Raymond E. Brown ‘The Gospel According to John’ mengingatkan bahwa kisah penampakan Yesus kepada para murid harus dibaca dalam model detail historis yang realistis.

Saya pikir ini penting karena godaan sebuah teks ialah kita terbiasa memberi makna, mencoba merefleksikannya begitu kuat sehingga kita kehilangan fakta sejarahnya. Saya mencoba mendetailkan apa yang di ingatkan Raymond dengan melihat apa yang di tulis Injil Yohanes dalam ayat 19 : ‘pintu-pintu yang terkunci.’

Ini adalah sebuah fakta yang ditulis oleh Yohanes karena ketakutan para murid. Lalu kita bertanya dengan serius apakah para murid benar-benar ketakutan dan kehilangan harapan? Apakah daya politis kematian Yesus membuat para murid begitu was-was sampai hilang kewarasannya? Kita perlu menjawab pertanyaan ini dengan memperkaya referensi atau literasi kita mengenai pintu dalam konteks Israel.

Salah satu hal yang menjadi perhatian kita jika membaca pengalaman iman orang Israel dengan Tuhan, kita menemukan sejumlah perjumpaan dan kehadiran Tuhan melalui ‘pintu’.

Perayaan Paskah tertua tertulis dalam Keluaran 12 tentang pintu dan darah Anak Domba (Kel 12 : 7), pintu menjadi akses perlindungan Tuhan. Pintu terkunci tapi Tuhan yang melindungi umatNya dari maut.

Dalam sastra kebijaksanaan dan mazmur (mazmur 24 : 7) menyinggung pintu sebagai lambang keterbukaan spiritual terhadap kehadiran Tuhan. Jadi Yohanes tidak hanya berbicara tentang pintu yang terkunci sebagai ‘ketakutan’ para murid, tapi soal penghrapan meski pengharapan itu kecil seperti pintu yang terbuka pada kehadiran Tuhan.

Hal yang tidak bisa kita abaikan jika memakai pendekatan historis realistis ialah sebuah kisah dengan proses yang mengikutinya. Dalam kisah penyaliban dan kematian Yesus, Matius 27 : 51 menjelaskan tentang tirai Bait Allah yang terbelah menjadi dua (Dunia kudus dan profan). Ini semacam proklamasi bahwa ‘pintu’ batas yang dibuat manusia, telah dihancurkan Tuhan, Tuhan bisa masuk dalam semua area kehidupan manusia. Dalam Midras mazmur 91 : 1 dijelaskan bahwa Allah bisa masuk sampai ke dalam ‘seter’ (tempat rahasia) bukan hanya di Bait Suci tapi juga di ruang persembunyian umatNya.

Model pendekatan ‘historis relaistis’ kemudian menunjukkan bagi kita bahwa dibalik ketakutan para murid ada harapan kehadiran Tuhan. Pintu yang terkunci dipahami para murid sebagai ruang privat tapi jauh dibalik ketakutan itu terbuka ruang yang menjadi akses bagi kehadiran Tuhan yang dalam sejarah penyelamatan dan karyaNya bagi Israel telah menunjukkan kehadiranNya.

Sandra M. Schneiders menulis bukunya : Written That You May Believe menggunakan metode narativ terhadap teks Yohanes 20 dan mengatakan bahwa pintu terkunci bukan hanya suatu suasana ketakutan. Pintu itu adalah batas keberadaan manusia yang ditembusi oleh realitas kebangkitan. Sama seperti pengalaman iman dan seruan Talmud tentang pintu sebagai akses, disatu sisi menggsmbarkan realitas keterbatas manusia, namun di sisi lain menggambarkan realitas kehadiran Tuhan. Ia menyebut, kehadiran Yesus melalui pintu-pintu terkunci adalah tanda awal komunitas baru yang lahir dari Roh. Jika kita hanya menyebut sisi ketakutan para murid, maka kita belum secara utuh memahami Paskah. Paskah yang utuh ialah memahami keberadaan ketakutan manusia disatu sisi dan kebangkitan manusia di sisi lain karena Paskah ketakutan akhirnya berubah menjadi Paskah pengutusan.

