KUPANG, 6 April 2026, https://sinodegmitkolportase.or.id, – Memaknai momentum Paskah tahun ini, Majelis Sinode GMIT melakukan terobosan iman dengan mengubah aset gereja menjadi pusat produktivitas riil. Tepat pada hari ini, Senin (6/4/2026), Wakil Presiden RI dijadwalkan meresmikan kawasan Agroeduwisata GMIT di Desa Mata Air sebagai simbol transformasi ekonomi jemaat.

Pengembangan kawasan ini bukan sekadar proyek pertanian, melainkan wujud "Diakonia Transformatif" yang lahir dari kolaborasi lintas sektor antara gereja, akademisi Politani Negeri Kupang, pemerintah, hingga Bank Indonesia dan Bulog NTT.

Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, menjelaskan bahwa proyek ini membawa pesan kuat mengenai relevansi iman di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Pada perayaan paskah, kita berbicara tentang aspek spiritualitas kebangkitan Kristus, tetapi kita juga berbicara tentang kebangkitan pertanian, perikanan, dan peternakan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang tidak menentu. Kita ingin mengirim pesan ini kepada dunia,” tegas Pdt. Lay Abdi K. Wenyi.

Senada dengan itu, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, menekankan bahwa kehadiran infrastruktur seperti damparit adalah bukti nyata pelayanan gereja kepada jemaatnya.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi kolaborasi menuju misi pelayanan diakonia transformatif bagi jemaat. Damparit yang dibangun merupakan keberpihakan atau wujud diakonia kepada jemaat untuk menjadikan pertanian sebagai penyanggah utama kehidupan,” ungkap Pdt. Semuel B. Pandie.

Di bawah pendampingan teknis P3M Politani Kupang, kawasan ini menerapkan praktik pertanian ilmiah seperti sistem tanam legowo dan pemupukan hayati ramah lingkungan. Hasilnya mulai terlihat pada lahan-lahan yang dikelola masyarakat:

·       Produksi Gabah: Kelompok Tani Sulamanda berhasil mencapai panen 9,3 ton gabah kering giling, dengan proyeksi mencapai 150 ton dalam tiga kali musim tanam.

·       Ketahanan Air: Damparit sepanjang 30 meter telah dibangun untuk mengatasi kendala irigasi saat musim kemarau sekaligus menjadi kolam pemancingan ikan nila hingga lele.

·       Peran Perempuan: Kelompok Wanita Tani (KWT) Cinta Kasih mengelola 30 are lahan untuk budi daya sayur-mayur seperti kangkung, sawi, dan bawang.

Lebih dari sekadar lahan sawah, Agroeduwisata Tarus diproyeksikan menjadi solusi bagi masalah sosial di NTT. Lokasi ini akan menjadi pemasok utama bagi program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Yayasan Alfa Omega, serta menjadi pusat edukasi bagi siswa SMA Kristen Tarus Tengah.

Peresmian oleh Wakil Presiden hari ini akan ditandai dengan panen simbolis dan pembukaan kolam pemancingan, menandai dimulainya era baru di mana gereja menjadi penggerak utama kedaulatan pangan dan penurunan angka stunting di daerah.*