Noelbaki-Kupang, https://.sinodegmitkolportase.or.id, Rumah
Literasi Cakrawala NTT dan GMIT Pengharapan Dendeng menggelar Panggung Kreasi
bagi anak-anak Desa Noelbaki, pada Sabtu (25/10/2025). Panggung kreasi tersebut mengangkat isu dampak teknologi digital dan keluarga hingga kekerasan terhadap anak-anak.
Salah satu peserta, Mifi Sanam berpidato tentang dampak teknologi digital yang memberikan banyak kemudahan, tetapi ada banyak ancaman. Karena itu ia berharap anak-anak memiliki kecakapan literasi, membaca, untuk memiliki ilmu yang cukup, dan bisa bersaing di era digital ini tanpa jatuh pada dampak negatifnya.
Sementara itu Gisela Baitanu dalam penampilannya berbicara tentang keluarga menjadi tempat paling baik dan indah untuk belajar tentang kasih sayang dan kebersamaan. Ia mencintai keluarganya.
Demikian juga penampilan monog dalam drama kolosal dari Mendy Project mengangkat isu kekerasan seksual dan demo beberapa waktu lalu yang mengorbankan anak-anak.
"Pelaku berlindung pada hukum, korban tersiksa dan menderita, tetapi mereka tidak perduli," ucap sang narator dengan suara lirih.
Ia melanjutkan bahwa rakyat butuh perlindungan, kebebasan bersuara, cinta dan kasih sayang. Jangan diam terhadap kekerasan pada manusia.
Beberapa kegiatan lain yang ditampilkan anak-anak dalam panggung kreasi tersebut antara lain: Fashion Show, Dance Kreasi, Vocal Group, dan Puisi.
Sementara peserta lainnya menampilkan tarian yang merupakan hasil kreasi tarian tradisional dan modern.
Menurut Direktur Rumah Literasi Cakrawala NTT, Gusti Rikarno, kegiatan tersebut merupakan bagian dari literasi yang tidak hanya sebatas baca dan tulis, tetapi anak-anak diasah literasi minat dan bakat mereka sejak dini untuk menjadi lebih baik ke depan.
“Dua jam saja. Di hari Sabtu dari
jam 15.00 sampai 17.00 Wita, kami sangat berharap bapa mama yang tidak sibuk,
agar bersama anak anak disini,” kata Gusty.
Sementara itu, Pendeta GMIT
Pengaharapan Dendeng. Silvana A. Messakh-Manafe menyampaikan bahwa kegiatan ini
merupakan bagian dari pengembangan diri anak-anak.
“Terima kasih karena Rumah
Literasi ini sudah berbuat banyak untuk anak-anak. Bukan hanya dalam hal membaca, tetapi juga menolong mereka
untuk mengembangkan diri,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih
kepada pemuda dan Ibu-ibu Dusun Dendeng, Mahasiswa Fakultas Psikologi Undana
dan Muhammadiyah yang menjadi relawan dan membimbing anak anak sampai bisa
membaca dan mengembangkan bakat mereka.
Pdt. Silvana berharap ada juga
kelas pertanian agar anak-anak belajar mencintai lingkungan mereka sejak dini.
Dr. Yustina Ndun, Tim Formatur Literasi Cakrawala NTT dalam sambutannya mengapresiasi penampilan anak-anak melalui panggung kreasi tersebut.
Ia melanjutkan bahwa Rumah Literasi Cakrawala ini lahir untuk berbagi kasih, berbagi hati, berbagi perhatian demi meningkatkan literasi dan numerasi bukan hanya untuk anak-anak, tetapi orang dewasa di Provisi Nusa Tenggara Timur.
Acara tersebut ini diakhiri dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Rumah Literasi Cakrawala NTT dengan Komunitas Belajar Mengajar (KBM) Universitas Muhammadiyah Kupang dan Komunitas Mendi Project.
Panggung kreasi tersebut dihadiri oleh Pemerintah Desa Noelbaki, Pdt. Emr. Yunus Polli, Pdt. Kalvin Benu, warga sekitar Noelbaki, dan Majelis Jemaat Pengharapan Dendeng. ***