Kupang, https://sinodegmitkolportase.or.id, Menghadapi
tantangan pendidikan yang kian kompleks, Majelis Sinode GMIT memperkuat sinergi
antara yayasan dan gereja untuk mengawal Peta Jalan (Road Map)
Pendidikan hasil Sidang Sinode Sabu. Hal ini ditegaskan melalui Rapat Kerja
Yapenkris pada Sabtu (20/12/2025).
Rapat
yang dilaksanakan secara online tersebut membahas Tata Kelola Guru, Kelembagaan
Yayasan, Keuangan Yayasan, dan Sekolah Unggul GMIT, Evaluasi, Sharing,
Diskusi Study Case dan praktik baik dari masing-masing Yapenkris.
Rapat tersebut dihadiri oleh Badan Pendidikan
Sinode GMIT, Ketua Pembina Yapenkris se-GMIT, Pengurus Yapenkris se-GMIT dan Satuan
Pelayanan BPP Pendidikan Sinode GMIT.
Ketua
Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie dalam suara gembalanya berbicara tentang
tantangan Pendidikan GMIT hari ini yang makin kompleks, ia berharap pelaku
Pendidikan GMIT tidak boleh kehilangan arah.
“Kami
berharap koordinasi, komunikasi dan sinergi antara Badan Pendidikan, Pembina
Yayasan, Pengurus Yayasan dan Sekolah harus berjalan dengan baik, saling
menopang untuk kemajuan Pendidikan GMIT,” kata Pdt. Semuel.
Ia
juga meminta agar kebijakan-kebijakan yang diambil membawa perubahan pada
Sekolah-sekolah GMIT.
Menurut Anggota Badan Pendidikan Sinode GMIT, Fredrik
Abia Kande, untuk menindaklanjuti Road Map Pendidikan yang telah diputuskan, memerlukan pengawalan berkelanjutan, terutama dalam
mewujudkan kemandirian sumber daya manusia dan tata kelola kelembagaan.
Kesadaran kolektif dari yayasan hingga jemaat sangat diperlukan untuk
secara bertahap mengatasi ketergantungan pada pemerintah, dengan target besar
berupa sentralisasi tata kelola guru pada tahun 2028. Fokus utama mencakup
penyiapan guru sebagai tenaga tetap yayasan yang didukung oleh jaminan
kesejahteraan, kesehatan, dan pensiun, serta pembenahan manajemen data
organisasi agar transisi kepengurusan berjalan lebih efektif dan akuntabel.
Pada sesi sharing praktik baik yang dilakukan
di Yayasan, Ketua Yapenkris Pingdoling Alor, menyampaikan upaya mewujudkan
kemandirian finansial dan pemerataan kualitas pendidikan dilakukan melalui
kebijakan subsidi silang, di mana sekolah menyepakati sentralisasi 10 persen
pendapatan—baik dari iuran komite maupun sumber lain—kepada pihak yayasan untuk
membantu sekolah di wilayah terpencil. Langkah strategis ini diperkuat melalui
kolaborasi dengan Mentari Group serta pendampingan oleh Universitas Tribuana
pada tahun 2026 guna mendorong SMP Kristen 2 Kalabahi menjadi sekolah unggul.
Selain itu, sekolah diinstruksikan untuk mengoptimalkan potensi lokal dengan
menjadi pemasok komoditas buah bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai
sumber pendapatan mandiri.
Diakhir rapat kerja tersebut, Ketua Badan
Pendidikan Sinode GMIT, Pdt. Norman menyampaikan usulan Program Pelayanan
Tahuan 2026 yang akan dibahas dan ditetapkan dalam Sidang Majelis Sinode GMIT
Tahun 2026. Ia juga berharap dukungan dari Yapenkris untuk mengurai sejumlah
persoalan demi Pendidikan GMIT yang lebih baik.
Rapat tersebut diawali dengan ibadah yang
dipimpin oleh Pdt. Janse Letmau, M.Th. ***