KUPANG, https://sinodegmitkolpportase.or.id, – "Keterlibatan gereja dalam kegiatan ini merupakan wujud nyata iman melalui kepedulian terhadap lingkungan," ujar Pendeta GMIT Betlehem Oesapa Barat, Maria Monalisa Dethan, di sela-sela aksi penanaman pohon matoa, Selasa (28/4/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Gereja Betlehem dalam mengimplementasikan konsep ekoteologi yang disinergikan dengan program Asta Protas Kementerian Agama RI. Maria menilai bahwa kolaborasi antara gereja dan pemerintah merupakan ruang strategis untuk menjalankan fungsi keagamaan yang berdampak langsung pada kelestarian alam bagi kehidupan umat.

Kegiatan yang berlangsung di area Gereja GMIT Betlehem Oesapa Barat ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT. Peserta aksi terdiri dari: Kepala Bagian Tata Usaha dan para Kepala Bidang Kanwil Kemenag NTT, Pembimbing/Pembimas serta Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota, Kepala Madrasah Aliyah, Kepala SMAK, dan SMTK se-Provinsi NTT.

Kehadiran berbagai elemen pendidikan dan struktural ini bertujuan untuk memperkuat peran lembaga keagamaan dalam menjaga ekosistem berbasis nilai-nilai spiritual.

Kepala Kanwil Kemenag Provinsi NTT, Fransiskus Kariyanto, menyatakan bahwa gerakan penanaman pohon ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari tanggung jawab etik dan moral setiap insan religius.

"Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya menjadi komitmen bersama, tetapi juga bagian dari upaya menghadirkan praktik kehidupan beragama yang berdampak," tegas Fransiskus.

Ia memberikan apresiasi khusus kepada pihak GMIT yang telah proaktif mendukung implementasi ekoteologi. Menurutnya, keterlibatan langsung gereja dalam menanam pohon matoa ini membuktikan bahwa nilai-nilai agama dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata yang menyentuh persoalan lingkungan hidup.

Penanaman pohon ini merupakan bagian dari penguatan program Asta Protas Kementerian Agama RI. Melalui gerakan ini, Kemenag NTT dan GMIT bersepakat untuk terus mendorong aksi pelestarian lingkungan secara konkret sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan melalui penjagaan terhadap alam ciptaan-Nya.