Sekarang kita mencoba menelisik lebih jauh, bagaimana para murid secepat itu melepas ketakutan dan beralih pada sukacita? Yohanes membuat narasi historis. Yesus berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata : damai sejahtera bagi kamu. Inilah sentuhan fisik pertama : Suara. Manusia dalam kondisi ketakutan selalu ada ruang harapan melepas ketakutan. Dan dalam kondisi ini yang terpenting adalah suara, berita, sapaan. Dalam ketakutan, apakah kita terus hadir membawa orang dalam jurang kebinasaan? Gereja hadir dengan suara kebenaran, suara firman. Sama seperti Tuhan menyepa. Suara kita menentukan daya tahan untuk seseorang kokoh atau beroleh kekuatan meski dalam posisi yang tidak menguntungkan.

Suatu waktu, saya perbaiki listrik, saya mematikan meteran, istri saya karena tidak tahu menghidupkan meteran dan saya kesetrum. Saya terkejut dan berteriak aduh. Dia lari dekat saya dan berkata : aduh bapa, maaf. Sebenarnya dia datang dengan agenda penyesalan sekaligus takut. Lalu saya bilang : ya sudah, ko mama su kasih hidup meter na mau bilang apa lagi, su terjadi. Suasana ketakutan dan penyesalan berubah menjadi kegembiraan. Ini yang saya maksudkan dengan ruang menemukan harapan di balik ketakutan. Suara Yesus menginterupsi kegoncangan jiwa para murid. Pintu tertutup menjadi akses harapan. Suara yang biasa di dengar itu bukan hanya berdiri dan memibisu tetapi menyapa dan menenangkan. Selain suara, apa substansi suara yang hendak disampaikan. Tuhan berdiri dan berkata : damai sejahtera bagi kamu. Inilah sentuhan fisik kedua, selain suara, sekarang para murid terbawa dalam sentuhan pendengaran. Tuhan bukan hanya sekedar bersuara, Ia memastikan bahwa apa yang diucapkan memantulkan energi kekuatan bagi telinga yang mendengar. Kita tidak bisa menutupi fakta kalau kadang sentuhan fisik hanya sekedar sebuah sentuhan basa-basi karena orang tidak menemukan sesuatu dalam kata-kata kita yang membuat mereka yakin akan solusi dari persoalan yang mereka hadapi.

Beberapa teolog ternama tidak sepakat bahwa ucapan (eirene) hanya sekedar sapaan budaya sebagaimana relasi manusia dalam konteks waktu itu. Craig R. Koster (The Word of Life) mengatakan bahwa sapaan damai sejahtera memastikan tiga hal : pengampunan, penguatan dan persekutuan. Jadi ini bukan hanya tentang sentuhan fisik yang bersinggungan dengan pendengaran, tapi ini adalah sentuhan fisik yang menyimbolkan ketulusan hati Yesus. Paskah tidak lagi bergumam tentang soal masa lalu, Paskah soal kebangkitan bersama dimana semua yang gagal beroleh sentuhan penerimaan, semua yang mengambil posisi jauh dipanggil mendekat, semua telah melewati masa yang berat, sekarang fokuslah pada hari ini, pada pergumulan di depan mata, pada agenda Allah yang besar. Dalam banyak budaya seperti sentuhan fisik budaya sabu ‘cium hidung’ seringkali salah dipahami bahwa kalau sudah cium hidung berarti semua masalah selesai. Cium hidung adalah ekspresi ketulusan simbol penyatuan jiwa yang tidak bisa dikotori oleh kepalsuan.

