Pengantar
Saat
berbelanja di toko terkadang kita bertemu atau melihat orang buta yang duduk di
dekat pintu toko untuk berjualan; atau ketika di lampu merah kita bertemu
dengan orang lumpuh atau dengan kondisi kaki yang tidak normal tapi dengan
penuh semangat berjualan koran. Ini merupakan contoh pertemuan dengan kaum
disabilitas dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perjumpaan ini ada yang tergerak
hatinya untuk melakukan sesuatu yang baik kepada mereka; tetapi ada juga yang
bersikap acuh. Kaum disabilitas senantiasa ada di sekitar kita oleh karena itu kita
tidak bisa menutup mata atau bersikap tidak peduli dengan mereka.
Bicara
tentang kaum disabilitas, tema kita dalam khotbah ini adalah “Yesus untuk
orang-orang disabilitas”. Orang-orang dengan disabilitas itu misalnya mereka
yang buta, tuli, lumpuh, autis, dan lain sebagainya. Disabilitas sendiri didefinisikan
sebagai kondisi di mana orang yang mengalami keterbatasan jangka panjang pada
kondisi fisik, intelektual, mental, atau sensorik, yang menyebabkan hambatan
dalam berinteraksi dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat.
Tentang penyebab disabilitas, di
masa kini kita dapat menemukan ada banyak macam pandangan; bisa karena kurang
gizi, kecelakaan; kelainan genetic atau trauma saat kehamilan, kemiskinan
ekstrem yang menyebabkan kurangnya asupan gizi dan sebagainya. Pandangan ini
tentu berbeda dengan pandangan di massa lampau. Dulu disabilitas selalu
dihubungkan dengan dosa dan hukuman. Lahir lumpuh atau buta pasti karena dosa.
Pandangan ini menyebabkan kaum disabilitas mengalami tekanan ganda; yakni di
satu sisi tertekan dengan kondisinya tetapi di sisi lainnya semakin tertekan
karena stigma berdosa dan terkutuk.
Pandangan ini nampak juga di dalam
kisah perjumpaan Tuhan Yesus dengan seorang pengemis buta. Pertemuan ini
melahirkan pertanyaan para murid mengenai kaitan dosa pribadi atau keturunan
dengan seorang yang buta (disabilitas). Kebutaan dalam pandangan Yudaisme
dipandang sebagai suatu noda dalam kehidupan umat. Tidak heran jika para penyandang
disabilitas dikucilkan dalam kehidupan Masyarakat serta dipandang berdosa dan
terkutuk
Pemahaman
Teks
Narasi
Yohanes 9:1-12, menceritakan bahwa ketika Yesus dan murid-murid-Nya bertemu
dengan seorang yang buta sejak lahir (penyandang disabilitas), murid-murid
bertanya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang
tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Pertanyaan ini mewakili pola pikir
masyarakat pada masa itu. Pertanyaan ini telah menyisipkan penghakiman dan
stigma buruk. Seolah tidak ada kemungkinan penyebab yang lain dari keterbatasan
yang dimiliki orang buta ini.
Terhadap
pertanyaan ini Tuhan Yesus menjawab, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya,
tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”
(ay.1-3). Dalam jawaban ini, Tuhan Yesus mau mengeskan beberapa hal: Pertama,
Tuhan Yesus menegaskan bahwa kebutaan ini bukan akibat dosa seperti pandangan
masyarakat umum pada masa itu. Jawaban Tuhan Yesus ini mau mengarahkan para
murid dan juga Masyarakat untuk mengubah pola pikir mereka yang sangat sempit
itu. Jangan mudah menghakimi kaum disabilitas sebagai orang berdosa apalagi
terkutuk. Berhenti untuk membangun stigma buruk tentang kaum disabilitas;
jangan menambah beban mereka dengan stigma-stigma atau cap yang tidak berdasar
sehingga melemahkan jiwa mereka.
Kedua,
keterbatasan yang dimiliki kaum disabilitas tidak menjadi penghalang bagi Tuhan
untuk bekerja melalui mereka. Bukan hanya mereka yang menyebut dirinya normal
yang dipakai Tuhan melaksanakan pekerjaan-Nya; Para kaum disabilitas juga
dipakai Tuhan untuk menyatakan pekerjaan-Nya. Ini menunjukkan penghargaan
tetapi juga kesetaraan di hadapan Tuhan. Kaum disabilitas juga berharga di mata
Tuhan karena mereka pun diciptakan dalam
gambar dan rupa Allah.
Setelah
memberikan jawaban kepada para murid, Tuhan Yesus mengambil tindakan untuk
menyembuhkan orang buta ini. Hal menarik dalam proses penyembuhan ini, Tuhan
Yesus tidak hanya bersabda atau berkata-kata dan orang ini melihat; melainkan
ia meludah ke tanah, membuat lumpur dan mangabil serta mengoleskan pada mata
orang buta ini. Tindakan ini menunjukkan adanya kontak fisik antara Tuhan Yesus
dan orang buta. Ini dapat berarti bahwa Tuhan mau menunjukkan perhatian kepada
kaum disabilitas bukan sekedar dengan berkata-kata saja tetapi harus
ditunjukkan dalam perbuatan yang nyata untuk menolong kaum disabilitas.
Setelah
itu orang ini pun tidak langsung dapat melihat tetapi Tuhan menyuruhnya pergi
membasuh diri di Siloam. Perintah Tuhan kepada orang but aini memberikan pesan
kuat bahwa orang buta ini juga perlu dan bisa melakukan sesuatu agar ia dapat
melihat. Pesan ini begitu kuat; ia memang memiliki keterbatasan tetapi bukan
berarrti mengasihani diri dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tuhan melibatkannya
bukan karena Tuhan tidak bisa mencelikan matanya melainkan untuk menunjukkan
pada orang buta itu dan juga orang-orang di saat itu bahwa orang buta ini mampu
melakukan sesuatu untuk kehidupannya.
Aplikasi
Dari
bacaan ini ada banyak hal yang bisa dipetik. Kaum disabilitas bukanlah
orang-orang yang tidak bisa berbuat apa-apa; mereka juga bukan beban; bukan
manusia terkutuk atau objek bully; mereka Adalah sesama ciptaan Tuhan yang juga
adalah bagian dari Imago Dei (gambar Tuhan). Kaum disabilitas perlu
diperlakukan dengan hormat dan penghargaan seperti Tuhan memperlakukan orang
buta ini.
Gereja
perlu melihat kaum disabilitas sebagai bagian dari tubuh Kristus yang penting.
Keterbatasan mereka janganlah membuat mereka mengalami diskriminasi dalam
pelayanan gereja. Mereka perlu diberi ruang untuk juga gterlibat dalam
kehidupan bergereja; mereka juga memiliki potensi yang perlu diupayakan atau
dikembangkan. Dengan perhatian yang nyata dalam gereja maka Kaum disabilitas
mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam pekerjaan gereja. Dalam pelayanan
gereja, Kaum disabilitas menemukan bahwa Tuhan Yesus bukan hanya datang bagi
mereka yang disebut normal tetapi Kristus pun ada bagi kaum disabilitas, amin.