang bersyukur karena baru pertama kali naik pesawat.
Kami tiba di Bali dengan sambutan hujan rintik rintik dan pengalungan bunga dari nona Bali. Sambutan yang menghangatkan hati di tengah kelelahan dan guyuran hujan. Sampai di penginapan dengan sukacita. Kami bersih-bersih dan berbagi cerita cerita ringan ditemani hujan yang semakin deras.
Besoknya, sesuai jadwal kami bertemu dengan pihak GPIB Maranatha Bali untuk sharing mengenai pelayanan. Namun harus batal karena gereja mereka terendam banjir setinggi satu meter sehingga menutup jalur masuk ke gereja bahkan 1 KK jemaat mereka dikabarkan hilang. Pertemuan dengan mereka akhirnya ditunda ke hari kamis, kalau situasinya membaik.
Kami akhirnya merubah rencana memanfaatkan waktu dengan melakukan perkunjungan ke tempat tempat yang bisa dilalui dan tidak terkena dampak banjir. Beberapa tempat yang kami kunjungi di hari pertama yakni Taman perjuangan rakyat Bali, Ikon Bali dan pusat perbelanjaan sovenir Bali. Banyak mata yang "balari" dengan hasil kerajinan masyarakat Bali. Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai.
Kami juga mengunjungi "Ikon Bali" sebuah pusat perbelanjaan berskala internasional. Kami hanya masuk dan "Taputar Taputar, bafoto". Sampai keluar dari tempat itu tidak ada satupun yang kami beli. Harganya fantastik. "Beta pada akhirnya menyadari betapa tidak berartinya Beta di banding barang barang di sana" hahaha. Untung saja "Tuhan menganggap saya berharga"
Hari kedua kami sudah bisa bertemu dengan GPIB Maranatha Bali karena banjir sudah surut. Salut untuk Pemda Bali yang sangat cepat menanggulangi bencana banjir. Saat kami ke sana, seperti tidak terjadi apa apa. Salut dan jempol untuk Pemda Bali dan masyarakat Bali.
Kami memanfaatkan waktu bersama, berbagi cerita suka duka pelayanan, sharing program pelayanan jemaat sepanjang hari bersama saudara seasas di GPIB Maranatha Bali. Ternyata ada banyak sekali warga GMIT yang bergereja di sana tetapi juga masih banyak warga GMIT yang tidak bisa bergereja di sana dan memilih ke denominasi lain karena jarak yang jauh.
Malamnya kami menyempatkan diri bertemu dengan keluarga besar "Ofalanga" , organisasi persaudaraan orang Rote di Bali yang telah mendapat ijin sebagai organisasi kemasyarakatan yang diakui di Bali, yang diketuai Bpk Kiuk. Beliau berbagi cerita tentang sulitnya mendapat tempat untuk penguburan jenazah. Sehingga dalam satu lubang ada sampai 4 jenasah. Beliau sempat berguyon, "Hidup su susah , mati lebih susah lai"
Hari ketiga kami melakukan perjalanan ke Bedugul untuk melihat "The Bloom Garden" suatu tempat di dekat kaki gunung agung. Tempat yang sejuk dengan tamannya bak taman firdaus. (Taman firdaus.....? Memangnya kamu pernah ke sana? Hahahaha belum pernah ke sana tapi katanya itu taman terindah jadi pokoknya begitu hhh).
Spot foto yg sangat banyak taman bunga yg di tata sangat indah. "Hati seakan menemukan tempat bersandar" hahaha . Seorang teman berkelakar "Beta kalau tinggal di sini beta sonde akan mati hanya karena darah tinggi, kolesterol, asam lambung, asam urat dan kawan kawannya".
Sehabis dari taman edennya Bali, kami Singga di Joger, sebuah pusat penjualan baju baju suvenir yg bertuliskan kata kata bagus. Banyak uang kami yang di tukar di sana dengan barang-barangnya. Ada sebuah gantungan kunci dengan tulisannya yang menarik yang saya pilih : "Cinta Palsu hanya dapat dibayar dengan uang palsu". Ada juga kata : "Kalau pintu dan jendela sudah di buka, knapa harus ngintip" hahaha .
Hari ke empat kami berkunjung ke tempat pementasan seni Bali. Kami memperkaya literasi budaya Bali sambil menonton barong. Setelah itu mengunjungi pusat agama agama di Nusa Dua Bali melanjutkan perjalanan ke pantai Pandawa, mengunjungi sesama saudara di pantai Kuta dan menikmati senja di Pantai Jimbaran.
Di tengah-tengah pantai yang indah dan puncak yang hijau, kami menghabiskan waktu untuk merenungi diri, berbagi pengalaman pelayanan. Kami bersyukur bertemu bapak Pdt. Emeritus Sem Nitti yang dengan sukacita berbagi pengalaman pelayanan, sharing cerita penguatan dari beliau tentang spiritualitas, komitmen pelayanan dan kebersamaan.
Kami menemukan kembali semangat untuk pelayanan di Klasis Rote Barat Laut. Kami diingatkan tentang pentingnya merawat jiwa dan hubungan dengan Tuhan sahabat sejati dalam pelayanan yang penuh tekanan dan tantangan. Kami juga memperbaharui komitmen pelayanan kami, untuk terus melayani dengan kasih dan integritas di tengah-tengah jemaat Klasis Rote Barat Laut.
Yang paling berharga dalam perjalanan ini adalah kebersamaan sesama pelayan di Klasis Rote Barat Laut. Kami berbagi cerita, tantangan, dan sukacita dalam pelayanan. Kami saling mendukung dan mendoakan satu sama lain. Pengalaman ini mengingatkan kami bahwa kita tidak sendirian dalam pelayanan, tetapi kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang lebih besar di Klasis Rote Barat Laut.