Setelah itu Yohanes melanjutkan lagi, Tuhan Yesus bukan hanya bersuara dan membisikkan hatinya di telinga para murid. Ia lalu menunjukkan bekas-bekas luka itu. Ini adalah sentuhan fisik yang bersingggungan dengan mata. Allah mempertontonkan bekas luka bukan untuk meminta belas kasihan tetapi menunjukkan bahwa manusia bisa sembuh dari luka, dan dengan sentuhan fisik mata itu para murid mesti belajar melihat dengan peka terhadap orang-orang disekitar mereka agar mereka hadir sebagai penyembuh. Di akhir semua perjumpaan itu, Allah menghembusi mereka dengan Roh Kudus. Allah tahu bahwa sentuhan fisik bukan jaminan seseorang tersentuh secara bathin. Sebuah ciuman belum tentu mewakili hati, sebuah ucapan dan pendegaran bisa saja sebuah untaian basa-basi. Allah menghembusi Roh untuk memperlengkapi sentuhan fisik, hanya dengan Roh Kudus lah para murid memiliki suara yang baru, cara mendengar yang aru dan cara melihat yang baru. para hamba Tuhan siap atau tidak siap dalam melayani Tuhan harus terus mengalami transformasi Roh Kudus agar mereka tidak hanya hadir secara fisik tapi mereka mampu menyentuh sesama lewat ucapan, pendengaran dan mata mereka dengan sentuhan Kristus.

Pada bagian perjumpaan yang lain setelah delapan hari, Thomas yang tidak hadir saat perjumpaan pertama, bersikukuh untuk menolak kesaksian para murid tentang kehadira Yesus. Ia meminta sentuhan fisik sebagai bukti. Dan Yesus datang lagi dengan sentuhan suara, telinga dan mata. Pada saat itu Thomas tidak berani menyentuh bekas-bekas luka karena Yesus berdiri dan berbicara, telinga Thomas mendengar ucapan Yesus, dan Thomas melihat senidir bekas-bekas luka Yesus. Tnap menyentuh Thomas percaya.

David Bentley Hard dalam bukunya The Experience of God menulis : Thomas tidak menyentuh karena ada keterbukaan bathin. Bekas luka adalah bukti yang melampaui sentuhan. Dari mulut yang terlanjur mengatakan tidak percaya sekarang berkata ya Tuhanku dan Allahku. Apa maksudnya? Tidak ada yang lebih hebat dari arti sebuah kehadiran. Hidup bukan seberapa banyak sentuhan fisik, bukan berapa banyak ayah dan ibu membelai anak-anak, bukan berapa banyak pelukan dari sang kekasih, tetapi soal kualitas kehadiran. Kehadiran adalah puncak dari sentuhan fisik. Tuhan tidak harus dilihat tapi cukup menjadi sebuah pengakuan bahwa Ia hadir, ya Tuhan dan Allahku, itu sudah cukup untuk memperteguh iman kita bahwa Allah selalu hadir.

Suatu waktu kaka saya sakit. Kami berjarak karena tinggal di tempat yang jauh. Sakitnya makin berat, tapi bersikeras tidak mau masuk rumah sakit. Kami diberi kabar dan karena saya tidak cukup punya waktu sulit untuk mengunjunginya. Saya telepon video call, begitu dia lihat muka saya, dia langusng menangis. Saya bilang kami ada. Kaka masuk rumah sakit he. Dia bilang iya. Sentuhan fisik kami hanya melalui video call, tapi itu cukup meyakinkan dia bahwa dia tidak sendiri. Tuhan Maha Hadir meminta kita tidka berpaling dari rancanganNya apalagi menyangkali apa yang Ia rancang bagi kita. Ia mungkin tidak dilihat tapi sesungguhnya Ia melihat kita, kita tidak mendengar suaraNya tapi Ia mendengar keluhan kita, berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya. Kasih Allah melampaui sentuhan fisik sebab hatiNya benar-benar Ia persembhakan untuk kita. Amin.

 

Salam Ziarah Refleksi

Selamat Merayakan Bulan Budaya